Kamis, 30 April 2026

Ancaman Krisis Energi

Harga Minyak Dunia Naik Imbas Perang Iran Vs Israel-AS, Ketahanan Energi Nasional Jadi Sorotan

Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah dinilai memberikan tekanan signifikan terhadap fiskal.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Reza Deni
Editor: Wahyu Aji
HO/IST
KETAHANAN ENERGI - Ketua Dewan Direktur GREAT Institute, Dr. Syahganda Nainggolan, membuka Focus GREAT Discussion (FGD) bertajuk “Tantangan Ketahanan Energi Indonesia di Tengah Turbulensi Geopolitik”, Rabu (1/4/2026) di Jakarta. 

Ringkasan Berita:
  • Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah dinilai memberikan tekanan signifikan terhadap fiskal dan ketahanan energi Indonesia, termasuk potensi pelebaran defisit anggaran.
  • Kenaikan harga minyak yang melampaui asumsi APBN berimplikasi pada peningkatan beban subsidi energi, sementara cadangan energi nasional dinilai masih terbatas.
  • Diperlukan langkah strategis, maupun percepatan transisi energi, guna menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan energi nasional.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - “Ini sebuah upaya kontribusi GREAT Institute terhadap permasalahan bangsa yang tengah—dan mungkin akan kita hadapi ke depan seiring perkembangan geopolitik dunia,” kata Ketua Dewan Direktur GREAT Institute, Dr. Syahganda Nainggolan, membuka Focus GREAT Discussion (FGD) bertajuk “Tantangan Ketahanan Energi Indonesia di Tengah Turbulensi Geopolitik”, Rabu (1/4/2026) di Jakarta. 

Nada itu bukan sekadar formalitas pembuka.  

Syahganda langsung mengaitkan forum ini dengan realitas global yang sedang bergolak.  

“Tak bisa dimungkiri, saat ini dunia tengah menghadapi persoalan energi seiring perang di Timur Tengah. Kita lihat, negara-negara tetangga sudah mulai mengalami kenaikan harga BBM sebagai dampak langsung dari perang Iran–Israel–Amerika Serikat,” kata dia. 

FGD yang dihadiri puluhan peserta itu mempertemukan sejumlah nama yang kerap muncul di ruang publik—dari ahli energi, ekonom, pejabat, hingga pelaku industri.  

Hadir antara lain Yudo Dwinanda Priaadi, Irwanuddin Kulla, Indra Kusumawardhana, Mohamad Fadhil Hasan, Kukuh Kumara, Ilham Rizqi Sasmita, Hari Budianto (Sekjen AISI—Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia), Mayjen TNI Priyanto, Pujo Widodo, Anggawira, hingga Sripeni Inten Cahyani yang bergabung secara daring. Diskusi dipandu peneliti GREAT Institute, Trisha Devita. 

Paparan Tim Ekonomi GREAT Institute menjadi salah satu titik pijak diskusi.  

Mereka menekankan bahwa lonjakan harga minyak global akibat konflik bukan lagi sekadar isu geopolitik, melainkan telah berubah menjadi tekanan fiskal langsung bagi Indonesia. 

Dalam materi yang dipresentasikan, harga minyak dunia sempat melonjak hingga mendekati 120 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 yang hanya 70 dolar AS. 

“Indonesia pasti terimbas perang ini,” kata peneliti GREAT Institute, Yossi Martino.  

“Turbulensi global akibat kenaikan harga minyak dengan nyata berpengaruh pada ekonomi kita.” 

Dalam salah satu skenario defisit fiskal terburuk yang disusun GREAT, defisit anggaran berpotensi melebar hingga 3,80 persen sampai 4,30 persen terhadap PDB dengan asumsi harga minyak bertahan di rentang USD 105-120 per barel.  

Tekanan ini tidak berdiri sendiri.  

Presentasi juga menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1 dolar harga minyak dapat menambah beban subsidi energi hingga triliunan rupiah, sekaligus mempersempit ruang fiskal negara. 

Di sisi lain, Indonesia berada dalam posisi rentan karena cadangan energi nasional relatif tipis—sekitar 20–25 hari konsumsi, jauh di bawah standar ideal 90 hari sebagaimana rekomendasi internasional. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved