Gejolak Rupiah
Rupiah Terus Terpuruk hingga Rp17.500 per Dolar AS, APINDO: Sektor Manufaktur yang Paling Merana
Kata Bob Azam, perusahaan harus memeras otak dalam menghadapi kenaikan biaya produksi akibat harga bahan baku naik dan melemahnya Rupiah.
Ringkasan Berita:
- Nilai tukar Rupiah terus merosot hingga menyentuh 17.601 per dollar AS atau melemah 70 poin setara 0,40 persen, menurut pantauan pada Jumat (15/5/2026) siang pukul 12.00 WIB.
- Kata Ketua Bidang Ketenagakerjaan APINDO Bob Azam, sektor manufaktur menjadi yang paling 'merana' akibat melemahnya nilai tukar Rupiah.
- Sebab, sebagian besar bahan baku masih impor.
TRIBUNNEWS.COM - Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) periode 2023-2028 Bob Azam menilai, sektor manufaktur menjadi yang paling 'merana' ketika nilai tukar rupiah terus merosot hingga Rp17.500 per dolar AS.
Sebagai informasi, nilai tukar atau kurs rupiah bahkan semakin loyo, di mana berdasarkan pantauan pada Jumat (15/5/2026) pukul 12.00 WIB, rupiah menyentuh 17.601 per dollar AS atau melemah 70 poin setara 0,40 persen, dilansir Kompas.com,
Menurut Bob Azam, sektor manufaktur menjadi yang paling terdampak karena sebagian besar bahan baku masih impor.
Selain itu, bahan baku mengalami kenaikan harga karena rupiah terdepresiasi lebih dari tujuh persen dalam satu tahun terakhir.
"Ini yang paling kena kan sektor manufaktur, yang 70 persen bahan bakunya masih impor," kata Bob, dikutip dari tayangan Sapa Indonesia Pagi yang diunggah di kanal YouTube KompasTV, Jumat (15/5/2026).
"Kita juga lihat sepanjang satu tahun terakhir rupiah sudah terdepresiasi lebih dari tujuh persen, dan ini mau nggak mau memberi dampak pada kenaikan harga bahan baku."
Bob Azam juga menjabarkan, kenaikan harga barang-barang tidak hanya disebabkan oleh melemahnya nilai tukar Rupiah, tetapi juga dipengaruhi suplai, logistik, dan situasi global.
Kata pria yang menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia ini, kondisi global yang tidak menentu saat ini dapat memicu capital outflow atau arus modal keluar dari Bursa Efek Indonesia (BEI) sehingga memperburuk pelemahan Rupiah dan kenaikan harga, sekaligus memukul telak sektor manufaktur.
"Kenaikan harga juga tidak hanya in line dengan pelemahan Rupiah, tetapi juga dipengaruhi suplai, saat ini kan sudah supply shortage," papar Bob.
"Kemudian, traders banyak memindahkan barang dari pasar reguler ke pasar spot ya karena memang suplainya kurang sehingga otomatis harga akan naik."
"Ini juga dipengaruhi oleh logistik, kemudian karena perang —Selat Hormuz—, ketidakpastian global yang membuat terjadinya capital outflow dari pasar modal kita baik saham maupun obligasi."
Baca juga: Menkeu Purbaya Akan Aktifkan BSF Jika Terjadi Krisis Rupiah, Ekonom: Dananya Dari Mana?
"Itu semua membuat Rupiah terpuruk dan harga-harga naik, dan berdampak pada sektor manufaktur."
Bob lantas memaparkan saat ini perusahaan-perusahaan harus memeras otak dalam menghadapi kenaikan biaya produksi akibat harga bahan baku naik dan melemahnya Rupiah.
Sebab, opsi untuk menaikkan harga produk tidak bisa dilakukan, mengingat daya beli masyarakat saat ini juga turun.
Oleh karenanya, Bob menilai, perusahaan mau tidak mau harus melakukan efisiensi.