Sabtu, 16 Mei 2026

Istri Gus Dur Ingatkan Pemerintah: Rakyat Bukan Musuh Negara

Pesan ini bermakna bahwa kebijakan seorang pemimpin harus bertujuan untuk mewujudkan kebaikan atau kemaslahatan dan mencegah keburukan bagi rakyat

Tayang:
Tribunnews.com/Danang Triatmojo
GERAKAN NURANI BANGSA - Konferensi pers Pesan Kebangsaan Awal Tahun 2026 oleh Gerakan Nurani Bangsa yang dihadiri sejumlah tokoh, di Graha Pemuda, Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Selasa (13/1/2026). Sinta Nuriyah Wahid mengingatkan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, bahwa rakyat bukan musuh negara atau sebaliknya. 

Ringkasan Berita:
  • Sinta Nuriyah Wahid mengingatkan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, bahwa rakyat bukan musuh negara
  • Sinta mengatakan, negara dan rakyat adalah bagian tak terpisahkan bagi kemaslahatan bangsa
  • Gerakan Nurani Bangsa menilai sepanjang tahun 2025, ancaman terhadap kebebasan berpendapat dan berekspresi kian meningkat

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Istri Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sinta Nuriyah Wahid mengingatkan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, bahwa rakyat bukan musuh negara atau sebaliknya.

Pernyataan ini disampaikan dalam sambutan pada konferensi pers Gerakan Nurani Bangsa (GNB) soal pesan kebangsaan awal tahun 2026, di Grha Pemuda, Komplek Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Selasa (13/1/2026).

Baca juga: Daftar Tokoh yang Hadiri Acara Pesan Kebangsaan GNB: Soroti Demokrasi yang Terancam hingga HAM

"Rakyat bukanlah musuh bagi penyelenggara negara, demikian pula sebaliknya," kata Sinta. 

Sinta mengatakan, negara dan rakyat adalah bagian tak terpisahkan bagi kemaslahatan bangsa.

Baca juga: Sinta Nuriyah: Buku-buku Terkait Penurunan Gus Dur Dengan TAP MPR Harus Ditarik dan Direvisi

Keduanya perlu bekerja sama untuk mengatasi bermacam tantangan kehidupan seraya mendorong kemajuan bangsa. 

Terhadap para pemimpin, ia menukil pesan fikih fundamental yang berbunyi Tasharruful imam ala ar-ra'iyyah manuthun bil maslahah. 

Pesan ini bermakna bahwa kebijakan seorang pemimpin harus bertujuan untuk mewujudkan kebaikan atau kemaslahatan dan mencegah keburukan bagi rakyatnya.   

"Dan ini menjadi pegangan kami untuk selalu diingat dan untuk mengingatkan kepada para pemimpin, pemimpin bangsa dan pemimpin negara," katanya.

Selain sikap negara yang memegang prinsip kemaslahatan, rakyat juga perlu cerdas dan kuat untuk selalu mengingatkan penyelenggara negara terhadap tujuan tersebut. 

"Karena itu, baik penyelenggara negara maupun rakyat perlu berkomitmen untuk teguh berpegang pada nilai-nilai luhur bangsa," ucap Sinta.

Sebelumnya Gerakan Nurani Bangsa (GNB) menyampaikan pesan kebangsaan awal tahun 2026 untuk menyikapi kejadian - kejadian yang telah terjadi selama tahun 2025 di masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Baca juga: Ganjar Pranowo: Kebebasan Berpendapat hingga Pilkada Via DPRD akan Dibahas di Rakernas PDIP

Sejumlah isu yang disorot dalam pernyataan sikap pesan kebangsaan ini adalah demokrasi Indonesia tengah dihadapkan pada tantangan serius yang melemahkan prinsip kebebasan, dan supremasi sipil.

Gerakan Nurani Bangsa menilai sepanjang tahun 2025, ancaman terhadap kebebasan berpendapat dan berekspresi kian meningkat. 

Mulai dari pemenjaraan, teror, hingga ancaman kepada mereka yang mengkritik pemerintah. Termasuk ancaman dan intimidasi menimpa jurnalis yang kritis.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved