Minggu, 10 Mei 2026

Romo Mudji Sutrisno Meninggal

Hasto PDIP Ungkap Romo Mudji Pernah Berperan dalam Gerakan Moral Kudatuli 1996

Hasto mengatakan, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri telah mengetahui kabar meninggalnya Mudji. 

Tayang:
Tribunnews.com/Fersianus Waku
ROMO MUDJI SUTRISNO - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, saat melayat di Kapel Katolik Kanisius, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (29/12/2025). (Fersianus Waku) 

Ringkasan Berita:
  • Hasto Kristiyanto, Sekjen PDIP, mengenang mendiang Romo Mudji Sutrisno sebagai pemikir kritis.
  • Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri telah mengetahui kabar wafatnya Mudji.
  • Hasto mengingat peran Mudji dalam peristiwa Kudatuli 27 Juli 1996, di mana ia ikut membantu gerakan moral melawan rezim otoriter.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, mengenang mendiang Romo Mudji Sutrisno sebagai pemikir yang kritis. 

Hasto mengatakan, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri telah mengetahui kabar meninggalnya Mudji. 

Ia mengenang peristiwa kerusuhan dua puluh tujuh juli (pada 27 Juli 1996) atau yang disebut Kudatuli di Kantor DPP PDIP

Kudatuli adalah singkatan dari Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli, yaitu peristiwa politik pada 27 Juli 1996 ketika kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro, Jakarta, diserang oleh aparat dan kelompok tertentu untuk menggulingkan kepemimpinan Megawati Soekarnoputri.

Peristiwa ini menimbulkan kerusuhan besar di Jakarta, menewaskan 5 orang, melukai 149 orang, dan menyebabkan 23 orang hilang

"Pagi hari saya melaporkan kepada Ibu Megawati Soekarnoputri, karena Romo Mudji ini ketika terjadi peristiwa 27 Juli, beliau dengan pemikiran kritisnya juga ikut membantu gerakan moral di dalam melawan rezim yang otoriter," kata Hasto, saat melayat di Kapel Katolik Kanisius, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (29/12/2025).

Hasto menjelaskan, semasa mahasiswa, dirinya terinspirasi oleh tulisan Mudji yang seringkali kritis.

Oleh karena itu, kata dia, PDIP dan Megawati menyampaikan dukacita yang mendalam atas meninggalnya Mudji. 

"Kita sangat kehilangan seorang tokoh pemikir, cendekiawan, budayawan, rohaniawan yang terus memberikan terang di tengah kegelapan demokrasi yang terjadi saat ini," tegas Hasto. 

Hasto menambahkan, pemikiran-pemikiran kritis Mudji yang dikenal juga sebagai budayawan itu harus menjadi inspirasi. 

"Pemikiran-pemikiran Romo Mudji, keberpihakan Romo Mudji terhadap perjuangan kemanusiaan, keadilan akan abadi dan selalu menjadi inspirasi kita semua," imbuhnya. 

Pantauan Tribunnews.com, sejumlah tokoh tampak berdatangan melayat ke Kapel Katolik Kanisius, di antaranya mantan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin; Sejarawan Anhar Gonggong, Wakil Ketua Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta, Albertina Ho, Anggota DPR RI Nurul Arifin dan suaminya, Mayong Suryo Laksono.

Diketahui, Romo Mudji wafat pada usia 71 tahun karena sakit. Ia meninggal pada Minggu (28/12/2025) malam di Rumah Sakit St Carolus, Jakarta.

Sebelum dimakamkan, akan diadakan misa requiem pada Senin (29/12/2025) dan Rabu (30/12/2025) pukul 19.00 WIB di Kapel Kolese Kanisius, Jakarta. 

Jenazahnya akan diberangkatkan ke Girisonta, Semarang, Jawa Tengah, pada tanggal 30 Desember 2025 pukul 21.00 WIB.

Prosesi pemakaman akan diadakan pada tanggal 31 Desember 2025, didahului dengan Ekaristi pukul 10.00 di Gereja Paroki, lalu dilanjutkan dengan pemakaman di Taman Mari Ratu Damai, Girisonta.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved