Rabu, 15 April 2026

Ramadan di Tengah Lonjakan Harga Minyak Goreng: Anak Kos Berhemat, UMKM Tipiskan Margin

Kenaikan harga minyak goreng jelang Ramadan membuat anak kos dan pelaku usaha kecil untuk menyesuaikan anggaran kembali jelang Ramadan.

setkab.go.id
HARGA MINYAK GORENG - Kenaikan harga minyak goreng di pasaran mulai terasa di dapur rumah tangga dan usaha kecil, memaksa konsumen menyesuaikan anggaran jelang Ramadan. 

TRIBUNNEWS.COM - Harga minyak goreng kembali menjadi sorotan. Menjelang Ramadan, ketika kebutuhan konsumsi meningkat, kenaikan harga bahan pokok seperti minyak goreng dan beras memaksa banyak orang menyesuaikan ulang anggaran bulanannya. 

Lonjakan harga ini bukan kali pertama terjadi. fluktuasi yang berulang menjelang momen besar seperti ramadan membuat sebagian masyarakat mulai mempertanyakan akar persoalannya dan sejauh mana kebijakan mampu menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.

Dampak ini dirasakan berbagai kalangan, termasuk anak kos di perkotaan. Fitri Dwi Utami, karyawan swasta yang tinggal di Bekasi, mengaku kenaikan harga minyak goreng berpengaruh langsung terhadap pengeluarannya. 

“Sangat berpengaruh,” ujar Fitri. 

Sebelumnya, Fitri biasa membeli minyak goreng kemasan dua liter dengan harga sekitar Rp39.000 hingga Rp42.000 per bulan. Namun setelah harga naik, ia memilih membeli kemasan satu liter dengan harga hampir Rp25.000. 

“Aku memutuskan beli seliter saja dan mengurangi goreng-goreng di kos,” kata Fitri. 

Perubahan tersebut membuatnya lebih selektif mengatur kebutuhan dapur. Ia kini mengurangi frekuensi memasak dan sesekali memilih membeli makanan jadi, meski tetap menyediakan miyak untuk kebutuhan dasar seperti menggoreng telur dan nugget. 

Dengan gaji yang tetap, ia juga harus memangkas pos pengeluaran lain agar tetap seimbang. “Aku jadi nggak bisa nabung seperti dulu. Nabung sih bisa, tapi berkurang,” tuturnya. 

Menurut Fitri, stabilitas harga kebutuhan pokok sangat penting, terutama menjelang Ramadan. “Penting banget, apalagi buat anak kos yang masak sendiri,” ucapnya. 

Apa yang dialami Fitri menggambarkan perubahan pola konsumsi di tingkat rumah tangga. Dampak yang sama juga dirasakan pelaku usaha kecil yang bergantung pada kestabilan harga bahan baku. 

Bernadetta Aryani, ibu rumah tangga yang juga mengelola warung makan di rumahnya, mengaku kenaikan harga minyak goreng terasa langsung di dapur rumahnya. 

“Terasa banget, bikin ngos-ngosan. Dari sisi rumah tangga jadi harus lebih ketat atur anggaran dan pintar pilih bahan makanan yang sesuai budget tapi tetap nutrisinya lengkap,” ujar Bernadetta. 

Ia mengaku kini lebih selektif dalam menyusun menu harian keluarga. Pengeluaran belanja harus dihitung ulang agar tidak jebol di akhir bulan. 

Di sisi lain, tantangan berbeda muncul dari usaha warung makan yang dikelolanya. Kenaikan harga minyak goreng membuat posisinya serba sulit. 

Menurutnya, menaikkan harga menu berisiko menurunkan minat pembeli. Namun jika harga tetap, margin keuntungan bisa semakin tergerus. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved