Senin, 18 Mei 2026

Rupiah Anjlok Jadi Rp17.300 per Dolar AS, Pengamat: Terburuk, tapi Tak seperti Krisis 1997-1998

Meski kondisinya buruk, tetapi masih jauh jika dibandingkan krisis moneter 1997-1998 di mana Rupiah sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • Nilai tukar Rupiah merosot jadi Rp17.300 per dolar AS pada Kamis (23/4/2026) pagi, bahkan disebut-sebut mencapai rekor terburuk sepanjang sejarah RI.
  • Akan tetapi, pengamat ekonomi Moch. Doddy Ariefianto menilai, kondisi nilai tukar Rupiah ini memang buruk, tetapi masih jauh jika dibandingkan krisis moneter 1997-1998 di mana Rupiah sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS.
  • Kata Doddy, hal ini diliat dari besaran depresiasinya. Saat krisis 1997-1998, depresiasi Rupiah mencapai 300 persen lebih.

TRIBUNNEWS.COM - Pengamat ekonomi dari BINUS University, Moch. Doddy Ariefianto, menanggapi nilai tukar rupiah yang mencapai Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (23/4/2026) pagi.

Nilai tukar rupiah merosot ke level Rp17.312 per dolar AS sekitar pukul 09.36 WIB.

Angka ini disebut-sebut sebagai rekor terburuk sepanjang sejarah RI.

Akan tetapi, Doddy menilai meski kondisinya memang buruk, tetapi tidak lebih buruk dibandingkan krisis moneter 1997-1998 di mana Rupiah sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS.

"Kalau dari segi posisi kita bilangnya terburuk ya, walaupun sebenarnya enggak terlalu tepat, karena saya mengalami tahun 97–98 krisis, rasanya kita sempat menyentuh 18.000 ya, mungkin dalam satu titik hari ya," kata Doddy, dikutip dari tayangan di kanal YouTube Liputan6, Kamis.

"Bisa kita katakanlah, kita termasuk posisi yang terjelek ya, seperti itu. Tapi, tentu saja saya enggak mengatakan bahwa kita berada seperti dalam posisi 1997–1998. Jauh, ya."

Doddy lantas menjelaskan bagaimana nilai tukar rupiah saat ini tidak seburuk krisis 1997-1998, jika dilihat depresiasinya.

Kata pria yang pernah menjabat sebagai ekonom senior di Bank Mandiri tersebut, saat krisis moneter 1997, depresiasi rupiah mencapai 300 persen lebih.

Awalnya nilai tukar rupiah hanya Rp2.500 per dolar AS, merosot drastis hingga Rp15.000 per dolar AS.

Akan tetapi, saat ini rupiah mengalami depresiasi yang jauh lebih kecil, yakni 3,5 persen. Dibandingkan dengan awal tahun 2026, rupiah berada di level Rp16.800 per dolar AS, dan sekarang menjadi Rp17.300 per dolar AS.

"Kita harus ngelihatnya itu dari mana berangkatnya," papar Doddy.

Baca juga: Kemenkeu: Narasi APBN cuma Cukup 3 Bulan dan Rupiah Capai Rp20 Ribu per Dollar AS adalah Hoaks

"Kalau Anda lihat yang terjadi tahun '97 ya, tahun itu adalah rupiah itu sekitar 2.500, terus anjlok ke 15.000, itu berarti hampir depresiasi 300 persen lebih, kehilangan hingga cuma tinggal sepertiga harganya, seperti itu."

"Jadi, sedang kita kan kalau saya lihat ya pergerakannya, year-to-date dolar-rupiah itu baru depresiasi sekitar 3,5 persen."

"Awal tahun ini kan sekitar 16.800, kalau enggak salah ya, seperti itu. Tahun lalu 16.400."

Kemudian, Doddy mengamini bahwa Indonesia memang termasuk negara yang mendapat tekanan paling besar jika dibandingkan negara berkembang lain, seperti Malaysia, Thailand, India, hingga Brazil.

"Dan memang kalau kita bilang year-to-date dibandingkan dengan negara-negara berkembang lain, seperti Malaysia, Thailand, India, Brasil seperti itu, Indonesia dapat dikatakan termasuk salah satu yang terkena tekanan yang paling besar," jelasnya.

"Soalnya yang paling besar itu tekanannya terjadi pada Rupiah. Dia yang paling tertekan itu, dia mengalami depresiasi hampir 5 persen, kita kan 4 persen."

Kata Bank Indonesia

Melalui rilis resmi melalui akun media sosial X (dulu Twitter) @bank_indonesia pada Kamis (23/4/2026) malam, Bank Indonesia (BI) terus berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkap langkah-langkah strategis yang diambil BI terkait pergerakan rupiah yang menembus Rp17.300 per dolar AS.

Saat ini, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh ketidakpastian global yang juga dirasakan mata uang regional lainnya.

"Namun, pergerakan rupiah tercatat masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year-to-date (ytd) sebesar 3,54 persen," kata Destry.

Meskipun demikian, Destry menyatakan bahwa Bank Indonesia senantiasa hadir di pasar melalui peningkatan intensitas intervensi. 

Lebih lanjut, BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market untuk memastikan aset domestik tetap memiliki daya tarik bagi investor.

Langkah stabilisasi nilai tukar rupiah dilakukan secara konsisten melalui intervensi di berbagai lini, yakni sebagai berikut.

  • Pasar offshore (NDF)
  • Pasar domestik (Spot dan DNDF)
  • Pembelian SBN di pasar sekunder

Langkah-langkah ini dilakukan guna memitigasi dampak konflik global yang tengah berlangsung.

BI juga menegaskan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia tetap terjaga kuat.

Posisi cadangan devisa kita pada akhir Maret 2026 tercatat sebesar USD148,2 miliar. Jumlah ini sangat memadai dalam mendukung stabilitas nilai tukar. 

Bank Indonesia akan terus mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. 

(Tribunnews.com/Rizki A.)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved