Prajurit TNI Gugur di Lebanon
TB Hasanuddin Minta Pemerintah Evaluasi Keterlibatan TNI Dalam Misi Perdamaian PBB di Lebanon
Pemerintah diminta segera mengambil langkah serius memastikan adanya investigasi menyeluruh terkait penyebab ledakan yang melukai prajurit TNI.
Ringkasan Berita:
- Insiden ledakan yang melukai tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian PBB di Lebanon Selatan kembali memicu sorotan terhadap aspek keamanan pasukan Indonesia di wilayah konflik.
- TB Hasanuddin menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah serius.
- Utamanya dalam memastikan adanya investigasi menyeluruh serta penguatan langkah mitigasi di lapangan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Insiden ledakan yang melukai tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian PBB di Lebanon Selatan kembali memicu sorotan terhadap aspek keamanan pasukan Indonesia di wilayah konflik.
Peristiwa yang terjadi di El Adeisse pada Jumat (3/4/2026) tersebut menambah daftar risiko yang dihadapi personel TNI dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Baca juga: KSAD: 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon Putra Terbaik yang Kami Pilih untuk Menjaga Perdamaian
Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah serius, terutama dalam memastikan adanya investigasi menyeluruh serta penguatan langkah mitigasi di lapangan.
"Pemerintah harus segera mendorong investigasi yang menyeluruh, transparan, dan independen. Perwakilan Tetap RI di PBB perlu melayangkan desakan resmi kepada Dewan Keamanan PBB dan Sekretariat Jenderal PBB untuk mengusut tuntas insiden ini," kata TB Hasanuddin, kepada wartawan, Minggu (5/4/2026).
Menurutnya, penyelidikan harus mampu mengungkap secara jelas penyebab ledakan, termasuk kemungkinan adanya pelanggaran hukum internasional.
"Fokus investigasi harus memastikan apakah ini murni dampak konflik atau ada unsur kesengajaan. Jika terbukti ada serangan terhadap personel penjaga perdamaian, maka itu adalah pelanggaran serius dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang," ujar legislator PDIP tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya sikap tegas Indonesia dalam forum internasional, mengingat serangan terhadap personel dan atribut PBB tidak bisa ditoleransi.
Di sisi lain, peran Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dinilai krusial dalam mengawal proses investigasi yang dilakukan UNIFIL.
"Kemlu harus melakukan monitoring ketat terhadap seluruh tahapan penyelidikan oleh UNIFIL, mulai dari pengumpulan bukti, analisis data, hingga verifikasi kronologi kejadian. Selain itu, Kemlu juga harus memastikan hak-hak prajurit yang terluka terpenuhi dan terus memberikan tekanan diplomatik agar proses ini berjalan tuntas," ucapnya.
Tak hanya soal investigasi, TB Hasanuddin juga mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan prajurit TNI di area penugasan.
Dia meminta Mabes TNI melakukan peninjauan ulang terhadap prosedur operasional dan strategi pengamanan.
"Evaluasi harus mencakup peninjauan posisi pos agar berada di zona yang lebih aman, peningkatan perlindungan fisik di pangkalan, serta pengetatan SOP saat terjadi eskalasi di sekitar area tugas," ujarnya.
Lebih lanjut, ia membuka kemungkinan peninjauan kembali keterlibatan Indonesia dalam misi UNIFIL apabila kondisi keamanan terus memburuk.
"Kalau kehadiran kita di sana tidak lagi memberikan manfaat signifikan dan justru membahayakan prajurit TNI, sementara pihak-pihak di lapangan tidak kooperatif dan PBB terlihat lemah, maka opsi untuk menarik pasukan harus mulai dipikirkan secara serius," katanya.
Kendati demikian, ia menegaskan bahwa komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia tetap harus dijaga, dengan tetap menempatkan keselamatan prajurit sebagai prioritas utama.
"Keselamatan prajurit adalah prioritas utama. Komitmen internasional harus tetap dijalankan, tetapi dengan perhitungan matang dan perlindungan maksimal bagi setiap personel kita," pungkasnya.
Asal Usul Ledakan Belum Diketahui
Sementara itu, pihak UNIFIL menyatakan hingga kini penyebab ledakan masih belum dapat dipastikan. Juru bicara UNIFIL menyebut proses penyelidikan masih berlangsung.
"Kami belum mengetahui asal-usul ledakan tersebut," kata Juru Bicara UNIFIL Kandice Ardiel dalam keterangannya, dikutip pada Sabtu (4/4/2026).
Diketahui, tiga prajurit TNI menjadi korban dalam insiden tersebut, dua di antaranya mengalami luka serius dan telah dievakuasi ke rumah sakit.
Sementara sebelumnya, tiga prajurit TNI telah gugur saat menjalankan misi pemeliharaan perdamaian PBB di Lebanon atau UNIFIL.
Tiga prajurit TNI yakni Praka Farizal Romadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan sebelumnya gugur dalam insiden yang terjadi di dua lokasi dan dua waktu berbeda saat menjalankan misi pemeliharaan perdamaian di bawah mandat PBB atau UNIFIL di Lebanon.
Praka Farizal gugur akibat ledakan proyektil artileri di posisi UNIFIL dekat Adchit Al Qusayr pada Minggu (29/3/2026).
Seorang prajurit TNI penjaga perdamaian juga terluka parah dalam insiden tersebut.
Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan gugur saat sebuah ledakan di pinggir jalan menghancurkan kendaraan mereka di dekat Bani Hayyan pada Senin (30/3/2026).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/wawancara-khusus-dengan-anggota-komisi-i-dpr-tb-hasanuddin_20240716_231101.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.