Pameran Salam Maria Penuh Rahmat, Seni Keramik Jadi Media Refleksi Iman
Pameran F Widayanto hadirkan karya keramik religius bernilai ratusan juta, ajak publik refleksi makna hidup
Ringkasan Berita:
- Pameran “Salam Maria Penuh Rahmat” karya F. Widayanto di Kolese Kanisius menghadirkan refleksi spiritual lewat patung keramik bertema Bunda Maria
- Puluhan karya bernilai ratusan juta dipamerkan
- Ajang ini memadukan seni, iman, dan budaya sekaligus mengajak publik merenungkan makna hidup
Laporan Wartawan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Seni tak selalu sekadar visual, tetapi juga ruang perenungan. Hal inilah yang dihadirkan dalam pameran tunggal bertajuk Salam Maria Penuh Rahmat karya F. Widayanto yang digelar di Kolese Kanisius, Menteng, Jakarta Pusat, sejak 28 April hingga 3 Mei 2026.
Mengangkat sosok Bunda Maria sebagai simbol keteguhan, cinta, dan pengorbanan, pameran ini menghadirkan refleksi spiritual melalui medium keramik. Inspirasi utamanya berasal dari doa Salam Maria, yang menjadi bagian penting dalam tradisi Katolik.
Bagi Widayanto, perjalanan hidup Maria—dari kelahiran hingga penderitaan di bawah salib—menjadi sumber kontemplasi mendalam. Emosi seperti ketenangan, kesedihan, hingga kepasrahan dituangkan dalam bentuk patung yang sarat makna.
Pameran ini menampilkan puluhan karya dengan nilai artistik sekaligus ekonomi tinggi.
Beberapa di antaranya bahkan dibanderol hingga ratusan juta rupiah, seperti “Nelangsa” yang mencapai sekitar Rp500 juta, serta “Berkah Bumi” dan “Bundo Kanduang” di kisaran Rp350 juta.
Baca juga: Lukisan Bunda Maria Berkebaya dari Megawati untuk Paus Fransiskus Karya Pelukis Yogya, Ini Maknanya
Karya lain seperti “Heavenly Queen”, “Ibu Segala Kasih”, hingga “Sanctuary of Silence” turut memperkaya pameran dengan harga antara Rp150 juta hingga Rp175 juta. Setiap karya tidak hanya menonjolkan estetika, tetapi juga membawa pesan spiritual yang kuat.
Jejak Panjang Pelopor Keramik
Lulusan Institut Teknologi Bandung ini telah lama dikenal sebagai pelopor seni keramik modern di Indonesia.
Kariernya dimulai sejak mendirikan Marryan’s Clay Work di Bogor pada 1983, lalu mengembangkan studio di Tapos pada 1991.
Sejak itu, Widayanto konsisten menggelar pameran tunggal setiap dua hingga tiga tahun, sekaligus mengeksplorasi berbagai medium, termasuk gambar charcoal.
Seni yang Mengajak Berhenti Sejenak
Tak hanya pameran, pengunjung juga diajak berinteraksi langsung melalui workshop Fun with Clay yang digelar pada 2 Mei 2026.
Kegiatan ini membuka ruang bagi publik untuk mengenal teknik dasar seni keramik sekaligus merasakan proses kreatif secara langsung.
Lebih dari sekadar pameran Salam Maria Penuh Rahmat menjadi ruang perjumpaan antara seni, iman, dan budaya.
Melalui karya-karyanya, Widayanto mengajak publik untuk berhenti sejenak, merenungkan makna hidup, serta melihat perjalanan manusia dari sudut pandang yang lebih dalam.
Diskusi beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/pameranbundamaria111.jpg)