Senin, 20 April 2026

Kisah Mukhlis, Petani Sawit yang Tetap Menyimpan Harapan Pascabencana

Bencana di Sumatra meninggalkan dampak luas bagi masyarakat, termasuk mereka yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perkebunan.

Tribunnews.com/Dwi Putra Kesuma
LAHAN SAWIT RUSAK - Penampakan lahat sawit di Sumut yang hancur seusai disapu banjir. Bencana yang melanda Sumatra tak hanya merendam permukiman dan merenggut korban jiwa, namun juga mengganggu sendi-sendi kehidupan ribuan keluarga yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perkebunan. 

TRIBUNNEWS.COM - Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan alam dan keberagaman. Namun, di balik keberlimpahan itu, negeri ini juga dihadapkan pada ancaman bencana alam yang sewaktu-waktu dapat meluluhlantakkan kehidupan. 

Seperti yang terjadi pada akhir 2025, Pulau Sumatra kembali diuji oleh bencana banjir dan longsor berskala besar akibat hujan ekstrem yang berlangsung berhari-hari. Kondisi ini dipicu oleh sistem cuaca yang tidak biasa.

Dampak bencana ini begitu luas. Tak hanya merendam permukiman dan merenggut korban jiwa, banjir juga mengganggu sendi-sendi kehidupan ribuan keluarga yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perkebunan. Aktivitas ekonomi terhenti, lahan rusak, dan ketidakpastian masa depan pun membayangi.

Banjir yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat memaksa ratusan ribu warga mengungsi, menghancurkan infrastruktur dasar, serta membuat jutaan jiwa terdampak secara langsung. 

Di sejumlah wilayah, lahan pertanian dilaporkan rusak atau terendam dalam skala luas, termasuk kebun kelapa sawit yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat pedesaan dan kini membutuhkan waktu panjang untuk dipulihkan.

Ketergantungan Hidup pada Lahan yang Terendam

Di banyak wilayah Sumatra, kelapa sawit bukan sekadar komoditas, melainkan penopang utama ekonomi keluarga. Dari hasil penjualan tandan buah segar (TBS), petani membiayai kebutuhan sehari-hari, pendidikan anak, layanan kesehatan, hingga aktivitas sosial dan keagamaan. 

Seiring permintaan global terhadap minyak kelapa sawit (CPO) yang terus meningkat dan harga yang relatif stabil dibandingkan komoditas lain membuat sebagian petani menjadikan sawit sebagai sumber penghidupan utama

Salah satu petani yang merasakan langsung dampak banjir adalah Mukhlis (41), petani sawit asal Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Sejak 2019, ia menekuni usaha perkebunan kelapa sawit secara mandiri dengan memanfaatkan lahan keluarga. 

Periode tersebut bertepatan dengan berkembangnya program replanting serta kemudahan akses bibit unggul dan edukasi dari pemerintah, yang mendorong ekspansi perkebunan rakyat di berbagai daerah.

Selain faktor ketersediaan lahan, Mukhlis melihat sawit sebagai komoditas yang menjanjikan karena prospek ekonominya yang panjang. Permintaan minyak nabati dunia yang terus tumbuh membuat sawit tetap menjadi pilihan utama bagi banyak petani.

Dalam kondisi normal, hasil kebun tersebut menjadi tulang punggung perekonomian keluarganya, mencakup pemenuhan kebutuhan primer, pendidikan, kesehatan, hingga investasi masa depan.

“Sawit ini bukan cuma tanaman, tapi sumber hidup keluarga kami,” ujarnya dalam wawancara eksklusif bersama Tribunnews pada Kamis (8/1/2026).

Petani Sawit Mukhlis
Mukhlis (kiri), petani sawit asal Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.

Bencana Banjir yang Mengubah Segalanya

Mukhlis turut menceritakan bagaimana bencana itu datang dan mengubah segalanya. Hujan deras tak kunjung berhenti sejak 23 November 2025 hingga Rabu dini hari, 26 November 2025. Sekitar pukul 03.00 WIB, angin kencang menghantam rumah-rumah dan pepohonan. Listrik padam, sementara beberapa ruas Jalan Lintas Sumatra tertutup reruntuhan pohon tumbang.

Tak lama berselang, air sungai meluap ke permukiman warga. Banjir datang bukan hanya dengan arus deras, tetapi juga membawa lumpur dan potongan kayu besar yang menghantam rumah-rumah. Kepanikan pun melanda. Warga berbondong-bondong mengungsi ke rumah kerabat, berharap air segera surut.

Namun, harapan itu pupus. Menjelang malam, air justru terus naik. Banyak warga terkejut karena sepanjang ingatan mereka, wilayah tersebut belum pernah terendam, bahkan saat banjir besar sebelumnya. Mukhlis dan keluarganya segera naik ke lantai dua rumah pamannya, hanya membawa pakaian seadanya, obat-obatan, dan sedikit makanan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved