Minggu, 12 April 2026

Budi Arie Dorong Projo Bertransformasi Jadi Gerakan Rakyat, Bukan Sekadar Ormas

Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, menilai situasi dunia maupun nasional saat ini sedang berada dalam fase penuh ketidakpastian.

Editor: Adi Suhendi
TRIBUNNEWS/IMANUEL NICOLAS MANAFE
PROJO - Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, di Studio Tribunnews, Jakarta, Kamis (14/8/2025). Ia menilai situasi dunia maupun nasional saat ini sedang berada dalam fase penuh ketidakpastian. 

Ringkasan Berita:
  • Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi menilai situasi global dan nasional saat ini penuh ketidakpastian.
  • Ia menekankan pentingnya konsolidasi organisasi hingga akar rumput, serta transformasi agar tetap relevan menghadapi perubahan zaman.
  • Dalam Konferensi Daerah Jawa Timur, ia menegaskan organisasi tidak boleh berhenti sebagai ormas biasa, melainkan harus menjadi gerakan rakyat yang dinamis dan berkelanjutan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, menilai situasi dunia maupun nasional saat ini sedang berada dalam fase penuh ketidakpastian.

Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut setiap elemen bangsa, termasuk organisasi masyarakat, untuk mampu beradaptasi dan memperkuat peran dalam menjaga stabilitas.

Budi Arie Setiadi, menilai ketidakpastian global yang terjadi saat ini tidak bisa dipandang sebelah mata.

Ia mengingatkan bahwa dinamika geopolitik dan ekonomi dunia akan berdampak langsung terhadap kondisi dalam negeri, sehingga diperlukan kesiapan kolektif dari seluruh elemen masyarakat.

Ia juga mengimbau para kader untuk tetap menjaga persatuan di tengah situasi yang penuh tantangan. Ia menegaskan bahwa Projo harus hadir sebagai kekuatan yang mampu meredam potensi konflik serta memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat.

Baca juga: Budi Arie Minta Setop Teror Ramalan Kekacauan: Jangan Mau Diadu Domba!

Pernyataan tersebut disampaikan Budi Arie saat membuka Konferensi Daerah (Konferda) Projo Jawa Timur yang digelar di Hotel 101, Kota Malang, Sabtu (12/4/2026).

Projo adalah organisasi kemasyarakatan yang awalnya terbentuk sebagai relawan pendukung Joko Widodo sejak Pemilu 2014.

Seiring waktu, Projo berkembang menjadi wadah gerakan sosial-politik yang mengusung semangat kerakyatan dengan basis kader di berbagai daerah di Indonesia.

Dalam pidatonya, ia menekankan pentingnya transformasi organisasi agar tetap relevan menghadapi perubahan zaman.

Baca juga: Budi Arie Minta Pemerintah Bijak Respons Kritik Rakyat: Itu Masukan, Bukan Ancaman

Budi Arie menjelaskan bahwa penyelenggaraan Konferda ini merupakan amanat langsung dari Kongres Projo.

Agenda tersebut bertujuan memastikan organisasi tetap terkonsolidasi hingga ke tingkat akar rumput, sekaligus memperkuat soliditas internal di tengah dinamika yang terus berkembang.

Ia menegaskan bahwa Projo tidak boleh berhenti hanya sebagai organisasi kemasyarakatan biasa.

“Projo tidak boleh berhenti hanya sebagai organisasi kemasyarakatan (ormas) biasa. Kita harus bertransformasi menjadi sebuah Gerakan Rakyat yang dinamis dan berkelanjutan,” tegasnya di hadapan ratusan kader.

Lebih lanjut, Budi Arie mengingatkan kembali jati diri Projo sebagai gerakan yang lahir dari rakyat. Ia menekankan bahwa prinsip “Setia di Garis Rakyat” harus menjadi pegangan utama seluruh anggota dalam menjalankan peran organisasi.

“Di masa yang penuh tantangan ini, saya minta seluruh kader Projo di Jawa Timur jangan mudah terprovokasi. Jaga persatuan dan kesatuan bangsa. Kita harus menjadi jangkar yang memperkuat stabilitas nasional,” ujarnya.

Konferda Projo Jawa Timur ini merupakan yang pertama digelar dalam rangkaian konsolidasi nasional tahun ini.

Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan dari 38 kota dan kabupaten se-Jawa Timur, perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, serta sejumlah pengurus DPP Projo, di antaranya Sekjen Fredi Alex Damanik, Waketum Cahaya Sinaga, dan Ketua OKK Fredi Prasetyo. 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved