Idul Fitri 2023
Contoh Khutbah Idul Fitri 2023: Idul Fitri adalah Hari Raya Fitrah
Berikut in contoh khutbah Idul Fitri 1444 H/2023 yang bertema 'Idul Fitri Adalah Hari Raya Fitrah', beserta link PDFnya
Karena berpandangan pendek (‘ajilah), manusia lebih mudah tergoda pada keuntungan yang bersifat segera atau sesaat, dan tidak melihat akibat perbuatannya itu dalam jangka panjang. Dalam kehidupan sehari hari, banyak contoh konkrit betapa manusia itu lebih mudah tergoda pada kesenangan sesaat; ada yang mengurangi timbangan demi keuntungan dagang, ada yang menyalahgunakan jabatan demi menumpuk harta, ada yang merekayasa cerita (hoaks) untuk menyingkirkan saingan, bahkan ada yang menjual diri dan kehormatan demi iming-iming jabatan. Semua trik manipulasi dan tipuan dilakukan untuk keuntungan yang bersifat segera walau buruk akibatnya dalam jangka panjang. Begitulah hakikatnya dosa, sesuatu yang dalam jangka pendek membawa kesenangan, tapi dalam jangka panjang membawa kehancuran. Jadi, kelemahan manusia adalah berpikiran pendek, lalu karena itu ia mudah tergoda. faktor inilah yang seringkali menjerumuskan manusia ke dalam dosa.
Baca juga: Niat Sholat Idul Fitri 2023/1444 H sebagai Imam atau Makmum, Lengkap Tulisan Arab, Latin dan Artinya
Jama’ah Id yang dimuliakan Allah,
Kita lahir dalam fitrah. Berarti kita hidup dalam kesucian. Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang suci. Ini bisa dilihat bagaimana islam mengajarkan bahwa jika anak meninggal sebelum akil baligh, maka dia masuk surga, karena masih dalam kesucian. Akan tetapi karena kita itu mudah tergoda, sehingga sedikit demi sedikit, diri kita menumpuk debu-debu dosa, dan membuat hati kita menjadi gelap.
Semakin sering melakukan dosa, semakin gelaplah hati kita. Dan pada titik tertentu, dosa itu dianggap sebagai hal biasa saja. Bahkan dosa dapat dianggapnya sebagai kebajikan. Problem terbesar dalam masyarakat adalah menghadapi orang yang seperti ini, yaitu orang-orang yang perilakunya buruk, akan tetapi justru merasa berbuat baik. Dalam al-Qur’an banyak sekali dilukiskan antara lain dalam surah al-Kahfi :
“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya,’ (QS. Al- Kahfi:103-104).
Dalam surah al-A’raf Allah menggambarkan keadaan mereka itu:
Manusia diciptakan dalam kodrat yang lemah (QS, an-Nisa: 28).
'Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mempunyai mata (tetapi) tidak digunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah).'
Pada stadium ini, manusia telah benar-benar kehilangan kehormatannya hingga derajatnya jatuh serendah-rendahnya (asfala safilin). Bahkan al-Qur’an menggambarkan mereka itu seperti
binatang ternak.
أولِئَك َكالْْنَعاِمَبْل ُهْمأ َضُّلۚأولِئَك ُهُمالغَاِفلوَن
'Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lalai.'
Kalau kita sampai pada stadium ini, maka sungguh ini adalah suatu malapetaka besar. Wal ‘iyazu billah tsumma na’uzubillah.
Itulah yang disebut “Kematian Nurani”, yaitu suatu kondisi dimana mata, telinga, dan hati telah terkunci. Nurani adalah ungkapan dari Bahasa arab, yang berasal dari akar kata yang sama dengan “nur” artinya cahaya, atau “nar” juga “niyraan”, artinya api. Api dan cahaya, meskipun keduanya dapat dibedakan namun hakikat keduanya adalah suatu kontinum, dimana api menimbulkan cahaya. Nurani adalah ungkapan untuk hati yang dipenuhi dengan cahaya kebenaran. Karena itu ada istilah “hati nurani” yaitu hati yang bercahaya yang membimbing manusia untuk tetap berada pada rel kebenaran. Ketika nurani mati, artinya hati tidak lagi dipenuhi cahaya, maka yang terjadi adalah kegelapan atau zulumaatun. Inilah yang membuat kita tidak melihat perbuatan buruk itu sebagai buruk, bahkan menganggapnya baik.
Apa yang membuat nurani mati, tidak lain adalah dosa. Dalam Bahasa arab dosa disebut zulmun, berasal dari akar kata yang sama dengan “zulumaatun” artinya kegelapan. Maka dosa hakikatnya adalah perbuatan yang bertentangan dengan hati nurani, mematikan cahaya hati, lalu menyebabkan kegelapan. Semakin banyak dosa semakin gelaplah hati kita. Penjelasan ini parallel dengan hadits rasulullah saw. :
'Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan perbuatan dosa akan menyebabkan noda hitam di hatinya.' [HR. Ibnu Mâjah, dan Tirmidzi]
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-khutbah-18.jpg)