Rabu, 3 Juni 2026

Ahli Ingatkan Ancaman Senyap Virus Nipah, Indonesia Bukan Tanpa Risiko

Penyakit virus nipah menjadi cerminan krisis relasi antara manusia, hewan, dan lingkungan yang rapuh.

Tayang:
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
Dokumentasi Pribadi
Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman 

Faktor sosial budaya juga berperan. Pada kelompok masyarakat tertentu, aktivitas masuk hutan, kontak dengan satwa liar, hingga konsumsi buah yang terkontaminasi kotoran hewan menjadi pintu masuk infeksi.

Yang membuat Nipah berbahaya, lanjut Dicky, justru karena ia sering muncul tanpa gejala khas dan tidak selalu dalam bentuk wabah besar.

“Hal krusial tentang Nipah yang jarang difahami publik, atau bahkan tenaga kesehatan lain adalah, bahwa Nipah itu tidak selalu harus wabah besar. Justru berbahaya karena sering senyap Nipah ini,"paparnya. 

Gejala Awal Mirip Flu, Deteksi Sering Terlambat

Infeksi Nipah kerap luput terdeteksi karena gejala awalnya tidak spesifik. Pada tahap awal, keluhannya bisa menyerupai flu, tifoid, atau bahkan demam berdarah. 

Di sisi lain, sistem surveilans di banyak negara, termasuk Indonesia, belum sensitif terhadap virus ensefalitis baru.

Akibatnya, diagnosis sering terlambat dan pasien sudah berada dalam kondisi berat saat teridentifikasi. 

Risiko terbesar bukan ledakan kasus besar, melainkan outbreak kecil yang mematikan.

Penularan antar manusia memang tidak masif, tetapi sangat berbahaya karena terjadi melalui kontak dekat dengan cairan tubuh. 

Rumah sakit bahkan kerap menjadi titik penguat penularan ketika pasien indeks tidak dikenali sejak awal.

Fatalitas Tinggi karena Tak Ada Senjata

Tingginya angka kematian Nipah bukan semata karena keganasan virus, melainkan karena dunia medis belum memiliki alat spesifik untuk melawannya.

Tidak tersedia vaksin maupun antivirus khusus. Virus ini menyerang otak, menyebabkan ensefalitis yang sulit ditangani. 

Bahkan pada pasien yang sembuh, risiko gangguan neurologis jangka panjang hingga kekambuhan masih membayangi.

Lebih lanjut, menjawab kekhawatiran publik soal kemungkinan munculnya penyakit serupa, Dicky menyampaikan jawaban tegas berdasarkan kajian global health security.

“Nah sebetulnya ancaman terbesar ke depan bukan nipah yang lama, tapi yang disebut dengan nipah like diseases,"pungkasnya. 

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved