Rabu, 20 Mei 2026

Ancaman Penipuan Berbasis Kecerdasan Buatan Makin Meningkat, Teknologi Biometrik Perlu Diperkuat

Sertifikasi memastikan sistem telah melalui pengujian independen sesuai standar internasional, di tengah meningkatnya fraud berbasis AI.

Tayang:
Kolase Tribunnews/FRONTIERSIN.ORG
DEEPFAKE - Contoh perbandingan foto asli (kiri) dan foto deepfake (kanan). Penipuan deepfake memanfaatkan kecanggihan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mampu menciptakan gambar, suara bahkan video palsu yang bisa terlihat sangat meyakinkan untuk menipu targetnya. 
Ringkasan Berita:
  • Verihubs meraih sertifikasi ISO/IEC 27001:2022 dan ISO/IEC 30107 (Presentation Attack Detection) untuk memperkuat keamanan sistem liveness detection terhadap deepfake dan spoofing biometrik.
  • Sertifikasi memastikan sistem telah melalui pengujian independen sesuai standar internasional, di tengah meningkatnya fraud berbasis AI.
  • Penguatan ini krusial bagi sektor perbankan dan fintech dalam menjaga integritas KYC, digital onboarding, serta kepatuhan perlindungan data dan anti pencucian uang.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Risiko fraud atau penipuan berbasis kecerdasan buatan (AI), khususnya serangan manipulasi identitas seperti deepfake dan spoofing biometrik semakin meningkat.

Dalam menyikapi hal itu, perlunya memiliki sertifikasi dalam penerapan standar keamanan.

Bram, Head of AI Verihubs, menyatakan sertifikasi ISO/IEC 27001:2022 serta ISO/IEC 30107, merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan sistem terhadap pola serangan yang terus berkembang.

Baca juga: Video Deepfake Catut Figur Menkeu Purbaya, Publik Diminta Waspada Konten Hoaks

“Sertifikasi ini memastikan sistem kami telah melalui pengujian independen sesuai standar internasional,” ujar Bram dalam keterangannya, Selasa (3/3/2026).

Adapun Verihubs mengumumkan telah meraih sertifikasi ISO/IEC 27001:2022 serta ISO/IEC 30107 terkait Presentation Attack Detection (PAD) untuk teknologi liveness detection yang dikembangkan secara internal.

ISO/IEC 27001:2022 merupakan standar internasional untuk sistem manajemen keamanan informasi, sementara ISO/IEC 30107 (PAD) menguji kemampuan sistem biometrik dalam mendeteksi upaya manipulasi identitas, termasuk serangan menggunakan rekaman video, masker tiga dimensi, hingga rekayasa wajah berbasis AI.

Pencapaian ini terjadi di saat industri perbankan dan fintech menghadapi tantangan baru dalam proses know-your-customer (KYC) dan digital onboarding.

Seiring kemajuan teknologi generatif AI, metode penipuan berbasis identitas digital menjadi semakin kompleks dan sulit dideteksi dengan sistem verifikasi konvensional.

"Di tengah meningkatnya risiko fraud berbasis AI, kemampuan mendeteksi presentation attack menjadi elemen penting dalam menjaga integritas proses verifikasi identitas digital,” ujarnya.

Teknologi biometrik berbasis AI kini menjadi salah satu komponen utama dalam ekosistem layanan keuangan digital.

Sejumlah bank, perusahaan fintech, serta lembaga pemerintahan telah mengadopsi sistem verifikasi biometrik untuk mempercepat proses onboarding sekaligus menjaga kepatuhan terhadap regulasi perlindungan data dan anti pencucian uang.
 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved