Makna Pujian WHO terhadap Sistem Kesehatan RI Menurut Pakar
Pujian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap Indonesia dalam pengendalian penyakit zoonosis melalui pendekatan One Health menuai perhatian.
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pujian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap Indonesia dalam pengendalian penyakit zoonosis melalui pendekatan One Health menuai perhatian.
Namun di balik apresiasi tersebut, pakar mengingatkan agar Indonesia tidak terlena dan tetap waspada terhadap berbagai celah dalam sistem kesehatan.
Epidemiolog dan peneliti global health security, Dicky Budiman, menilai pujian WHO perlu dimaknai secara hati-hati.
Menurutnya, apresiasi tersebut tidak hanya berdimensi teknis, tetapi juga bagian dari strategi diplomasi global.
“Makna pujian WHO ini ada dua arti sebetulnya diplomasi dan substansi,” ujarnya pada Tribunnews, Rabu (8/4/2026).
Baca juga: Langkah Pemerintah Antispasi Penularan Zoonosis dan Infeksi Baru di Indonesia
Ia menjelaskan, WHO sebagai lembaga internasional tidak hanya berperan sebagai mitra teknis, tapi juga aktor diplomasi yang mendorong keberlanjutan program kesehatan di negara anggotanya.
Dalam konteks ini, pujian kepada Indonesia menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi sekaligus mengangkat praktik baik yang sudah dilakukan.
Meski demikian, Dicky menegaskan bahwa capaian Indonesia masih berada pada tahap awal dan belum mencerminkan kekuatan sistem secara menyeluruh.
Menurutnya, keberhasilan yang ada saat ini lebih bersifat parsial, belum sistemik.
“Pujian itu sebetulnya conditionally valid tapi bukan berarti sistem kita sudah kuat secara sistemik,” jelasnya.
Ia mencontohkan beberapa capaian yang patut diapresiasi, seperti penurunan kasus rabies di wilayah tertentu setelah intervensi vaksinasi, peningkatan kapasitas laboratorium, serta mulai terbangunnya integrasi data lintas sektor.
Namun di sisi lain, masih terdapat berbagai tantangan mendasar.
Integrasi One Health dinilai masih bersifat programatik, belum menjadi bagian dari struktur sistem yang kuat. Koordinasi lintas sektor juga masih bergantung pada individu, bukan sistem yang berjalan otomatis.
Selain itu, pembiayaan masih terfragmentasi dan bergantung pada dukungan donor, sehingga berpotensi tidak berkelanjutan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/para-ahli-dari-pusat-nasional-untuk-penyakit-zoonosis-mengambil-sampel.jpg)