Program Medical Tourism Surabaya Resmi Meluncur, Tawarkan Layanan Kesehatan Internasional Terpadu
Pemkot Surabaya luncurkan program medical tourism yang mengintegrasikan layanan 8 rumah sakit unggulan dengan sektor pariwisata.
"Kalau sudah masuk ke medical tourism, maka kebutuhan rumah sakit terhadap dokter spesialisnya pasti terpenuhi. Karena kalau dokter spesialisnya tidak terpenuhi, maka tidak mungkin mendapatkan sertifikat medical tourism," tuturnya.
Wali Kota Eri pun menargetkan jumlah pasien medical tourism bisa mencapai 500 hingga 1.000 orang dalam beberapa bulan pertama pelaksanaan. Target tersebut dinilai realistis mengingat tingginya minat pasien dari Indonesia Timur hingga luar negeri yang datang ke Kota Surabaya.
"Jadi ini target yang ditentukan. 500 sampai dengan 1000 orang yang ada (datang) di Kota Surabaya, kita lihat dari beberapa bulan ke depan," ujarnya.
Untuk mendukung pencapaian target tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya akan menggencarkan promosi melalui berbagai moda transportasi. Seperti melalui pesawat, kereta api, hingga kapal laut, dengan menonjolkan keunggulan layanan medis dan dokter spesialis di masing-masing rumah sakit.
"Kita bisa melihat sudah banyak dari Indonesia Timur, dari internasional, dari luar negeri, yang datang ke Surabaya. Maka, promosi itu kita genjot lagi dengan kelebihan dan kemampuan dari masing-masing dokter dan pelayanan unggulan di masing-masing rumah sakit," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, menjelaskan konsep medical tourism menggabungkan layanan kesehatan dengan wisata dalam satu paket harga. Pasien akan mendapatkan perawatan medis, sementara keluarga yang mendampingi dapat menikmati fasilitas wisata.
Baca juga: Eri Cahyadi Imbau Warga Peduli Bantu Keluarga Pramiskin, Terinspirasi Soekarno
"Prinsipnya kan pelayanan dengan wisata. Jadi garis besarnya yang sakit kita rawat, keluarga yang tidak sakit mungkin mau ke mana-ke mana kita bisa layani," ujar dr Billy.
Ia mencontohkan pengalaman penanganan pasien dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua. Pasien tersebut dilayani mulai dari penjemputan di Bandara Juanda menggunakan ambulans hingga perawatan di rumah sakit sampai sembuh.
"Mulai dari sana mereka terbang, jemput di Juanda dengan ambulans kita. Dari situ kita langsung bawa ke rumah sakit (dirawat) sudah, sampai sembuh baru pulang lagi dia," jelas dr Billy.
Terkait biaya, Billy menyebutkan bahwa layanan medical tourism di Surabaya relatif lebih terjangkau dibandingkan negara lain seperti Malaysia dan Singapura. Sebab, biaya tersebut mengacu pada regulasi Peraturan Daerah (Perda) Kota Surabaya. "Kalau dibandingkan dengan Malaysia atau Singapura, kita jauh lebih murah," katanya.
Ia memperkirakan biaya layanan di rumah sakit Surabaya hanya sekitar 75 persen dibandingkan biaya berobat di Malaysia atau Singapura. "Perbandingannya jika di sana 100 persen, di sini mungkin hanya 75 persen. Jadi bisa hemat sekitar 25 persen," paparnya.
Adapun delapan rumah sakit yang tergabung dalam program medical tourism Surabaya meliputi RSUD Dr. Mohamad Soewandhie, Rumah Sakit Husada Utama, Rumah Sakit Ubaya, Rumah Sakit Premier Surabaya, RSUD Dr. Soetomo, Rumah Sakit Katolik St. Vincentius a Paulo (RKZ) Surabaya, Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS UNAIR), dan Rumah Sakit Siloam.
Seluruh instansi tersebut menawarkan berbagai layanan unggulan. Seperti di antaranya, onkologi, penggantian sendi lutut (Total Knee Replacement), bayi tabung, hemodialisa, radiologi, bedah saraf, imunoterapi, bedah jantung, rekonstruksi kraniofasial, hingga layanan pengobatan tradisional dan komplementer. (ADV)
Baca juga: Lindungi Perempuan dan Anak, Pemkot Surabaya Perketat Layanan Adminduk Pascacerai
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Program-Medical-Tourism-Surabaya-Siap-Layani-Pasien-Domestik-hingga-Internasional.jpg)