Konflik Rusia Vs Ukraina
Dampak Strategi Perang Media dan Teknologi Lebih Destruktif bagi Rusia dan Ukraina
Bentuk perang dengan strategi abstrak menggunakan aliansi dan aplikasi teknologi memiliki dampak yang lebih destruktif.
Laporan Wartawan Tribunnews, Larasati Dyah Utami
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Staf Komando Armada RI, Laksda TNI Didong Rio menyebut dampak perang media yang dilakukan pihak Rusia dan Ukraina menyebabkan kesimpangsiuran informasi.
Bentuk perang dengan strategi abstrak menggunakan aliansi dan aplikasi teknologi memiliki dampak yang lebih destruktif.
Hal ini ia sampaikan dalam webinar bertajuk 'Setahun Perang Rusia-Ukraina; Pembelajaran bagi Operasi Udara dan Laut TNI', Rabu (15/3/2023).
Sebagaimana diketahui, kedua belah pihak banyak kehilangan armada perang, baik kendaraan infantri, tank, artileri, pesawat, dan juga kapal.
Ada banyak versi yang salah satunya dalam laporan Army Technology mengatakan Rusia kehilangan 12 kapal dan Ukraina kehilangan 23 kapal.
Peristiwa tenggelamnya kapal cruiser Rusia merupakan kehilangan sejak Perang Dunia II yang ketiga kali bagi Rusia, yang peristiwanya terjadi pada malam hari tanggal 13 April dan tenggelam esok harinya tanggal 14 April namun kabar ini juga masih simpang siur.
Baca juga: Digempur Rusia, Tentara Ukraina di Medan Perang Alami Penyusutan Drastis
"Pelajaran yang penting yang kita ambil disitu adalah, ada perang media. Bahkan pihak Turki sendiri mengatakan melaksanakan rescue tapi tidak mau diberitakan, karena ada kekhawatiran terlibat membantu salah satu pihak. Padahal mereka jualan senjata pada Ukraina, tapi mereka melakukan evakuasi kepada para pelaut dari kapal Moskwa, Rusia," ujarnya.
Media dan teknologi memiliki peran yang besar, bukan hanya menyimpangsiurkan kejadian yang sebenarnya, tapi juga memelihara mentalitas dari para prajurit di lapangan.
Misalnya saja pihak Rusia mengatakan telah menenggelamkan kapal Ukraina, namun Ukraina menyebut hal itu sebagai kesengajaan yang tujuannya agar pihak Rusia tidak mengambil alih armada.
Contoh lainnya dalam hal penggunaan teknologi, prajurit di Ukraina menggunakan teknologi cloud agar dengan cepat mengendalikan drone-drone yang baru saja didatangkan dari Turki.
"Aneh. Tapi ternyata disitu menggunakan teknologi cloud. Karena posisi geografis sudah didapatkan, kemudian pengendalian data-data di cloud, sehingga secara cepat drone tersebut bisa dikendalikan Ukraina. Bahkan dibantu oleh aspek ketiga, yaitu kecerdasan buatan (AI)," kata Laksa Didong.
Melalui data di media atau sumber terbuka di internet, akses data yang mudah didapatkan tersebut dapat digunakan untuk menyerang.
"Nampak sekali, ini merupakan bentuk perang dengan strategi dalam perang abstrak menggunakan aliansi atau sekutu, dengan aplikasi teknologi yang luar biasa destruktif," lanjutnya.
Laksda Didong mengatakan strategi perang modern membuat medan pertempuran dapat berpindah-pindah, tidak dapat diprediksi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ugc-isfahan.jpg)