Rabu, 3 Juni 2026

Ramadan 2026

Memahami Akar Perbedaan Penentuan Ramadhan di Indonesia dari Perspektif Ilmu Falak

Dosen Ilmu Falak UIN Raden Mas Said Surakarta, Dr. Muhammad Himmatur Riza, M.H. menjelaskan terkait perbedaan penentuan Ramadhan di Indonesia.

Tayang:

Ringkasan Berita:
  • Dosen Ilmu Falak dari UIN Raden Mas Said Surakarta, Dr. Muhammad Himmatur Riza, M.H. menjelaskan mengenai adanya perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan di Indonesia.
  • Menurut Riza, perbedaan penentuan bulan Hijriah adalah masalah klasik namun selalu aktual.
  • Riza mengatakan, akar utama perbedaan terletak pada dua metode besar yang dianut oleh organisasi massa (ormas) Islam di Indonesia.

TRIBUNNEWS.COM - Perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan di Indonesia kerap menjadi topik hangat setiap tahunnya.

Fenomena ini sering kali memicu kebingungan di kalangan masyarakat awam.

Dalam diskusi program OASE Tribunnews.com, Dosen Ilmu Falak dari UIN Raden Mas Said Surakarta, Dr. Muhammad Himmatur Riza, M.H., menjelaskan secara mendalam mengapa perbedaan ini terjadi dan bagaimana masyarakat harus menyikapinya.

Riza menyebutkan bahwa perbedaan penentuan bulan Hijriah adalah masalah klasik namun selalu aktual.

Secara normatif, Al-Quran telah menetapkan bahwa bulan (manzilah-manzilahnya) diciptakan agar manusia dapat mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.

Namun, interpretasi terhadap tanda-tanda alam inilah yang melahirkan perbedaan metode di Indonesia.

Riza mengatakan, akar utama perbedaan terletak pada dua metode besar yang dianut oleh organisasi massa (ormas) Islam di Indonesia.

Pertama adalah metode Wujudul Hilal. Metode ini murni menggunakan perhitungan astronomis atau hisab.

Prinsipnya, selama piringan bulan sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam—meskipun hanya 1 derajat atau kurang—maka malam itu sudah dianggap sebagai awal bulan baru.

Muhammadiyah beranggapan bahwa kepastian matematis sudah cukup untuk menetapkan tanggal.

Lalu yang kedua adalah metode Rukyatul Hilal dan Imkanur Rukyah.

Baca juga: Niat Puasa Ramadhan dan Artinya, Disertai Waktu Mengucapkannya

Metode ini mengacu pada perintah Nabi Muhammad SAW untuk berpuasa dan berlebaran saat melihat hilal secara langsung (rukyah).

Namun, karena faktor cuaca sering menghambat, digunakanlah kriteria Imkanur Rukyah (kemungkinan hilal terlihat).

Berdasarkan kriteria terbaru Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), hilal hanya dianggap sah jika mencapai ketinggian minimal 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat.

"Jika posisi hilal berada di ketinggian 1 atau 2 derajat, maka Muhammadiyah akan memulai puasa atau lebaran lebih dulu."

Sesuai Minatmu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved