Sabtu, 25 April 2026

Bahlil: Politik Identitas Sudah Bukan Zamannya Lagi

Bahlil Lahadalia menegaskan politik identitas tak lagi relevan. Golkar, kata dia, terbuka bagi semua suku, agama, dan daerah.

Penulis: Fersianus Waku
Tribunnews.com/Fersianus Waku
PASKAH GOLKAR - Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, usai menghadiri Pentas Musik dan Refleksi Paskah Nasional Partai Golkar 2026 di Tennis Indoor Senayan, Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, Jumat (24/4/2026). Dalam kesempatan itu, Bahlil menegaskan politik identitas tidak lagi relevan dalam kehidupan politik nasional. 
Ringkasan Berita:
  • Bahlil menegaskan Golkar tak membedakan suku, agama, maupun asal daerah kader.
  • Ketua Umum Golkar menilai perdebatan identitas tak relevan di era modern.
  • Pernyataan disampaikan Bahlil dalam Refleksi Paskah Nasional Golkar 2026.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menegaskan politik identitas tidak lagi relevan di era modern.

Menurutnya, perdebatan mengenai suku, agama, maupun asal daerah sudah seharusnya ditinggalkan.

Pernyataan itu disampaikan Bahlil saat menghadiri Pentas Musik dan Refleksi Paskah Nasional Partai Golkar 2026 di Tennis Indoor Senayan, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat, Jumat (24/4/2026).

Bahlil mengatakan, Partai Golkar sejak awal berdiri tidak pernah membedakan latar belakang kader maupun anggotanya.

"Di Golkar tidak pernah membedakan di mana kau berasal, suku apa, agama apa. Karena Golkar lahir untuk hadir dalam rangka memberikan karya nyata, seperti kasih menembus perbedaan," kata Bahlil.

Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu, politik seharusnya tidak lagi terjebak pada perdebatan identitas.

Ia menilai masyarakat saat ini membutuhkan persatuan dan kerja nyata, bukan sekadar mempertentangkan perbedaan.

"Di era modernisasi seperti sekarang, apa artinya kita berdebat tentang suku? Apa artinya kita berdebat tentang dari mana wilayah? Apa artinya kita berdebat tentang satu hitam, satu putih? Satu lurus rambut, satu keriting rambut? Bukan zamannya lagi."

Baca juga: KPK Usul Ketum Parpol Maksimal 2 Periode, Bahlil: Golkar Setiap Munas Ada Ketum Baru

Dalam sambutannya, Bahlil juga menyinggung nilai-nilai toleransi yang menurutnya menjadi landasan penting dalam kehidupan berbangsa.

Ia mengutip ajaran kasih sebagai pesan universal yang melampaui batas agama, suku, dan golongan.

"Tuhan mengajarkan kita untuk saling mengasihi sesama umat manusia," ujarnya.
Bahlil menambahkan, perayaan hari besar keagamaan di Partai Golkar bukan hal baru. Menurutnya, hal itu mencerminkan komitmen partai dalam merawat keberagaman.

Pernyataan tersebut kembali menegaskan posisi Golkar sebagai partai yang menempatkan persatuan di atas perbedaan identitas.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved