Euforia Pertumbuhan Ekonomi 5,4 % , Kamrussamad Ingatkan Sri Mulyani Waspada Kuartal Selanjutnya

Dengan adanya keistimewaan di kuartal II, kuartal III belum tentu stabilitas perekonomian Indonesia bisa terjaga.

Istimewa
Ir.H.Kamrussamad S.T.,M.Si Anggota DPR RI Komisi XI, Fraksi Gerindra, Dapil Jakarta Utara, Jakarta Barat, Kep.Seribu. 

TRIBUNNEWS.COM - Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,44 persen di kuartal II secara tahunan atau year on year (yoy) patut disyukuri.

Namun demikian, Anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad mengingatkan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani untuk tidak euforia.

Anggota DPR RI Fraksi Parta Golkar itu pun merincikan persentase pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II.

"Pertumbuhan ekonomi kuartal II ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan ekspor. Sektor konsumsi tumbuh 5,51 persen dan berkontribusi 2,92 persen terhadap pertumbuhan ekonomi, sementara ekspor tumbuh 19,74% dan berkontribusi 2,14% pada pertumbuhan ekonomi," kata Kamrussamad dalam keterangan tertulis yang diterima Tribunnews.com, Senin (8/8/2022).

Namun, Kamrussamad mengingatkan adanya kondisi khusus di kuartal II yang mampu mendompleng pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Tapi yang perlu diingat, di kuartal II kita punya "keistimewaan", momen Ramadhan dan Idul Fitri yang menggenjot konsumsi rumah tangga, dan windfall harga komoditas yang menopang pertumbuhan ekspor," jelasnya.

Dengan adanya keistimewaan tersebut, lanjut Kamrussamad, kuartal III belum tentu stabilitas perekonomian Indonesia bisa terjaga.

"Dan itu semua belum tentu ada di kuartal III. Justru di kuartal III, ancaman semakin jelas" terangnya.

Baca juga: Ancaman Krisis dari AS, China, Rusia-Ukraina, Kamrussamad: KSSK Harus Siapkan Roadmap yang Jelas

Adapun ancaman yang dimaksudkan Kamrussamad adalah faktor dari luar negeri yang belakangan terjadi.

"Mulai dari krisis AS, pelemahan ekonomi China, konflik Ukraina-Rusia yang eskalatif, serta ketegangan di Laut China Selatan," terang Kamrussamad.

Kondisi-kondisi tersebut, kata Kamrussamad dapat memberikan ancaman bagi pertumbuhan ekonomi di kuartal III.

Satu-satunya cara untuk menjaga pertumbuhan ekonomi adalah menekan laju inflasi.

"Di tengah ketidakpastian tersebut, yang pasti agar kuartal III pertumbuhan ekonomi terjaga adalah dengan menekan laju inflasi."

"Dengan menekan inflasi, maka daya beli masyarakat bisa dipertahankan. Kalau daya beli bertahan, maka kita masih bisa mengandalkan konsumsi rumah tangga di kuartal III," imbuhnya.

Baca juga: Analis: Pertumbuhan Ekonomi RI Tembus 5,4 Persen Tak Lepas dari Kebijakan Subsidi dan Bansos 

Maka dari itu, alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk subsidi BBM dan energi harus dijaga.

"Karena itu, APBN harus dijaga untuk memastikan subsidi kepada masyarakat terutama untuk BBM dan Energi tidak terganggu. Apalagi di tengah kebijakan BI yang belum menaikan suku bunga acuan, meski the Fed sudah menaikkan beberapa kali," pungkasnya.

Baca juga: Harga BBM Subsidi Stabil, Anggota Komisi XI DPR Puji Jokowi Berpihak pada Rakyat

(*)

Sumber: TribunSolo.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved