Kamis, 16 April 2026

Setahun Pemerintahan Prabowo dan Gibran

Setahun Pemerintahan Prabowo, Mentan Dinilai Mampu Wujudkan Swasembada Pangan

SPIN menempatkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pada peringkat kedua sebagai menteri berkinerja terbaik di Kabinet Indonesia Maju.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Wahyu Aji
dok. Kementan
Menteri Pertanian - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (kiri) mendampingi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto (kanan). SPIN menempatkan Andi Amran Sulaiman pada peringkat kedua sebagai menteri berkinerja terbaik di Kabinet Indonesia Maju. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Survei terbaru Strategic and Political Insight Network (SPIN) menempatkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pada peringkat kedua sebagai menteri berkinerja terbaik di Kabinet Indonesia Maju.

Amran mendapatkan tingkat apresiasi publik mencapai 67,3 persen.

Hasil survei menempatkan Amran di klaster menteri berkinerja terbaik, hanya terpaut tipis dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’thi yang berada di posisi pertama dengan 67,5 persen.

Direktur Eksekutif SPIN Mawardin Sidik menjelaskan bahwa klaster menteri berkinerja tinggi ini terdiri dari mereka yang berhasil menjalankan program prioritas secara nyata dan komunikatif.

"Kepuasan responden terhadap kinerja Kementerian Pertanian di angka 71,5 persen. Ini karena banyak hal yang sudah dilakukan Kementerian Pertanian berkaitan dengan pangan yang memang diturunkan oleh program pemerintah,” ujar Agustina melalui keterangan tertulis, Senin (19/10/2025).

Survei SPIN dilakukan terhadap 1.600 responden di 38 provinsi pada 1–9 Oktober 2025 menggunakan metode multistage random sampling, dengan margin of error ±2,45 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. 

Dari sisi capaian faktual, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada September 2025 mencapai 124,36, tertinggi dalam lima tahun terakhir. 

Angka ini menunjukkan peningkatan daya beli dan kesejahteraan petani di seluruh Indonesia.

Sementara itu, stok beras nasional mencapai 4,2 juta ton, tertinggi sejak Bulog berdiri, yang turut mendorong terjadinya deflasi beras 0,13 persen pada September 2025, yakni pertama kalinya dalam lima tahun terakhir.

Sebagai informasi, produksi beras nasional tahun 2025 menunjukkan lonjakan signifikan dan mendekati proyeksi lembaga internasional seperti Food and Agriculture Organization (FAO) dan United States Department of Agriculture (USDA).

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Lilik Sutiarso, menilai tren tersebut menunjukkan bahwa target swasembada pangan 2025 sudah di depan mata.

"Target swasembada pangan yang semula empat tahun kini dipercepat menjadi satu tahun oleh pemerintah. Produktivitas pertanian meningkat dan dukungan infrastruktur sudah menyeluruh," kata Prof. Lilik.

BPS memperkirakan produksi beras Januari–November 2025 mencapai 33,19 juta ton, naik 12,62 persen dibanding periode yang sama tahun 2024 (29,47 juta ton). 

USDA menyebutkan bahwa produksi beras Indonesia diperkirakan mencapai 34,6 juta ton pada tahun ini, sedangkan FAO memprediksi capaian mencapai 35,6 juta ton pada masa tanam 2025/2026.

Baca juga: GP Ansor Dukung Mentan Amran Wujudkan Swasembada dan Perangi Mafia Pangan

Angka produksi Januari–November 2025 ini tidak hanya melampaui capaian tahun sebelumnya, tetapi juga menjadi yang tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Sebelumnya, capaian produksi tertinggi tercatat pada tahun 2022 sebesar 31,54 juta ton.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved