Rabu, 13 Mei 2026

Mengenal Komunitas Sraddha Sala, Merawat Naskah Kuno dan Budaya Jawa dari Akar Desa

Mengenal komunitas Sraddha Sala, sekelompok pegiat Sastra Jawa yang berfokus pada studi naskah kuno atau manuskrip, menarik minat generasi muda.

Tayang:
Tribunnews.com/Muhammad Alvian Fakka
KOMUNITAS SRADDHA SOLO - Ahli filologi peneliti kajian naskah kuno sastra Jawa sekaligus pendiri komunitas Sraddha Sala, Rendra Agusta saat di temui di Sraddha Institute Surakarta, Kamis (16/1/2026). Mengenal komunitas Sraddha Sala, sekelompok pegiat Sastra Jawa yang berfokus pada studi naskah kuno atau manuskrip, menarik minat generasi muda. 

Ringkasan Berita:
  • Sraddha Sala adalah komunitas penelitian Sastra Jawa yang didirikan Rendra Agusta pada 2016, berfokus pada pelestarian naskah kuno dan penghormatan leluhur desa. 
  • Komunitas ini menghadapi tantangan konsistensi dan komunikasi, namun berkembang menjadi wadah pelestarian budaya dengan pendekatan langsung ke masyarakat desa. 
  • Selain revitalisasi naskah, Sraddha Sala juga mendorong inovasi ekonomi dan minat generasi muda melalui alih media manuskrip ke produk fesyen


TRIBUNNEWS.COM -
Sraddha Sala adalah komunitas dan ruang penelitian yang didirikan pada 2 April 2016 oleh sekelompok pegiat Sastra Jawa yang berfokus pada studi naskah kuno atau manuskrip. 

Nama "Sraddha" sendiri diambil dari tradisi Nyadran, sebuah ritual memperingati leluhur dalam tradisi Jawa (masa Hindu) yang bermakna mendalam sebagai titik temu berbagai pemeluk agama dan kepercayaan. 

Pendirian komunitas ini dipicu oleh momentum penghormatan 1000 hari wafatnya salah satu ahli sastra Jawa kuna, Romo I. Kuntara Wirya Martana, S.J, seorang dosen Sastra Jawa terkemuka sekaligus sosok Yesuit yang berpengaruh di wilayah Solo-Yogyakarta.

Inisiator pembentukan komunitas Sraddha Sala berangkat dari kegelisahan seorang filolog sekaligus peneliti kajian naskah kuno dan sastra Jawa, Rendra Agusta.

Ia merasa masyarakat di sekitarnya, khususnya para akademisi muda cenderung lebih bangga, ketika berziarah ke makam raja-raja atau tokoh besar, namun mengabaikan makam leluhur mereka sendiri di desa.

Fenomena yang diamati lulusan program studi Sastra Daerah (S1) dan Kajian Budaya (S2), Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Jawa Tengah itu, membuatnya termotivasi mendirikan komunitas Sraddha Sala.

"Mereka itu nggak pernah sowan ke makam buyutnya sendiri. Saya merasa aneh, karena mereka ziarah Wali Songo setiap tahun, tapi urusan keluarga sendiri nggak ada. Makanya ide komunitas ini salah satunya soal pentingnya merawat makam desa, punden, dan sendang," kata Rendra Agusta, saat ditemui Tribunnews.com Kamis (15/1/2026).

Melalui komunitasnya, Rendra berupaya mengalihkan fokus masyarakat untuk kembali merawat punden, makam desa, dan sumber air (sendang) sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang lebih dekat secara personal. 

Melalui gerakan ini, Sraddha Sala menekankan pentingnya pelestarian lingkungan desa, seperti menjaga pohon-pohon besar yang krusial bagi ketersediaan air, terlepas dari apa pun keyakinan yang dianut masyarakatnya.

Fase Awal dan Tantangan Membangun Komunitas 

Dalam perjalanannya, Rendra sebagai pendiri Sraddha Sala menghadapi tantangan besar terkait konsistensi dan pembagian waktu.

Terutama karena harus menyeimbangkan kegiatan komunitas dengan pekerjaan formal di kedinasan. 

Baca juga: Komunitas Honda Tiger Club Indonesia Raker Perdana di Semarang, Bahas Kesiapan Wingday 2026

"Tantangannya paling awal itu membangun konsistensi kegiatan dan meluangkan waktu. Tahun 2016 saya masih kerja harian di Dinas Kebudayaan Provinsi Jogja dari jam 5 sampai jam 5 sore. Waktunya kecil banget untuk mengelola komunitas, cuma Sabtu-Minggu atau malam hari," ungkapnya.

Pria yang pernah bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Kebudayaan DIY itu selain kendala waktu, mengaku mengalami kendala komunikasi saat berinteraksi dengan warga desa. 

Di mana para pegiat komunitas ini yang terbiasa dengan bahasa riset akademis, harus belajar menyampaikan informasi dengan cara yang lebih sederhana dan membumi. 

"Tantangan lainnya adalah soal split (pembagian peran). Biasanya saya kerja kedinasan atau riset, tiba-tiba harus jadi orang yang nongkrong di desa dengan obrolan yang lebih sederhana. Nggak bisa pakai bahasa tinggi, harus pelan-pelan," ucapnya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved