Hari Pendidikan Nasional
10 Puisi Hari Pendidikan Nasional Karya Sastrawan Indonesia
Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026 dapat diperingati dengan membaca puisi bertema pendidikan. Berikut kumpulan puisi untuk Hari Pendidikan Nasional.
Ringkasan Berita:
- Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap 2 Mei, yaitu pada tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara, pelopor pendidikan Indonesia dan pendiri Taman Siswa.
- Ia berjuang memajukan pendidikan melalui tulisan dan pemikiran hingga mendapat gelar Pahlawan Nasional.
- Peringatan ini dapat diisi dengan membaca puisi bertema pendidikan seperti karya W.S. Rendra dan Taufiq Ismail.
- Puisi-puisi tersebut menyoroti pentingnya pendidikan yang membentuk karakter, menghargai guru, dan dekat dengan kehidupan nyata.
TRIBUNNEWS.COM - Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) akan diperingati pada Sabtu, 2 Mei 2026.
Tanggal 2 Mei merupakan tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan di Indonesia.
Lahir pada tahun 1889, beliau diberi nama Raden Mas Soewardi Suryaningrat yang merupakan keluarga bangsawan Paku Alam di Yogyakarta.
Karena status sosialnya, Ki Hajar Dewantara mengenyam pendidikan di sekolah Belanda, seperti ELS (Europeesche Lagere School), sebelum melanjutkan ke STOVIA, sekolah pendidikan calon dokter bagi pribumi.
Namun, karena kondisi kesehatan yang tidak mendukung, ia tidak dapat menyelesaikan pendidikannya di sana.
Beliau kemudian terjun ke dunia jurnalistik dan menulis untuk sejumlah surat kabar dan majalah seperti Sediotoomo, De Express, dan Oetoesan Hindia.
Setelah itu, perjuangan beliau untuk pendidikan Indonesia berlanjut hingga mendirikan Taman Siswa.
Atas jasa-jasanya, Ki Hajar Dewantara menerima berbagai penghargaan, termasuk gelar doktor honoris causa dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 1959, serta dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun yang sama.
Ia wafat pada 26 April 1959 dan dimakamkan di pemakaman keluarga Taman Siswa Wijaya Brata di Yogyakarta, seperti dikutip dari buku buku Ki Hajar Dewantara: Pemikiran dan Perjuangannya oleh Museum Kebangkitan Nasional Kemdikbud.
Untuk mengenang perjuangan Ki Hajar Dewantara, Hari Pendidikan Nasional dapat diperingati dengan membaca puisi bertema pendidikan seperti berikut ini yang dikutip dari berbagai sumber.
Baca juga: Ucapan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026, Lengkap dengan Sejarah Perayaannya
Sajak Anak Muda
Karya: W.S. Rendra
Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh pendidikan
tanpa watak.
Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh pendidikan
yang tidak mengajarkan kejujuran,
yang tidak mengajarkan keberanian,
yang tidak mengajarkan kesetiaan.
Ilmu sekolah tidak memberi kita
pegangan untuk hidup.
Kita hanya diajari cara mencari makan,
tanpa diajari bagaimana menjadi manusia.
“Guru Oemar Bakri”
Karya: Taufiq Ismail
Oemar Bakri, Oemar Bakri
Pegawai negeri
Oemar Bakri, Oemar Bakri
Empat puluh tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti
Memang makan hati
Oemar Bakri, Oemar Bakri
Banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri, Oemar Bakri
Profesimu sangat berarti
Sajak Seonggok Jagung
Karya: W.S. Rendra
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan
Memandang jagung itu,
sang pemuda melihat ladang;
Ia melihat petani;
Ia melihat panen;
dan suatu hari subuh,
para wanita dengan gendongan
pergi ke pasar...
Dan ia juga melihat
suatu pagi hari
di dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena.
Sedang di dalam dapur
tungku-tungku menyala.
Di dalam udara murni
tercium bau kue jagung.
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda.
Ia siap menggarap jagung.
Ia melihat kemungkinan
otak dan tangan
siap bekerja
Tetapi ini:
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda tamat SLA
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.
Ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta
Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik
etalase ia melihat saingannya naik sepeda motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
Seonggok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.
Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan.
Yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarnya.
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.
Aku bertanya:
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi
asing di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran
atau apa saja
bila pada akhirnya
ketika ia pulang ke daerahnya lalu berkata
Di sini aku merasa asing dan sepiiiii!
Menggapai Impian
Karya: Ni Nengah Restari
Senyum terukir tipis
Menghias bibir yang manis
Langkah demi langkah berpijak
Mengejar angan yang bijak
Sejuta harapan kurengkuh
Laksa rintangan kutempuh
Laksa menuju kemenangan
Menggapai impian
Riang gembira jalan hidup
Hati ikhlas bahagia datang
Perjuangan dan doa penuh ikhlas
Bawa berkah yang berlimpah
Sekolah di Pulau Kelapa
Karya: Imam Budiman
sebuah sekolah-sedikit daratan
halamannya laut dan langit terbentang sejauh mata menghadang di batas lazuardi.
tiada roda empat, pula jalan aspal motor matik melupakan masa lalu menanggalkan spion kepalanya.
pada jam istirahat, ditambatkan kapal mesin dan perahu milik nelayan. seragam hari senin disapu terik, anak-anak berebut membeli jajan kepada seorang perempuan muda bermata indah penjual mie instan dadakan
di kejauhan seorang guru berwajah datar memantau di depan pagar-barangkali menyimpan amarah, mungkin pula sedikit kesepian.
Suara Murid Masa Kini
Karya Pipit Sriwulan
Inginku bebas inginku lepas
Terserah air mengalir ke mana
Melewati pasir, lembah dan telaga
Berlari sekuat-kuatnya yang tanpa batas
Kebebasan mengolah cipta, rasa, dan karya itu hak kami
Tuk memupuk sejuta potensi yang terpatri di sanubari
Maka waktu, ilmu dan maju akan tumbuh dalam diri
Kemerdekaan dalam bermain dan belajar haruslah ditaati
Dukunglah kami, bimbinglah kami
Menggapai keemasan sebagai wujud dari mimpi
Doakan kami, agar tiada jalan yang tak pantas tuk dilalui
Kami hanyalah seekor semut yang pantas tuk disayangi
Sungguh pendidikan adalah pusaka
Harus selalu dijaga kemurnian dan keutuhannya
Mengayomi, memfasilitasi mencetak generasi
sesuai keyakinan falsafah negeri Menopang kuat kemajuan negara,
berakarkan budaya Indonesia
Diponegoro
Karya Chairil Anwar
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda(s)
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
1943
Bintang
Karya Chairil Anwar
Aku mencintai kelasmu
Kamu membantuku 'tuk melihat
Bahwa untuk hidup bahagia
Belajar adalah kuncinya
Kamu memahami muridmu
Kamu perhatian dan pandai
Kamu guru terbaik yang pernah ada
Aku tahu itu dari awal kita bertemu
Aku memperhatikan kata-katamu
Kata-kata dari seorang guru sejati
Kamu lebih dari teladan terbaik
Sebagai guru, kamu adalah bintang
Didikan Keras
Karya Chairil Anwar
Ketika aku memasuki kelasmu, aku berpikir
Tantangan apa yang akan kau berikan padaku
Kamu memberiku motivasi untuk melewatinya
Dan menolak kelemahan yang meragukan diri
Kamu sungguh telah membuka pikiranku
Dengan kebijakan, keras dan ketegasan
Kamu membantuku untuk melihat atas
Menemukan tujuan yang harus kucapai
Kamu mengeluarkanku dari kegalauan
Terima kasihku atas jerih payahmu
Apa yang kau ajarkan akan menumbuhkanku
Perhatianmu sangat menyentuh hati dan pikiranku
Aku akan selalu mengingat jeweranmu
Aku berharap semua guru sepertimu
Para Pelajar
Karya Elfrida Octaviani
Kami tumbuh untuk Indonesia
Kami hidup untuk Indonesia
Kami berdiri untuk Indonesia
Kami mati untuk Indonesia
Tidak semata mata kami hanya meminta
Dengan jeritan dan ronta
Tapi kami juga mengalirkan
Ilmu sebagai terapan yang meringankan
Malam tergelap tepat sebelum fajar
Rintangan dan halangan selalu mengajar
Esa hilang dua terbilang
Tak akan ada harapan yang hilang
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Peringatan-Hari-Pendidikan-Nasional-di-KPK_20250502_145156.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.