Wamenaker: Kualitas SDM Kunci Produktivitas, Kapasitas BLK Wajib Diperluas
Percepatan industrialisasi dan re-industrialisasi harus bertumpu pada peningkatan kualitas SDM serta penguatan sinergi pendidikan dan industri
Ringkasan Berita:
- Wamenaker  menyebut percepatan industrialisasi dan re-industrialisasi di Indonesia harus bertumpu pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) serta penguatan sinergi antara dunia pendidikan dan industri (link and match)
- Peningkatan kompetensi tenaga kerja merupakan pondasi utama menghadapi perubahan peta industri
- Lingkungan kerja yang kondusif hanya dapat tercipta jika terdapat hubungan yang harmonis dan transparansi antara buruh dengan pihak pengusaha
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Afriansyah Noor menyatakan bahwa percepatan industrialisasi dan re-industrialisasi di Indonesia harus bertumpu pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) serta penguatan sinergi antara dunia pendidikan dan industri (link and match).Â
Afriansyah menekankan bahwa langkah strategis ini sangat krusial untuk mendorong ketahanan pangan nasional serta memperkuat peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam perekonomian global.
“Kualitas SDM adalah kunci produktivitas di era industri baru. Kita harus memastikan kebijakan ketenagakerjaan berjalan seimbang, menguntungkan bagi pekerja sekaligus mendukung produktivitas pengusaha," kata Afriansyah kepada Tribunnews.com, Kamis (26/3/2026).
Menurut Afriansyah, peningkatan kompetensi tenaga kerja merupakan pondasi utama menghadapi perubahan peta industri.Â
Karena itu, ia mendorong perluasan kapasitas Balai Latihan Kerja (BLK) di berbagai wilayah agar program pelatihan yang diberikan relevan dengan kebutuhan industri terkini.
Baca juga: Kemnaker Koordinasikan Mudik Gratis bagi 12.690 Pekerja dan Ojol Jelang Lebaran
Ia menilai, revitalisasi BLK harus dilakukan secara masif agar mampu mencetak tenaga kerja terampil yang siap pakai, sehingga angka pengangguran dapat ditekan melalui penyerapan tenaga kerja yang efektif.
Selain fokus pada kompetensi, Wamenaker juga mengusung "Visi Hubungan Industrial Baru".
Visi ini mengedepankan komunikasi dialogis antara serikat pekerja atau buruh dengan pihak pengusaha.Â
Menurut dia, lingkungan kerja yang kondusif hanya dapat tercipta jika terdapat hubungan yang harmonis dan transparansi antara kedua belah pihak.
Baca juga: Siapkan Tenaga Ahli K3, Kemnaker Catat 1.565 Peserta Lulus Evaluasi Teori
"Kita harus mengedepankan dialog untuk meminimalisir konflik industrial. Hubungan yang harmonis akan menciptakan stabilitas ekonomi yang pada akhirnya menarik investasi lebih besar," ucapnya.
Terkait pendidikan, Afriansyah menyoroti pentingnya kurikulum yang dinamis dan terhubung langsung dengan kebutuhan pasar kerja.Â
Praktik link and match antara sekolah vokasi atau universitas dengan perusahaan harus terus diperkuat agar tidak terjadi kesenjangan (mismatch) antara lulusan pendidikan dengan kualifikasi yang dicari industri.
Di sisi lain, ia juga menyinggung peran strategis para insinyur dan pemanfaatan teknologi dalam mendukung ketahanan pangan.Â
Penguasaan teknologi tepat guna oleh tenaga kerja terampil diharapkan mampu membawa Indonesia berdaulat secara pangan dan mandiri secara ekonomi.Â
"Insinyur memiliki peran vital dalam inovasi teknologi untuk mendukung industrialisasi. Sinergi antara keahlian teknik dan kebijakan yang tepat akan menjadi motor penggerak utama penguatan BUMN kita ke depan," tutur Afriansyah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Wawancara-Khusus-Wamenaker-Afriansyah-Noor_20251122_163400.jpg)