Minggu, 26 April 2026

Ijazah Jokowi

Emrus Semprot Rismon: Sangkal Penelitian Sendiri soal Ijazah Jokowi, Belum Final Kok Jadi Buku

Emrus Sihombing kritik Rismon yang mempublikasikan riset ijazah Jokowi saat masih “ongoing” bahkan hingga jadi buku

Ringkasan Berita:

 

TRIBUNNEWS.COM — Komunikolog Emrus Sihombing mengkritisi cara peneliti digital forensik Rismon Hasiholan Sianipar mempublikasikan hasil penelitiannya terkait polemik ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Emrus menilai persoalan utama bukan hanya pada perubahan kesimpulan penelitian, tetapi pada keputusan mempublikasikan temuan yang disebut masih bersifat ongoing atau belum final.

Menurut Emrus, Rismon sebelumnya sempat menyampaikan kepada publik hasil penelitian pertama yang menyimpulkan dugaan ijazah Jokowi tidak asli.

Namun pada penelitian kedua yang disampaikan belakangan, Rismon justru menyatakan ijazah Jokowi asli.

“Yang menarik, ketika dia menyampaikan bahwa ijazah Jokowi asli pada penelitian kedua, salah satu argumentasi yang disampaikan adalah bahwa penelitian pertama itu masih ongoing, belum final,” kata Emrus kepada Tribunnews.com, Jumat (13/3/2026).

Ia menilai, apabila penelitian pertama memang belum final, seharusnya hasil tersebut tidak disampaikan ke publik terlebih dahulu.

Dalam praktik akademik, kata Emrus, penelitian yang masih berjalan biasanya menjadi konsumsi internal kalangan akademik untuk didiskusikan dan disempurnakan.

“Nah kalau penelitian pertama itu masih ongoing, belum final, jangan dulu disampaikan kepada publik. Itu seharusnya menjadi konsumsi para peneliti atau kebutuhan akademik untuk didiskusikan dan disempurnakan,” ujarnya.

Jadi Buku

Emrus juga menyoroti langkah Rismon yang mempublikasikan hasil penelitian tersebut dalam bentuk buku.

Baca juga: 5 Fakta Rismon Sianipar Minta Maaf ke Jokowi, Makanan dan Ulos Batak Jadi Simbol Itikad Baik

Menurutnya, publikasi dalam bentuk buku biasanya menunjukkan bahwa suatu penelitian sudah dianggap matang dan layak disebarluaskan kepada masyarakat luas.

“Kalau sudah dibuat dalam bentuk buku, hampir dapat dikatakan penelitian itu sudah wajar dipublikasikan kepada masyarakat. Apalagi buku bukan seperti jurnal akademik yang biasanya dikonsumsi kalangan akademisi,” kata dia.

Karena itu, Emrus menilai keputusan mempublikasikan penelitian yang disebut masih ongoing berpotensi menimbulkan persoalan kredibilitas bagi seorang peneliti.

Ia menyarankan Rismon untuk menjelaskan kepada publik bahwa penelitian awal tersebut sebenarnya belum layak dipublikasikan secara luas apabila memang masih dalam tahap proses.

“Kalau penelitian itu masih ongoing, jangan dipublikasikan dulu secara terbuka kepada publik, karena ini bisa menyangkut kredibilitas seorang peneliti, belum final kok jadi buku,” kata Emrus.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved