Sabtu, 25 April 2026

Khutbah Jumat, 24 April 2026: Kembali Membaca, Kurangi Scroll yang Sia-Sia

Khutbah Jumat, 24 April 2026 mengangkat tema "Kembali Membaca, Kurangi Scroll yang Sia-Sia".

Penulis: Lanny Latifah
Surya/Purwanto
KHUTBAH JUMAT - Umat muslim melaksanakan salat Jumat pertama di bulan Ramadhan 1445 H di Masjid Agung Jami Kota Malang, Jawa Timur, Jumat (15/3/2024). Khutbah Jumat, 24 April 2026 mengangkat tema "Kembali Membaca, Kurangi Scroll yang Sia-Sia". SURYA/PURWANTO 

TRIBUNNEWS.COM - Khutbah Jumat, 24 April 2026 mengangkat tema "Kembali Membaca, Kurangi Scroll yang Sia-Sia".

Khutbah Jumat merupakan ceramah agama yang disampaikan oleh seorang khatib sebelum pelaksanaan salat Jumat, yang berisi pesan-pesan keagamaan dan pengingat bagi umat Islam.

Di tengah derasnya arus informasi digital, kebiasaan membaca perlahan mulai tergeser oleh aktivitas menggulir layar tanpa arah yang jelas.

Khutbah Jumat kali ini mengangkat tema penting tentang bagaimana umat Muslim diajak untuk kembali menumbuhkan budaya membaca yang bermanfaat, sekaligus mengurangi kebiasaan “scroll” yang sering kali tidak memberikan nilai tambah bagi kehidupan.

Dalam Islam, perintah membaca memiliki posisi yang sangat mulia.

Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW bahkan diawali dengan kata “Iqra” yang berarti “bacalah”.

Hal ini menunjukkan bahwa membaca bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga bagian dari ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Dengan membaca, seseorang dapat memperluas wawasan, memperdalam keimanan, serta memahami ajaran agama dengan lebih baik.

Melalui khutbah ini, diharapkan umat Muslim dapat lebih reflektif dalam memanfaatkan waktu dan teknologi.

Melansir laman simbi.kemenag.go.id, berikut teks khutbah Jumat, 24 April 2026:

Baca juga: Khutbah Jumat 24 April 2026: Cara Hadapi Tantangan Pergolakan Zaman

Kembali Membaca, Kurangi Scroll yang Sia-Sia

. الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ .

Mari kita panjatkan rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah Swt. Selawat dan salam semoga tercurahkan kepada baginda Rasulullah saw, keluarga sahabat serta pengikut beliau hingga akhir zaman. Tak lupa khatib berwasiat, mari kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Swt dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan mengerjakan semua perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. 

Jemaah salat Jum’at yang dirahmati Allah,

Di era disrupsi 4.0 ini, kita dihadapkan pada kenyataan di mana jari lebih sering scrolling (menggulir) layar smartphone daripada membolak-balik halaman buku. Alih-alih menerbitkan karya buku, media sosial, berita singkat berbumbu hoaks, dan video pendek telah mengambil alih sebagian besar waktu produktif kita.

Makanya tidak heran. tingkat literasi dan kegemaran membaca di Indonesia terendah di Asia, bahkan di Asia Tenggara. Tahun 2012 UNESCO menyebut minat atau kebiasaan membaca orang Indonesia sangat rendah, 1 berbanding 1.000 orang.

Laporan World Pupulation Review 2024 menempatkan Indonesia di peringkat 30 dari daftar negara dengan penduduk paling rajin membaca buku. Rata-rata buku yang dibaca orang Indonesia kurang dari enam judul per tahun dengan waktu rata-rata membaca buku hanya 129 jam dalam setahun. Indonesia masih di bawah Singapura, Thailand, Filipina, Vietnam, dan Malaysia. Saat ini, seringkali kita terjebak dalam scrolling yang sia-sia—tidak menambah ilmu, tidak pula mendatangkan pahala, justru seringkali membuat hati gelisah, iri, atau membuang waktu berjam-jam secara percuma. Rendahnya minat baca mungkin ada kaitannya dengan aktivitas di dunia maya yang berlama-lama.

Tentu kebiasaan scrolling yang tidak punya tujuan baik tidak hanya membuang waktu, tetapi juga mengganggu fokus kita dalam menjalani tugas sehari-hari, baik berupa pekerjaan, ibadah, maupun tanggung jawab keluarga. Tanpa sadar, kita bisa kehilangan perhatian terhadap hal-hal yang lebih penting, seperti menjaga hubungan dengan keluarga dan mendidik anak.

Oleh sebab itu, agar kita tidak terjebak ke dalam budaya scrolling yang sia-sia, maka penting bagi kita untuk menetapkan tujuan awal sebelum membuka media sosial. Perlu kita buat asesmen semisal informasi apa yang ingin kita cari atau pahami hari ini? Dengan tujuan yang jelas semacam ini, maka kita bisa lebih selektif dalam menyaring konten dan menghindari informasi yang justru melemahkan konsentrasi. Alih-alih menjadi korban arus algoritma, kita bahkan bisa memanfaatkan platform digital sebagai sarana untuk menambah wawasan dan memperkuat nilai-nilai yang kita pegang.

Ini sejalan dengan penekanan Al-Qur’an mengenai indikator orang-orang beriman yang beruntung, yakni ketika mereka mampu berpaling dan menjauh dari perbuatan-perbuatan yang tidak berguna, seperti terlalu lama dan sering scrolling media sosial. Allah berfirman:

. قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ * الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ * وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ.

“Sungguh beruntunglah orang-orang mukmin. (Yaitu) orang yang khusuk dalam salatnya, dan orang-orang yang meninggalkan (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.” (Q.S. Al-Mu’minun [23]: 1-3).

Merujuk penjelasan Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Al-Qur’anil Adzim, jilid V, halaman 462, menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak berguna mencakup perbuatan syirik, maksiat, serta segala ucapan dan tindakan yang tidak memberikan manfaat apa-apa. Maka orang beriman yang beruntung adalah mereka yang berhasil menjauhkan dirinya dari semua itu,

Rasulullah saw juga menggarisbawahi tanda kesempurnaan Islam seseorang terletak pada kemampuan meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat pada dirinya. Beliau bersabda:

. مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ.

“Sebagian dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (H.R. at-Tirmidzi).

Sidang Jum’at yang berbahagia,

Islam hadir di tengah masyarakat jahiliah dengan semangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah saw adalah perintah untuk membaca "Iqra'!" (Bacalah!).

Maksud perintah membaca di sini sebenarnya bukan sekadar membaca teks di media sosial, melainkan membaca Al-Qur'an, menelaah kitab-kitab para ulama, mempelajari ilmu pengetahuan, serta membaca tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.

Allah Swt berfirman dalam surat Az-Zumar [39] ayat 9:

. قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ.

"Katakanlah (Nabi Muhammad), apakah sama orang-orang yang mengetahui (hak-hak Allah) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (hak-hak Allah)? Sebenarnya hanya ululalbab (orang yang berakal sehat) yang dapat menerima pelajaran." 

Melalui ayat ini Allah Swt menganjurkan hambanya untuk banyak membaca karena orang yang banyak membaca akan lebih banyak memiliki pengetahuan. Orang yang berpengetahuan tentu berbeda dengan dengan orang-orang yang tidak belajar atau banyak membaca. Allah menyebut orang yang banyak membaca dan mengambil pelajaran sebagai ululalbab, yaitu oorang yang berakal sehat.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Melalui momentum Hari Buku Sedunia tanggal 23 April ini, mari instropeksi. Lakukan kontrol diri dalam menggunakan waktu yang tidak produktif seperti scrolling yang terlalu sering dan lama, tanpa arah dan tujuan yang jelas, bisa menjadi bentuk nyata dari berpaling dari tujuan yang utama. Mari kita kembali membangun tradisi membaca buku dan berorientasi pada kemajuan peradaban umat Islam dengan cara, di antaranya:

Pertama, selalu membaca Al-Qur'an. Jadikan Al-Qur'an sebagai bacaan utama harian kita, bukan sekadar pajangan di rak buku. Tentu tidak hanya membaca ayat, tapi juga membaca terjemah, tafsir dan memahami maknanya.

Kedua, membaca buku-buku ilmu pengetahuan. Bacalah sirah nabawiyah, fikih, tafsir, atau buku pengembangan diri yang menambah wawasan keislaman dan pengetahuan umum yang bermanfaat.

Ketiga, kurangi scrolling di internet yang sia-sia. Jadikan media sosial sebagai alat mencari ilmu, bukan tempat menghabiskan waktu.

Maka jika waktu yang kita gunakan untuk scrolling bisa kita ganti dengan membaca ilmu yang bermanfaat, niscaya hati akan lebih tenang, wawasan bertambah, dan pahala mengalir.

Jika koleksi buku terbatas di rumah, maka bisa memanfaatkan koleksi buku di perpustakaan masjid terdekat atau dengan mengakses buku digital di platform ELIPSKI di laman. www.simbi.kemenag.go.id/eliterasi/. Dengan demikian, tingkat literasi dan kegemaran membaca orang Indonesia mengalami perbaikan dan meningkat. Amin.

. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

. الْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ فِيمَا أَمَرَ وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

(Tribunnews.com/Latifah)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved