Rabu, 29 April 2026

Pesawat ATR Indonesia Air Jatuh

Insiden Pesawat ATR 42-500, Pengamat: Pilot Mengira Masuk Awan Kabut dan Menabrak Gunung

Kata Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati, pilot Pesawat ATR 42-500 kemungkinan mengira masuk kabut dan akhirnya menabrak gunung.

Tayang:
Tangkap layar indonesiaair.com // IG @makassar_info
PESAWAT ATR 42-500 - Kolase foto: Pesawat ATR 42-500 dan tangkap layar video puing Pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. 

Ringkasan Berita:
  • Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati menyebut, kemungkinan pilot Pesawat ATR 42-500 yang jatuh mengira masuk kabut hingga akhirnya menabrak gunung.
  • Menurutnya, pilot memakai visual flight rule, yang mengandalkan penglihatan mata ke luar untuk melihat objek sekeliling.
  • Kata dia, Gunung Bulusaraung ditutupi awan lenticularis yang jika dilihat dari atas (perspektif pilot) mirip kabut.
  • Anehnya, pilot tidak menghindar (naik ke atas/climbing) saat melihat kabut yang melingkupi gunung tersebut.

TRIBUNNEWS.COM - Pengamat Keamanan dan Keselamatan Penerbangan, Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati, memperkirakan, pilot Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh mengira masuk kabut hingga akhirnya menabrak gunung.

Diketahui, pesawat dengan rute Yogyakarta-Makassar dan nomor registrasi PK-THT tersebut, sebelumnya dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026) siang pukul 13.17 WITA, saat akan mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Pada Minggu (18/1/2026) pesawat diketahui jatuh dengan puing-puingnya ditemukan di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.

Hingga Rabu (21/1/2026) pagi, sudah ada dua jenazah korban (satu laki-laki, ditemukan pada Minggu, 18 Januari 2026 dan satu perempuan, ditemukan pada Senin, 19 Januari 2026) yang ditemukan, tetapi identitas keduanya masih belum bisa dipastikan.

Pesawat ini sedang menjalankan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara (air surveillance) atas kerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI (KKP).

Ada total 10 orang yang berada di dalam Pesawat ATR 42-500, tiga orang berasal dari KKP, sedangkan tujuh lainnya adalah kru kabin.

3 Pegawai KKP

  1. Ferry Irawan, analis kapal pengawas
  2. Deden Mulyana, pengelola barang milik negara 
  3. Yoga Naufal, operator foto udara

7 Kru Kabin Pesawat ATR 42-500

  1. Capt Andy Dahananto
  2. ⁠SIC FO M Farhan Gunawan
  3. FOO Hariadi
  4. ⁠EOB Restu Adi P
  5. ⁠EOB Dwi Murdiono
  6. Flight attendant Florencia Lolita
  7. Flight attendant Esther Aprilita S

Pilot Kemungkinan Mengira Masuk Kabut dan Tidak Melihat Ada Gunung

Baca juga: Smartwatch Korban Pesawat ATR Masih Rekam Jejak Langkah, Kabasarnas: Itu Waktu Korban di Yogya

Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati menilai, pilot Pesawat ATR 42-500 tersebut mengendalikan dan menavigasikan pesawat dengan metode VFR atau visual flight rule, yang mengandalkan penglihatan mata ke luar (visual references) untuk mengenali landmark, gunung, jalan, sungai, horizon, dll.

Menurut Agung, dengan navigasi tersebut, pilot lebih dominan melihat lanskap di luar pesawat, meski sesekali juga tetap mengawasi instrumen di kokpit, seperti indikator ketinggian maupun kecepatan pesawat.

Metode navigasi semacam ini dipakai untuk patroli turun dari ketinggian, apalagi pesawat digunakan untuk air surveillance.

"Terbang patroli turun dari ketinggian namanya visual flight rule, bukan instrument flight rule. Kalau visual flight rule itu, dia ngelihat luar pilotnya," jelas Agung, saat berbicara di program Dialog Prime yang diunggah di kanal YouTube Nusantara TV, Selasa (20/1/2026).

"Meskipun pilot ngecek speed di dalam, tapi matanya lihat luar karena dia patroli."

"Orang di belakang juga ngelihat ada kamera di perut pesawat ngelihat."

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved