Berkenalan dengan Fenrir Si Belgian Malinois, Rekan Tim SAR di Kala Bencana Melanda
Meski rompi working dog harness melekat kencang, tapi Fenrir tidak sedang bertugas. Ia justru fokus bermain dengan bola karet mainan di mulutnya.
Dalam proses latihan, Fenrir dan anjing-anjing lainnya diarahkan untuk fokus dalam hal mendalami motivasi.
“Kita kasih motivasi dia untuk kerja, motivasi dia untuk menemukan korban, ya. Jadi dari motivasi itu dia ada semangat untuk bekerja, semangat untuk apa istilahnya menemukan-menemukan korban tadi sehingga sebenarnya yang kita bentuk itu semangat dia untuk mencarinya,” jelas Aziz.
Dalam setiap proses latihan, seluruh hewan tetap dalam pengawasan dan kontrol dokter.
Hal itu untuk memastikan apakah anjing-anjing tersebut sudah layak atau belum untuk mendapat pelatihan hingga turun ke lokasi bencana.
Sebab, untuk dapat memenuhi standar kelayakan pelatihan, pengawasan begitu ketat. Salah satunya ihwal usia.
“Kita mulai program latihan itu umur 8 bulan, karena di bawah itu struktur tulangnya masih rapuh dan rawan, kita enggak berani risiko,” tutur Aziz.
Ras Fenrir mendukung untuk dirinya berjibaku di kawasan bencana seperti di Indonesia. Sebab, tubuhnya ringan, punya fleksibilitas dan ketahanan stamina yang tinggi.
“Terus dia bulu pendek sehingga memudahkan pergerakan ketika di bencana alam,” kata Aziz.
Selain Belgian Malinois, German Shepherd adalah ras lainnya yang cocok untuk berhadapan dengan kondisi bencana di Tanah Air. Keunggulan utamanya adalah daya tahan tubuh.
Baca juga: Reno Gugur Saat Cari Korban Longsor, Begini Latihan Anjing K9: Nafas Terengah, Keringat Pawang
Anjing dengan bulu panjang justru punya risiko besar, apalagi ketika medan bencana penuh lumpur. Sebab, bakteri dapat melekat dengan mudah.
Dukungan Pemerintah
Melalui Basarnas, Aziz mengakui dukungan pemerintah sudah mendukung, terutama dalam hal mengakomodasi mobilisasi pergerakan mereka ke lokasi bencana.
Pun kebutuhan logistik selama melaksanakan misi sudah diperhatikan.
Namun, dari segi kesehatan, bantuan pemerintah justru dirasa masih kurang.
Antonia Agnes, selaku veterinarian atau dokter hewan di SID, mengungkapkan ihwal bantuan dari Kementerian Pertanian (Kementan) belum menjangkau mereka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/anjing-Fenrir-dari-ras-Belgian-Malinois.jpg)