Selasa, 9 Juni 2026

Ramadan 2026

Awal Ramadan 1447 H Berpotensi Berbeda, MUI Ajak Masyarakat Sikapi Perbedaan dengan Kedewasaan

Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, menyebut awal Ramadan 1447 Hijriah berpotensi berbeda di kalangan umat Islam Indonesia. 

Tayang:
Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Dewi Agustina
Ringkasan Berita:
  • Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, menyebut awal Ramadan 1447 Hijriah berpotensi berbeda di kalangan umat Islam Indonesia.
  • Hampir dapat dipastikan terdapat perbedaan dalam penetapan 1 Ramadan tahun ini.
  • Ia mengajak masyarakat menyikapi perbedaan tersebut dengan kedewasaan dan menjaga ukhuwah Islamiyah.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, menyebut awal Ramadan 1447 Hijriah berpotensi berbeda di kalangan umat Islam Indonesia. 

Ia mengajak masyarakat menyikapi perbedaan tersebut dengan kedewasaan dan menjaga ukhuwah Islamiyah.

Baca juga: Bapanas: Harga Cabai Rawit Mahal Jelang Ramadan 2026 karena Ongkos Distribusi dan Faktor Cuaca

Menurutnya, hampir dapat dipastikan terdapat perbedaan dalam penetapan 1 Ramadan tahun ini.

"Hampir dipastikan berpotensi berbeda, mengawali Ramadan ini kita berbeda. Karena sudah ada yang menetapkan awal Ramadan pada 18 Februari ini, karena menggunakan hisab sekaligus kalender global," kata Kiai Cholil dalam keterangannya, Selasa (17/2/2026).

Sementara itu, kelompok lain menggunakan metode hisab yang dipadukan dengan imkan rukyat, yakni kemungkinan hilal dapat terlihat saat matahari terbenam.

 

KESEHATAN TULANG - Pemeriksaan kesehatan tulang. Selama bulan Ramadan, ritme aktivitas umat Muslim cenderung meningkat. Kesehatan tulang dan daya tahan tubuh jadi kunci agar ibadah lancar.
KESEHATAN TULANG - Pemeriksaan kesehatan tulang. Selama bulan Ramadan, ritme aktivitas umat Muslim cenderung meningkat. Kesehatan tulang dan daya tahan tubuh jadi kunci agar ibadah lancar. (HO/IST/istimewa)

 

"Nah, menurut imkan rukyat, kemungkinan hilal bisa dilihat ini tak mungkin dapat diamati," ujarnya.

Kiai Cholil menjelaskan, posisi hilal diperkirakan masih berada di bawah 3 derajat. 

Padahal, berdasarkan kesepakatan MABIMS atau forum ulama Asia Tenggara yang terdiri dari Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Brunei Darussalam, hilal dinyatakan dapat terlihat jika telah berada di atas 3 derajat.

"Jadi bisa dipastikan awal Ramadan kita ini akan berbeda. Ada yang tanggal 18 dan ada yang tanggal 19 Februari. Saya berharap semuanya memaklumi hal ini. Yang penting kita bisa menjalankannya dengan baik dan khusyuk," katanya. 

Dia menekankan agar perbedaan tersebut tidak menimbulkan gesekan yang dapat merusak persaudaraan sesama Muslim.

Menurutnya, perbedaan ini merupakan ranah khilafiyah fikr atau perbedaan pandangan dalam pemikiran fikih yang tidak seharusnya dibawa ke arah perpecahan.

"Saya berharap masyarakat sudah dewasa. Ini masalah khilafiyah fikr, masalah perbedaan pemikiran. Tidak perlu dibawa-bawa pada perpecahan, tapi jadikanlah perbedaan ini untuk kita belajar lebih banyak," ujarnya.

Ia juga mengajak umat Islam mempelajari konsep wihdatul mathali’ dan sa’atul mathali’, yakni perbedaan pandangan tentang penetapan awal bulan berdasarkan lokasi pengamatan hilal.

"Ada yang menganggap seluruh dunia adalah satu kalender, satu mathla’, satu tempat terlihatnya bulan. Sehingga di satu negara yang dilihat, bisa di sini juga sama-sama dianggap melihat dan memulai puasa," jelasnya.

Kiai Cholil menegaskan, perbedaan tersebut seharusnya menjadi sarana memperluas wawasan keilmuan, bukan memecah belah umat.

Kapan Mulai Puasa?

Berikut perbedaan penetapan versi Muhammadiyah, NU dan pemerintah:

Jadwal Puasa Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui maklumat resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu (18/2/2026) besok.

Penetapan ini berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal, yakni perhitungan astronomi yang memastikan posisi bulan sudah memenuhi syarat terlihat secara teoritis.

"Menurut hisab hakiki wujudul hilal, posisi bulan sudah memenuhi syarat sehingga 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026," demikian isi maklumat PP Muhammadiyah.

Jadwal Puasa NU

Nahdlatul Ulama (NU) tetap menggunakan metode rukyat atau pengamatan hilal secara langsung.

Hasil rukyat NU biasanya sejalan dengan keputusan resmi pemerintah setelah proses pengamatan dilakukan. 

Sekretaris LFNU Jakarta, Ikhwanudin, menegaskan dasar penetapan awal bulan hijriah adalah terlihatnya hilal setelah matahari terbenam pada tanggal 29 Hijriah.

"Jika hilal tidak terlihat, maka dilakukan istikmal atau penyempurnaan bilangan bulan menjadi 30 hari," ujarnya.

Jadwal Puasa Pemerintah

Berdasarkan kalender Hijriah nasional, awal Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada 19 Februari 2026.

Namun, pemerintah belum menetapkan secara resmi. 

Penetapan dilakukan melalui Sidang Isbat di Auditorium H M Rasjidi, Kantor Kemenag RI, Jakarta Pusat, Selasa (17/2/2026).

Sidang Isbat mempertemukan data hisab (perhitungan astronomi) dengan hasil rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit) di 96 lokasi seluruh Indonesia.

Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menjelaskan ijtimak menjelang Ramadan 1447 H terjadi pada Selasa (17/2/2026) pukul 19.01 WIB.

Posisi hilal saat matahari terbenam masih di bawah ufuk, sehingga belum memenuhi syarat terlihat.

"Hasil hisab dan rukyat akan kami bahas bersama. Keputusan akhir disampaikan kepada masyarakat agar menjadi pedoman bersama umat Islam di Indonesia," kata Abu Rokhmad.

Hingga berita ini diturunkan, pemerintah belum mengumumkan hasil resmi Sidang Isbat. 

Keputusan final akan menjadi pedoman bersama umat Islam di Indonesia, sementara masyarakat menanti dengan penuh harap datangnya bulan suci Ramadan.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved