Minggu, 3 Mei 2026

Mengenal Malam 1 Suro, Berikut Sejarah, Tradisi, dan Waktu Pelaksanaannya

Tradisi malam 1 Suro ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali, berikut sejarah dan tradisinya, simak juga kapan waktu pelaksanaannya.

Tayang:

TRIBUNNEWS.COM - Malam 1 Suro merupakan momen penting dalam penanggalan Jawa.

Bulan Suro dalam kalender Jawa ini bertepatan dengan bulan Muharram dalam penanggalan hijriyah.

Berdasarkan kalender hijriyah dari kemenag.go.id, tahun ini bulan Suro jatuh pada bulan Juni 2025, tepatnya mulai 27 Juni 2025.

Kapan Waktu Pelaksanaan Tradisi Malam 1 Suro?

Jika tanggal 1 Suro jatuh pada Jumat (27/6/2025), maka malam 1 suro berlangsung pada Kamis (26/6/2025).

Tradisi malam 1 Suro ini umumnya dilaksanakan oleh masyarakat Jawa.

Baca juga: 1 Suro 2025 Jatuh pada Jumat Kliwon, Ini Kalender Juni Versi Kemenag

Sejarah Tradisi Malam 1 Suro

Tradisi malam Satu Suro menjadi sebuah momen sakral yang masih dipercaya masyarakat Jawa, terutama di daerah Yogyakarta dan Surakarta.

Tanggal satu Suro merupakan penanda tahun baru di penanggalan Jawa, yang bertepatan juga dengan tanggal satu Muharram di kalender Hijriyah (tahun baru Islam). 

Pada malam 1 Suro, umumnya akan diselenggarakan tradisi khusus untuk menyambut tahun baru,

Mengutip dari ambarrukmo.com, awal mula tradisi Satu Suro ini terjadi pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram Islam.

Suro dalam penanggalan Jawa dapat diartikan dengan bulan yang suci serta menyimpan energi spiritual yang tinggi. 

Seluruh masyarakat Jawa yang masih mempercayai tradisi Kejawen pada malam 1 suro yang diharapkan untuk melakukan introspeksi diri serta memanjatkan doa untuk satu tahun berikutnya.

Baca juga: Kalender Jawa Juni 2025, Tanggal Tiba Malam 1 Suro, Weton, Pasaran, Wuku dan Neptu

Penanggalan ini, berdasarkan sejarahnya, disusun oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma merupakan raja ketiga (1613–1645) dari Kerajaan Mataram Islam.

Ia menciptakan penanggalan Jawa yang juga terdapat unsur kalender Islam di dalamnya.

Proses penyatuan kalender Jawa dan Islam ini terjadi pada Jumat Legi, Jumadil Akhir tahun 1555 Saka atau 8 Juli 1633 Masehi.

Pada saat proses penyusunan kalender Jawa atau populer juga dengan sebutan kalender Sultan Agungan, beliau ingin membuat satu waktu dimana seluruh rakyat dari berbagai kalangan untuk mensucikan diri dari segala hal buruk dan introspeksi atas berbagai hal yang terjadi sebelumnya. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved