Minggu, 3 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Perang dengan Iran, Harga Kebutuhan Pokok di AS Mencekik, WNI Pekerja Kelas Bawah Terpukul

Imam Shamsi Ali mengungkapkan kenaikan harga BBM di Amerika Serikat saat ini sudah mencapai angka 100 persen. 

Tayang:
Tribunnews.com/tangkap layar
SITUASI DI AS - Imam Besar Islamic Center of New York, Imam Shamsi Ali saat wawancara khusus dengan Tribunnews dalam program On Focus, Selasa (7/4/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Warga AS menyebut harga BBM di negara itu naik hingga 100 persen akibat ketegangan di Selat Hormuz, dari di bawah 3 dolar ASmenjadi lebih dari 5–6 dolar per liter.
  • Peningkatan ini memicu melonjaknya harga kebutuhan pokok dan transportasi yang memberatkan warga terutama pekerja kelas menengah ke bawah.
  • Popularitas Trump di kalangan pemilihnya tambah memudar menurut sejumlah survei independen setelah perang dengan Iran.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Melambungnya harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat kian mencekik warga, termasuk para Warga Negara Indonesia (WNI) yang menetap di sana.

Imam Besar Islamic Center of New York, Imam Shamsi Ali mengungkapkan kenaikan harga BBM di Amerika Serikat saat ini sudah mencapai angka 100 persen. 

Hal ini dipicu oleh kebijakan luar negeri Donald Trump yang memicu ketegangan di Selat Hormuz.

Hal itu diungkapkan Imam Shamsi Ali saat wawancara khusus dengan Tribunnews.com dalam program On Focus, Selasa (7/4/2026).

"Normalnya biasanya kurang dari 3 dolar. Sekarang ini sudah lebih 5 dolar, bahkan ada yang mencapai 6 dolar lebih (per liter). Artinya sudah 100 persen kenaikannya," ungkap Shamsi Ali.

Ia menambahkan kenaikan harga energi ini berdampak sistemik pada harga makanan dan transportasi. 

Kondisi ini sangat dirasakan oleh WNI yang bekerja di sektor menengah ke bawah.

"Warga Indonesia di Amerika ini kan banyak pekerja kelas menengah ke bawah seperti sopir taksi, pekerja toko, hingga restoran. Perhatian mereka sekarang adalah bagaimana agar kehidupan normal kembali dan harga-harga turun," jelasnya.

Bahkan, kata Shamsi Ali, di kantong-kantong wilayah yang selama ini menjadi basis pendukung Republik seperti Florida dan Texas, kini mulai goyah dan beralih mendukung Demokrat karena tekanan ekonomi yang kian berat.

Survei Trump Menurun Drastis

Survei popularitas Presiden AS Donald Trump menurun dratis.

Survei terbaru dari Napolitan News Service, yang dilakukan secara daring oleh RMG Research antara tanggal 25 Maret dan 2 April menunjukkan bahwa 40 persen responden menyetujui kinerja Trump, sementara 58 persen tidak menyetujui, dan 1 persen tidak yakin.

Survei mengambil sampel 3.000 pemilih terdaftar dan memiliki margin kesalahan plus atau minus 1,8 poin persentase.

Ini menunjukkan penurunan yang signifikan dari survei RMG sebelumnya yang dilakukan pada 18 hingga 26 Maret, ketika 45 persen menyetujui dan 54 persen tidak menyetujui, menandai penurunan persetujuan bersih dari -9 poin menjadi -18 poin—perubahan hampir dua digit dalam waktu kurang dari sebulan.

Jika melihat lebih jauh ke belakang tahun ini, tingkat persetujuan Trump terus menurun.

Dimana 46 persen menyetujui dan 53 persen tidak menyetujui, dengan peringkat bersih -7 poin dalam jajak pendapat yang dilakukan dari 28 Januari hingga 4 Februari.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved