Pengamat Nilai Rencana Jokowi Turun Gunung Bisa Bikin Rakyat Antipati Terhadap PSI
Rencana Jokowi untuk kembali aktif di kancah politik dengan berkeliling Indonesia mulai Juni 2026 dinilai berisiko bagi PSI.
Ringkasan Berita:
- Ketergantungan PSI terhadap sosok Jokowi muncul karena partai tersebut dianggap kekurangan kader yang memiliki daya tarik massa yang kuat
- Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep pun belum mampu mengangkat elektabilitas partai secara signifikan
- Kehadiran Jokowi yang membawa identitas PSI ke berbagai pelosok tanah air dinilai bisa memicu reaksi negatif dari masyarakat yang mulai merasa jenuh atau tidak simpatik
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Rencana Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), untuk kembali aktif di kancah politik dengan berkeliling Indonesia mulai Juni 2026 dinilai berisiko bagi Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, memperingatkan bahwa langkah Jokowi turun gunung berpotensi memicu antipati publik dan menjadi bumerang bagi elektabilitas partai berlambang gajah tersebut.
Jamiluddin menyebutkan bahwa ketergantungan PSI terhadap sosok Jokowi muncul karena partai tersebut dianggap kekurangan kader yang memiliki daya tarik massa yang kuat.
Bahkan, menurutnya, figur Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep pun belum mampu mengangkat elektabilitas partai secara signifikan.
"PSI yang ingin masuk Senayan pada Pileg 2029, memang sangat membutuhkan Jokowi. Sebab tidak ada kader PSI yang cukup mumpuni untuk menggaet massa berlabuh ke PSI, termasuk Ketua Umumnya Kaesang Pangarep," ujar Jamiluddin dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).
Baca juga: Grace Natalie Ungkap Alasan Ketua Harian PSI Ahmad Ali Tak Beri Bantuan Hukum Kasus Video JK
Ketergantungan ini dinilai semakin kritis mengingat elektabilitas PSI saat ini masih tertahan di angka 1,2 persen berdasarkan survei terbaru.
Angka tersebut masih jauh di bawah ambang batas parlemen, meskipun jajaran petinggi partai telah melakukan konsolidasi ke berbagai daerah.
Namun, Jamiluddin mengingatkan bahwa pengaruh politik Jokowi kini tidak lagi sekuat dahulu.
Ia menilai ada pergeseran persepsi publik terhadap mantan Wali Kota Solo tersebut yang kini lebih banyak diwarnai kontroversi.
Baca juga: Aliansi 40 Ormas Islam Tak Peduli Ade Armando Mundur dari PSI: Kami Maunya Diproses dan Ditahan
"Berharap pada Jokowi juga sangat spekulatif. Sebab, masa keemasan Jokowi tampaknya sudah diujung rambut. Jokowi bukan lagi sosok yang mampu menghipnotis anak bangsa untuk berpihak kepadanya. Jokowi saat ini adalah sosok kontroversial," tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kehadiran Jokowi yang membawa identitas PSI ke berbagai pelosok tanah air justru bisa memicu reaksi negatif dari masyarakat yang mulai merasa jenuh atau tidak simpatik.
"Kehadiran Jokowi membawa panji-panji PSI tidak dengan sendirinya dapat mendongkrak elektabilitas PSI. Bahkan tak menutup kemungkinan semakin banyak anak bangsa yang antipati terhadap PSI," tambah Jamiluddin.
Ia menyarankan agar PSI melakukan evaluasi mendalam sebelum merealisasikan agenda keliling Indonesia bersama Jokowi pada Juni mendatang.
Kegagalan dalam memetakan sentimen publik dianggap bisa mengulang kegagalan PSI melenggang ke Senayan.
"Sebelum Jokowi berkeliling Indonesia membawa panji-panji PSI, sebaiknya perlu dikaji ulang plus minusnya. Jangan sampai PSI kembali gagal ke Senayan hanya karena salah menilai keperkasaan Jokowi," pungkasnya.
Sebagai informasi, Jokowi dikabarkan telah pulih sepenuhnya dan berkomitmen untuk membantu membesarkan PSI.
Langkah ini merupakan kelanjutan dari janji Jokowi saat menghadiri Rakernas PSI di Makassar pada Januari 2026 silam untuk memenangkan partai tersebut di masa depan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Jokowi-memberikan-arahan-dalam-penutupan-Rakernas-I-PSI.jpg)