Wabah Hantavirus
Ahli IDAI: Penularan Hantavirus Sangat Rendah, Campak Lebih Berisiko Menyebar Cepat
Risiko penyebaran campak jauh lebih tinggi dibandingkan Hantavirus. Satu orang bisa menulari 19 orang.
Ringkasan Berita:
- Dalam berbagai literatur medis, angka penularan Hantavirus sangat rendah hingga sulit ditentukan secara pasti
- Sementara campak merupakan salah satu penyakit dengan tingkat penularan tertinggi di dunia
- Satu orang yang terinfeksi campak dapat menularkan penyakit tersebut kepada hingga 18 orang lain yang belum memiliki kekebalan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dominicus Husada, menegaskan, penyebaran penyakit Hantavirus tidak perlu dikhawatirkan berlebihan oleh masyarakat karena tingkat penularannya sangat rendah dibandingkan penyakit infeksi lain seperti campak.
Dalam diskusi online di Jakarta, Jumat (8/5/2026), Prof. Domin menjelaskan, hantavirus memiliki risiko penularan antar manusia yang sangat kecil.
“Penularan Hantavirus ini kecil, tidak sampai 5 (orang). Tidak menakutkan. Penularan antar manusianya harus benar-benar kontak erat dan sering,” ujarnya.
Ia bahkan menyebutkan bahwa dalam berbagai literatur medis, angka penularan Hantavirus sangat rendah hingga sulit ditentukan secara pasti.
Baca juga: CDC Naikkan Status Darurat Hantavirus, WHO Pastikan Bukan Covid Baru
“Literatur tidak menyebut angka karena kecil sekali, bahkan mendekati nol. Tidak sampai dua,” jelasnya.
Sebaliknya ia menyoroti, campak merupakan salah satu penyakit dengan tingkat penularan tertinggi di dunia. Satu orang yang terinfeksi campak dapat menularkan penyakit tersebut kepada hingga 18 orang lain yang belum memiliki kekebalan.
“Campak tidak dapat dibandingkan. Campak paling tinggi satu orang bisa menulari sampai 19 orang,” tambahnya.
Hal ini menunjukkan bahwa risiko penyebaran campak jauh lebih tinggi dibandingkan Hantavirus.
Karena itu Guru Besar Bidang Ilmu Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I( Kedokteran Universitas Airlangga mengingatkan agar masyarakat lebih baik fokus pada pencegahan penyakit yang sangat menular dan memiliki dampak besar, seperti campak, difteri, tetanus, dan pertusis.
Kunci utama pencegahan berbagai penyakit infeksi adalah penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
“Tidak ada keraguan dalam kondisi apapun, sebagian besar penyakit menular bisa dicegah, diminimalkan, dan diturunkan risikonya dengan PHBS,” ujar Prof Domi.
Ketua Umum IDAI, Prof. Dr. Piprim Basarah Yanuarso, juga mengingatkan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar tidak mudah panik terhadap isu penyakit tertentu.
Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan, dan pola hidup sehat merupakan langkah efektif dan murah untuk mencegah penularan berbagai penyakit, termasuk penyakit yang belum memiliki vaksin.
“Upaya sederhana ini bisa kita lakukan bersama. Ini adalah langkah promotif yang efektif untuk mencegah penyakit menular,” kata Dokter Piprim.
IDAI menegaskan bahwa PHBS tetap menjadi fondasi utama dalam pencegahan penyakit infeksi, baik yang sudah maupun belum memiliki vaksin.
Gejala Hantavirus Lama Munculnya
Prof Domi mengatakan, gejala itu bisa muncul sampai 2 bulan setelah kontak dengan tikusnya. Gejalanya seperti orang sedang selesma, demam, sakit kepala mungkin, nyeri-nyeri otot, terus merasa lelah.
Meski begitu, kebanyakan kasus muncul dalam rentang satu hingga enam minggu setelah paparan.
“Tapi paling sering di bawah 6 minggu. Lebih sering lagi 1-2 minggu pertama,” lanjutnya.
Hal ini membuat banyak pasien sulit mengingat kapan dan di mana mereka kemungkinan terpapar tikus pembawa virus. Apalagi penularan sering terjadi di tempat tertutup yang jarang dicurigai.
“Makin tertutup tempat itu, makin besar kemungkinan untuk terjadi,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/PASIEN-HANTAVIRUS-DIEVAKUASI-Tiga-pasien-suspek-dari-kapal-MV-Hondius-dievakuasi-ke-Belanda.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.