Breaking News:

Kebakaran di Lapas Tangerang

Wasekjen Partai Demokrat Dukung Pembangunan Infrastruktur dan Fasilitas Lapas

Jovan mengatakan rangkaian tragedi di sejumlah Lapas beberapa tahun terakhir ini tidak boleh berlanjut sampai terjadi tragedi yang lebih besar.

Editor: Hasanudin Aco
Istimewa
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang, Banten terbakar pada Rabu (8/9/2021) dini hari. Akibat kebakaran yang terjadi selama dua jam lebih itu, sedikitnya 41 orang tewas. Begini kondisi lapas setelah alami kebakaran hebat selama 2 jam lebih. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pemerintah melakukan evaluasi atas peristiwa kebakaran hebat yang melanda Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang yang menewaskan 41 narapidana beberapa waktu lalu.

Menanggapi evaluasi itu, Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Agust Jovan Latuconsina, Kamis (7/10/2021), mendukung pelaksanaan evaluasi total terhadap pengelolaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Indonesia.

Jovan mengatakan rangkaian tragedi di sejumlah Lapas beberapa tahun terakhir ini tidak boleh berlanjut sampai terjadi tragedi yang lebih besar.

"Tragedi Lapas Tangerang harus menjadi yang terakhir. Jika kita cek, telah terjadi 13 kali kebakaran Lapas selama tiga tahun terakhir, yang mana 10 di antaranya tergolong melebihi kapasitas (over-capacity),” kata Jovan yang juga mantan Komandan Batalyon Infanteri Raider 323 Kostrad (2017-2019) tersebut.

Baca juga: Satu Warga Binaan Korban Kebakaran Lapas Tangerang Masih Dirawat Intensif di Rumah Sakit

Jovan menggarisbawahi persoalan Lapas yang over-capacity itu bukanlah hal baru.

Menurut dia, Lapas Tangerang yang dibangun tahun 1972 itu misalnya  dibangun untuk kapasitas 900 narapidana.

Tapi sekarang harus menampung 2.072 orang narapidana.

“Pembangunan infrastruktur perlu menjawab kebutuhan sosial-kemasyarakatan. Persoalan Lapas kelebihan kapasitas ini bukan hal baru. Kita harus pikirkan bersama," tegas alumni Akademi Militer (2000) ini.

Selain persoalan infrastruktur, Jovan juga mendukung KemenkumHAM untuk segera mengevaluasi total problem fasilitas di dalam Lapas.

Ia mencontohkan banyak Lapas yang memiliki sistem kelistrikan yang cukup lama belum diperbaiki.

Akibatnya, lanjut Jovan, tragedi kebakaran akibat kerusakan sistem listrik terulang lagi.

“Kita tidak boleh mencari kambing hitam, apalagi menyalahkan Menkumham. Ini tanggung jawab kita bersama. Bukan hanya tanggung jawab Menkumham dan jajarannya saja. Ingat, di dalam Lapas itu ada nyawa manusia. Mereka dibina oleh negara dan ditunggu oleh keluarganya. Setiap nyawa warga Lapas yang dibina itu tetaplah berharga,” kata alumni Universitas Pertahanan dan Nanjing Army Command and General Staff College, China tersebut.

Ke depan, Jovan berpesan agar pemerintah betul-betul mengantisipasi perkembangan tren peningkatan kapasitas Lapas di masa mendatang, dengan membangun infrastruktur Lapas baru guna menjawab tantangan kapasitas, fasilitas, penegakan aturan, dan aspek-aspek lainnya yang terkait dengan penanganan para warga binaan.

“Beri mereka kesempatan untuk menjadi warga negara yang baik. Ini tanggung jawab kita semua,” pungkasnya.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved