Jumat, 15 Mei 2026

Khutbah Jumat, 15 Mei 2026: Idul Adha dan Reset Hati dari Cinta Dunia

Berikut teks Khutbah Jumat 15 Mei 2026 yang mengangkat tema tentang “Idul Adha dan Reset Hati dari Cinta Dunia”.

Tayang:
Penulis: Lanny Latifah
Editor: Salma Fenty
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
TEKS KHUTBAH - Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Amien Rais (kiri) menyampaikan khotbah di depan ribuan jemaah Muhammadiyah seusai melaksanakan Salat Iduladha 1444 H di area parkir Transmart Buahbatu Square (BBS), Desa Cipagalo, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (28/6/2023). Berikut teks Khutbah Jumat 15 Mei 2026 yang mengangkat tema tentang “Idul Adha dan Reset Hati dari Cinta Dunia”. TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN 

Allah mengingatkan bahwa manusia sering dilalaikan oleh takātsur: saling memperbanyak, saling menumpuk, dan saling membanggakan. Bukan sekadar ingin cukup, tetapi ingin lebih; bukan hanya ingin hidup layak, tetapi ingin tampak lebih tinggi dari orang lain.

Menariknya, peringatan Al-Qur’an ini sejalan dengan temuan kajian psikologi modern. Dalam meta-analisis tahun 2014, Helga Dittmar, Rod Bond, Megan Hurst, dan Tim Kasser menunjukkan bahwa gaya hidup yang terlalu materialistis—berpusat pada kepemilikan—berkaitan dengan rendahnya kepuasan hidup dan melemahnya kesejahteraan batin. Seolah menegaskan pesan wahyu, semakin banyak dunia yang dikejar tidak selalu membuat hati semakin tenang; yang bertambah justru sering kali rasa kurang, kegelisahan, dan kehausan yang tak pernah selesai.

Maka Iduladha bertanya kepada kita: jangan-jangan hidup kita terlalu penuh oleh dunia, sampai Allah hanya tersisa di pinggir keputusan-keputusan kita. Jangan-jangan kita masih salat, masih berdoa, masih bertakbir, tetapi ketika memilih pekerjaan, uang, jabatan, relasi, dan ambisi, yang paling kita dengarkan bukan Allah, melainkan nafsu dan gengsi. Nauzubillahi min dzalik!

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ,

Pertanyaan kedua: “Apa yang paling berat kita lepaskan?”

Jemaah Iduladha yang berbahagia,

Di titik inilah kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail berdiri di hadapan kita. Ibrahim berkata:

يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ.

“Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?”(Q.S. Ash-Shaffat [37]: 102).

Di sinilah ujian Ibrahim menjadi sangat besar. Ia diuji dengan sesuatu yang sangat ia cintai, Ismail. Tetapi ketika cinta paling dalam itu berhadapan dengan perintah Allah, Ibrahim tidak bersembunyi di balik alasan. Ia tunduk dan pasrah. Ia membuktikan bahwa Allah tetap yang tertinggi.

Pada akhirnya, Allah tidak ingin mengambil Ismail dari Ibrahim. Allah ingin mengajari manusia bahwa apa pun yang paling dicintai harus tetap tunduk kepada Allah. Karena yang kita cintai bisa menjadi jalan menuju Allah, tetapi bisa juga menjadi berhala halus di dalam hati. Karena itu Allah Swt berfirman:

لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ.

“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 92).

Ayat ini pernah mengguncang hati Abu Thalhah Al-Anshari. Ia memiliki kebun yang sangat ia cintai, bernama Bairuha. Kebun itu indah, subur, dan dekat dengan Masjid Nabawi. Ketika ayat ini turun, Abu Thalhah datang kepada Rasulullah saw dan berkata bahwa harta yang paling ia cintai adalah Bairuha. Lalu ia menyerahkannya karena Allah. Abu Thalhah tidak memberi yang tidak lagi ia inginkan. Ia memberi yang paling ia cintai, karena ia ingin Allah lebih dicintai.

Maka dari kisah Ibrahim dan Abu Thalhah ini, mari kita tanyakan pada diri kita: apa Ismail kita? Apa Bairuha kita? Apakah harta? Jabatan? atau kenyamanan yang paling sulit kita lepaskan di jalan Allah? Di sinilah pesan kurban menjadi sangat dekat dengan kehidupan kita. Allah tidak selalu meminta kita kehilangan apa yang kita cintai, tetapi Allah ingin memastikan bahwa tidak ada satu pun yang lebih kita cintai daripada-Nya.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ,

Pertanyaan ketiga: “Apa yang sebenarnya akan kita bawa pulang?”

Jemaah yang dimuliakan Allah,

Al-Qur’an mengabadikan sosok Karun. Ia diberi harta melimpah. Kunci-kunci gudangnya saja berat dipikul oleh sekelompok orang kuat. Tetapi harta tidak membuatnya tunduk. Harta membuatnya merasa besar. Ketika kaumnya menasihati agar ia tidak sombong dan tetap mencari akhirat tanpa melupakan bagian dunia, Karun menjawab:

قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِىٓ.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved