Rabu, 8 April 2026

Bahlil Akui Kebijakan Hilirisasi Perlu Dibenahi, Tapi Tak Boleh Disetop

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menyadari masih ada beberapa hal yang perlu dibenahi dari aturan kebijakan hilirisasi. 

Penulis: Danang Triatmojo
Editor: Wahyu Aji
Tribunnews.com/Danang Triatmojo
Diskusi di Media Center Indonesia Maju, di Menteng, Jakarta, Senin (11/12/2023).  

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Danang Triatmojo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyadari masih ada beberapa hal yang perlu dibenahi dari aturan kebijakan hilirisasi

Dirinya memaklumi jika ada kekurangan karena kebijakan hilirisasi di Indonesia baru dimulai belum lama ini.

Kendati demikian, Bahlil menegaskan bahwa hilirisasi tak boleh disetop.

“Masih ada kekurangan dalam hilirisasi, setuju. Ini baru berapa tahun kok kita bangun, baru 4 sampai 5 tahun dalam rangka mewujudkan undang-undang. Yang namanya kita kayak bayi baru 5 tahun, jatuh bangun itu biasa lah," kata Bahlil dalam diskusi Media Center Indonesia Maju, di Menteng, Jakarta, Senin (11/12/2023). 

Narasumber lainnya, CEO Bisa Ekspor, Julio Ekspor mengatakan bahwa generasi muda bisa mengantongi Rp200 juta per bulan jika serius menggeluti hilirisasi

Konsep hilirisasi sendiri menjelaskan seputar proses atau strategi suatu negara untuk meningkatkan nilai tambah dari komoditas yang dimiliki. 

Istilah ini disebut oleh pemerintah sebagai cara paling ampuh mewujudkan Indonesia maju, karena menghindari kegiatan ekspor barang mentah (raw material) yang dinilai kurang memberikan keuntungan. 

Namun ia menyayangkan banyaknya anak muda yang berpikir bahwa kebijakan hiliridasi hanya proyek besar pemerintah atau hanya bisa dilakukan para elite. 

"Padahal, hilirisasi konsepnya sangat sederhana dan bagian dari keseharian yang kita hadapi," kata Julio.

Julio pun menceritakan bagaimana ia melakukan hilirisasi dari serabut dan batok kelapa yang tidak banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. 

Ia memulai aktivitas bisnisnya dari menawarkan arang yang dibuat sendiri dari batok kelapa kepada tukang sate. Lambat laun, dia menyadari bahwa menjual arang ternyata tidak memberikan keuntungan besar. 

Setelah berselancar di internet untuk mencari nilai tambah dari batok kelapa, Julio memberanikan diri untuk membuat briket. Dia pun memanfaatkan platform media sosial, seperti Facebook hingga LinkedIn, untuk memasarkan produk buatannya kepada perusahaan asing. 

“Dari sana aku berkembang sampai punya pabrik. Lalu aku punya pemikiran kalau ini (hilirisasi) gak boleh diadopsi aku sendiri. Akhirnya aku melakukan edukasi di masyarakat," ujar Julio.

Ia menerangkan selain memberi nilai tambah secara ekonomis, hilirisasi juga bisa memperkuat daya tahan sosial masyarakat. Oleh karenanya, Julio mendorong pemerintah untuk meramu kebijakan hilirasasi yang ramah bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM.

Baca juga: Jokowi Ngotot Lanjutkan Hilirisasi, Bagaimana Sikap Capres Anies dan Prabowo Serta Ganjar?

"Paradigma terjajah itu masih melekat di daerah dan anak muda, sehingga mereka hanya kepikiran untuk tanam dan jual, karena memang menjual barang mentah lebih mudah daripada barang jadi. Dengan hilirisasi, misal ada orang asing masuk, mereka bisa menolak (mengekspor barang mentah), mereka bisa lebih resisten," tutur Julio.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved