Sempat Turun Akibat Covid-19, Imunisasi Anak Kini Mulai Digenjot

Program BIAN merupakan pemberian imunisasi tambahan campak-rubella, serta melengkapi dosis imunisasi polio dan DPT-HB-Hib yang terlewat.

mom.com
Ilustrasi. Program BIAN merupakan pemberian imunisasi tambahan campak-rubella, serta melengkapi dosis imunisasi polio dan DPT-HB-Hib yang terlewat. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Seno Tri Sulistiyono

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) sebagai lead holding IDSurvey mendukung Program Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang sempat menurun secara signifikan akibat pandemi Covid-19.

Dalam hal ini, BKI melaksanakan pencanangan BIAN bagi 500 balita di daerah Jakarta Utara dan sekitarnya.

Direktur Utama PT BKI Rudiyanto mengatakan, sesuai saran Menteri BUMN Erick Thohir kepada seluruh perusahaan pelat merah untuk mengimplementasikan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT kepada masyarakat di sekitar kantor.

"Bagi kami program BIAN Kemenkes sangat bagus untuk membantu keluarga di sekitar kantor BKI,” ujar Rudiyanto yang ditulis Rabu (31/8/2022).

Program BIAN merupakan pemberian imunisasi tambahan campak-rubella, serta melengkapi dosis imunisasi polio dan DPT-HB-Hib yang terlewat.

"Program ini diwujudkan sebagai upaya menutup kesenjangan imunitas anak dengan melakukan harmonisasi kegiatan imunisasi tambahan (campak-rubella) dan imunisasi kejar (OPV, IPV, dan DPT-HB-Hib)," paparnya.

Program BIAN terbagi menjadi dua tahap, pertama diselenggarakan pada Mei 2022 dengan wilayah pelaksanaan di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Pada tahap kedua, BIAN dilaksanakan pada Agustus 2022 dengan wilayah pelaksanaan di Pulau Jawa dan Provinsi Bali.

IDSurvey merupakan Holding BUMN Jasa Survey, yang terdiri dari PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero), PT Sucofindo dan PT Surveyor Indonesia.

Kejar Ketertinggalan

Kementerian Kesehatan saat ini tengah mengejar cakupan imunisasi yang tertinggal lewat Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN).

Awal pandemi Covid-19, cakupan imunisasi pada anak sangat menurun. Bahkan tidak mencapai target yang ditentukan.

Berdasarkan data rutin terbaru Kementerian Kesehatan RI, cakupan faktor dasar lengkap memang telah menurun secara signifikan sejak awal pandemi Covid-19. Yaitu dari 84,2 persen pada 2020, menjadi 79,6 persen pada tahun 2021.

"Imunisasi saat anak ini memang agak tertunda. Sehingga cakupan kita sangat kurang. Untuk itu setelah Covid-19 mulai mereda, kita kejar vaksin dasar dan wajib bagi anak-anak," ungkap Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI Mohammad Syahril lewat talkshow virtual, Senin (8/8/2022).

Syahril pun menjelaskan jika sebenarnya pemerintah telah membuat dua tahapan untuk mengejar cakupan imunisasi dasar yang telah tertinggal.

"Ada hal yang dua dilakukan pada BIAN. Yaitu imunisasi kejar dan tambahan. Kalau imunisasi kejar adalah pemberian vaksin pada yang belum menerima sesuai usianya antara usia 12-59 bulan. Atau yang belum lengkap," papar Syahril.

Misalnya untuk Polio Oral sebanyak 4 kali, Polio Suntik sebanyak 1 kali, dan DPT-Hb-Hib (Pentabio) sebanyak 3 kali.

Sedangkan untuk imunisasi tambahan seperti vaksin campak rubella tanpa memandang status latihan. Imunisasi ini menyasar pada usia 9-59 bulan.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved