Ramadan 2026
Ramadan Hari ke-16: Menggapai Pribadi Qana’ah, Kunci Miliki Hati yang Kaya
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan pentingnya membangun pribadi qana’ah di tengah gaya hidup serba cepat dan budaya konsumtif.
Ringkasan Berita:
- Memasuki Ramadan hari ke-16 pada Jumat ini, umat Islam diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk keinginan dunia dan mulai menata ulang isi hati.
- Qana’ah bukan sekadar merasa cukup secara materi dan ketenangan batin saat menerima segala ketentuan Allah SWT.
- Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan pentingnya membangun pribadi qana’ah di tengah gaya hidup serba cepat dan budaya konsumtif.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Memasuki Ramadan hari ke-16 pada Jumat ini, umat Islam diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk keinginan dunia dan mulai menata ulang isi hati.
Di tengah gaya hidup serba cepat dan budaya konsumtif, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan pentingnya membangun pribadi qana’ah.
Dalam refleksi Ramadan bertajuk Menggapai Pribadi Qana’ah, Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa qana’ah bukan sekadar merasa cukup secara materi.
Lebih dalam dari itu, qana’ah adalah ketenangan batin saat menerima segala ketentuan Allah SWT. Dalam bahasa Indonesia, qana’ah difahami sebagai sikap merasa cukup dengan apa yang ada pada diri.
Kata ini berasal dari akar kata qani’a-yaqna’ yang berarti merasa puas atas apa yang ada, rela menerima jatah kenyataan yang datang dari Allah SWT, apa pun bentuknya.
Para ahli hakekat bahkan memaknai qana’ah sebagai sikap tenang ketika kehilangan sesuatu yang biasa dimiliki. Merasa cukup dengan yang sedikit. Merasa kaya dengan yang ada.
Sifat Rakus adalah Antitesa Karakter Qana’ah
Nasaruddin Umar menegaskan, lawan dari qana’ah adalah rakus. Rakus digambarkan sebagai sikap yang tidak pernah merasa puas, sebanyak apa pun harta yang dimiliki.
Secara lahiriah mungkin terlihat mewah, namun batinnya miskin. Hatinya tak pernah tenang. Pikirannya selalu kekurangan.
Konsep ini sejalan dengan penafsiran sejumlah ulama terhadap ayat dalam Q.S. al-Nahl/16:97 tentang hayatan thayyibah (kehidupan yang baik).
Baca juga: Doa Nuzulul Quran pada Malam Ke-17 Ramadan, Amalan Penuh Berkah
Ikrimah dan beberapa ulama tafsir memaknai kehidupan yang baik itu sebagai qana’ah. Begitu pula dalam Q.S. al-Hajj/22:58 tentang rizqan hasanan (rezeki yang baik), yang juga dimaknai sebagai qana’ah.
Dalam Q.S. al-Ahdzab/33:33 disebutkan bahwa Allah hendak menghilangkan dosa dan membersihkan, yang oleh sebagian ulama diartikan sebagai membersihkan dari kekikiran dan kerakusan melalui sifat dermawan dan qana’ah.
Artinya, qana’ah bukan sikap pasif atau menyerah. Ia justru proses penyucian diri dari kerakusan yang membuat manusia gelisah.
Qana’ah adalah Perbendaharaan yang Tak Pernah Habis
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Menag-Nasarudin-Umar-____.jpg)