Program Makan Bergizi Gratis
Limbah MBG Diubah Jadi Biogas, Emisi Karbon Bisa Berkurang Hingga 2,5 Ton Tiap Tahun
Pembangunan berbasis energi terbarukan harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat serta memiliki orientasi masa depan demi keberlanjutan hidup.
Ringkasan Berita:
- Fasilitas biogas dan Solar Dryer House di Desa Cidadap dan Loji sebagai bagian pengembangan Desa Energi Insight.
- Biogas mengolah limbah organik MBG menjadi energi bersih, berpotensi kurangi emisi 2,5 ton CO₂e per tahun serta hasilkan pupuk ramah lingkungan.
- Solar Dryer House bantu petani tingkatkan kualitas pascapanen, dorong ekonomi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Limbah organik dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dimanfaatkan untuk menjadi energi ramah lingkungan seperti biogas.
Baca juga: Bantuan Sepeda Motor untuk Tim Pendamping MBG Masih Dibahas, Menteri Wihaji: Sabar Ya
Hal ini dilakukan PT Insight Investment Management dengan meresmikan pemanfaatan fasilitas biogas rumah di Kampung Cihurang, Desa Cidadap, serta Solar Dryer House di Kampung Babakan Asem, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Program biogas di Kampung Cihurang memanfaatkan limbah organik dapur MBG. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN), sampah sisa makanan masih menjadi kontributor terbesar timbunan sampah nasional.
Melalui pengolahan biogas, limbah organik dapat diubah menjadi energi bersih untuk kebutuhan memasak sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca. Direktur Rumah Energi, Sumanda Tondang, menegaskan pendekatan teknologi tepat guna berbasis komunitas merupakan kunci keberlanjutan program.
“Biogas dan Solar Dryer House bukan sekadar infrastruktur, tetapi sarana pembelajaran bagi masyarakat tentang energi terbarukan, pengelolaan sampah, dan ekonomi sirkular. Ketika masyarakat terlibat sejak perencanaan hingga pengelolaan, dampaknya akan jauh lebih berkelanjutan,” jelasnya dikutip Kamis (12/2/2026).
Pemanfaatan biogas ini berkontribusi pada pengurangan ketergantungan terhadap LPG serta berpotensi menurunkan emisi karbon hingga sekitar 2,5 ton CO₂e per tahun. Selain itu, residu biogas dapat diolah menjadi pupuk cair dan padat yang mendukung pertanian ramah lingkungan.
Baca juga: Solusi Bau Kandang Ayam: Peternak Manfaatkan Biogas dan Maggot untuk Kelola Limbah
Bupati Sukabumi, Asep Japar, menyampaikan, pembangunan berbasis energi terbarukan harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. “Pemanfaatan biogas dan Solar Dryer House ini menunjukkan bahwa solusi energi bersih bisa hadir dari desa, dikelola oleh masyarakat, dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan serta peningkatan kesejahteraan warga," tuturnya.
Sementara itu, Solar Dryer House di Kampung Babakan sebagai solusi atas persoalan pengeringan pascapanen bawang merah dan padi yang selama ini masih bergantung pada penjemuran terbuka.
Teknologi pengering berbasis energi matahari ini dirancang untuk menjaga kestabilan suhu. sehingga kualitas hasil panen lebih merata dan bernilai jual lebih tinggi.
Baca juga: Menkeu Purbaya Minta Masyarakat Jangan Banyak Protes MBG: Ini Program Pembangunan Pak Presiden
Melalui peresmian biogas dan Solar Dryer House ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan akses terhadap energi ramah lingkungan, tetapi juga diperkuat kapasitasnya dalam mengelola sumber daya.