Sekolah Rakyat
Ini Syarat Masuk Sekolah Rakyat: Dari Keluarga Miskin, IQ 80 dan Tidak Punya Penyakit Menular
siswa dengan intelligence quotient (IQ) 80 pun berpeluang diterima asalkan memenuhi persyaratan sebagai keluarga miskin ekstrem atau miskin.
Editor:
willy Widianto
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial RI, Agus Zainal Arifin menegaskan bahwa penerimaan siswa dalam program Sekolah Rakyat haruslah berasal dari keluarga miskin ekstrem dan miskin.
Baca juga: Prabowo Targetkan 200 Sekolah Rakyat, Sebanyak 63 Lokasi Beroperasi Juli Ini
"Perlu saya sampaikan, murid yang harus belajar di sini (Sekolah Rakyat), hanya dibatasi bagi keluarga miskin ekstrem dan miskin atau kalau pada DTSEN (Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional) dipilih desil yang ke satu dan kedua. Kalau bisa (diprioritaskan desil ke satu) kalau masih ada slot maka desil yang kedua," ujar Agus Zainal saat audiensi dengan Komisi X DPR-RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (19/5/2025).
Agus Zainal mengungkapkan kalau penerimaan calon siswa tidak diukur berdasarkan kecerdasan akademik. Ia menjelaskan bahwa program sekolah gratis yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto ini hanya mempertimbangkan validitas administrasi (dokumen) dan status ekonomi keluarga yang anak-anaknya sangat membutuhkan akses pendidikan.
Jadi, kata Agus, siswa dengan intelligence quotient (IQ) 80 pun berpeluang diterima asalkan memenuhi persyaratan sebagai keluarga miskin ekstrem atau miskin.
“Seleksinya diutamakan hanya pada administrasi saja. Tidak pada kecerdasan atau kemampuan akademik. Termasuk kalau mungkin IQ-nya misalnya 80 pun tidak masalah,” tegasnya.
Namun, pengecualian diberikan bagi calon siswa yang memiliki penyakit menular.“Mungkin seleksi yang agak beda sedikit adalah tentang kesehatan, karena memang jangan sampai ada yang punya penyakit menular kemudian sekolah disini, bukan ditolak, tetapi menurut Presiden Prabowo agar diberikan perawatan. Kerjasama dengan Kementerian Kesehatan,” katanya.
Lebih lanjut, Agus Zainal mengatakan bahwa tenaga pendidik di Sekolah Rakyat adalah guru berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN). "Guru-gurunya rencananya adalah penugasan guru ASN. Kemudian kalau tidak cukup di suatu daerah, maka ada penugasan guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang penuh waktu, juga kemudian paruh waktu dan terakhir seleksi dari lulusan PPG (Pendidikan Profesi Guru) calon guru," ujarnya.
Baca juga: Sekolah Rakyat akan Mulai Beroperasi Juli 2025, Biaya Hidup Siswa Ditanggung Negara
Pemerintah, kata Agus, berencana membangun Sekolah Rakyat di setiap kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Sebanyak 63 titik Sekolah Rakyat akan mulai beroperasi pada Juli 2025.
Adapun 63 titik itu tersebar di berbagai wilayah seperti Sumatera (13 titik), Jawa (34 titik), Kalimantan (2 titik), Sulawesi (8 titik), Bali dan Nusa Tenggara Timur (3 titik), Maluku (2 titik), dan Papua (1 titik).
Agus mengatakan bahwa berdasarkan arahan dari Presiden Prabowo Subianto, sebanyak 200 Sekolah Rakyat akan dibangun secara bertahap. Sebanyak 100 diantaranya didanai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan dukungan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR), sementara 100 sekolah lainnya merupakan hasil kolaborasi dan dukungan dari pihak swasta yang dikoordinasi oleh Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (Kemen BUMN).
Pemerintah, kata Agus, menargetkan pembangunan minimal 100 Sekolah Rakyat setiap tahunnya demi mewujudkan target satu sekolah di setiap kabupaten/kota. Sampai saat ini, kata Agus, sebanyak 7.700 calon peserta didik telah mendaftar di Sekolah Rakyat.
Proses selanjutnya yaitu Kepala Daerah akan menetapkan siapa saja yang lolos sebagai calon siswa. Calon siswa yang lolos seleksi administrasi dan verifikasi status ekonomi akan mengikuti tes kesehatan pada 21 Mei 2025 mendatang.
Baca juga: Sekolah Rakyat Mulai Beroperasi Juli 2025, Wamensos: Siap Lahirkan Generasi Emas
Setelah tes kesehatan, pada 22 hingga 24 Mei 2025 akan ada kunjungan ke rumah calon peserta didik (home visit) serta wawancara. Tim home visit yang akan datang merupakan perwakilan dari Kementerian Sosial (Kemensos), Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Tujuan dilakukan home visit adalah untuk memastikan bahwa calon peserta didik yang berasal dari golongan desil 1 (keluarga dengan kondisi ekonomi paling rendah) benar-benar layak dan membutuhkan bantuan pendidikan ini.
Hal ini juga untuk mencegah adanya praktik "titipan" atau pendaftar yang tidak memenuhi kriteria ekonomi. “Kemudian pada saat wawancara nanti juga akan dipastikan mereka dapat menempuh pendidikan ini karena mereka harus mendapatkan izin dari orang tuanya masing-masing untuk tinggal di asrama. Meskipun demikian, orang tua juga dipersilakan kalau akan mengunjungi anaknya di asrama tersebut kapan saja,” katanya.
Baca juga: Rakor Lintas Kementerian Bahas Kesiapan Rekrutmen Guru Sekolah Rakyat & Sistem Perlindungan Anak
Pengumuman resmi mengenai daftar peserta didik yang dinyatakan diterima dalam program ini akan disampaikan pada tanggal 28 Mei 2025. Peserta didik yang dinyatakan diterima akan melakukan registrasi ulang dan akan dipanggil untuk memulai program pendidikan pada tanggal 14 Juli 2025. (Grace Sanny Vania)
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya
A member of

Follow our mission at www.esgpositiveimpactconsortium.asia
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.