Senin, 18 Mei 2026

Cerdas Cermat 4 Pilar MPR

FSGI Minta Juri Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR Minta Maaf Langsung: Biar Kemarahan Publik Reda

Menurut Retno, permintaan maaf dari juri itu tidak cukup hanya diwakilkan oleh konstitusi saja, yakni MPR RI, harus minta maaf langsung.

Tayang:
Penulis: Rifqah
Editor: Tiara Shelavie
Ringkasan Berita:
  • Hingga saat ini, diketahui baru dari pihak MPR RI yang menyampaikan permohonan maaf, sementara juri yang bersangkutan belum.
  • Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menilai seharusnya dewan juri Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar 2026 MRP RI di Kalimantan Barat (Kalbar), meminta maaf langsung soal polemik salahkan jawaban siswa.
  • Menurut Retno, permintaan maaf itu tidak cukup hanya diwakilkan oleh konstitusi saja, dalam hal ini adalah MPR RI.

 

TRIBUNNEWS.COM - Ketua Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti menilai seharusnya dewan juri Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar 2026 MRP RI di Kalimantan Barat (Kalbar), meminta maaf langsung soal polemik salahkan jawaban siswa.

Adapun, juri yang dimaksud adalah Kepala Biro Pengkajian Konstitusi Sekretariat Jenderal MPR RI, Dyastasita Widya Budi dan Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR, Indri Wahyuni.

Hingga saat ini, diketahui baru dari pihak MPR RI yang menyampaikan permohonan maaf, sementara juri yang bersangkutan belum.

Oleh karena itu, sejumlah pihak pun mendesak agar juri LCC 4 Pilar meminta maaf langsung.

"Ketika kemudian itu salah, memang harusnya minta maaf langsung. Jadi menurut saya, itu akan satu, publik menjadi reda kemarahannya," ujar Retno," ungkapnya, dikutip dari YouTube Kompas TV, Sabtu (16/5/2026).

"Kedua, itu pasti akan dijempolin oleh banyak pihak karena keberanian untuk meminta maaf. Karena minta maaf itu bukan sesuatu yang tercela, bukan, justru perbuatan baik, datang aja ke sekolahnya," tambahnya.

Sehingga, menurut Retno, permintaan maaf itu tidak cukup hanya diwakilkan oleh konstitusi saja, dalam hal ini adalah MPR RI.

"Jangan bilang minta maafnya cukup institusi. Menurut saya, siapa yang salah, siapa yang minta maaf itu tidak tepat," ucapnya.

"Kita mengajarkan kepada anak-anak kita hal yang 'eh nanti kalau kamu suatu saat bekerja dan kamu salah, tenang aja institusi mu akan minta maaf'. Jadi itu bukan sesuatu yang baik," papar Retno.

Jika tidak minta maaf langsung, kata Retno, seseorang tidak akan pernah belajar bertanggung jawab, tidak pernah punya efek jera, dan tidak pernah belajar dari kesalahan.

Acara LCC itu sebelumnya menjadi kontroversi setelah video perdebatan peserta dan dewan juri ramai di media sosial, yakni saat Grup C dari SMAN 1 Pontianak memprotes keputusan juri yang menganggap jawaban mereka salah dalam sesi rebutan pertanyaan saat perlombaan berlangsung.

Baca juga: Juri Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR Tak Kunjung Minta Maaf, Pengamat: Mereka Masih Sangat Arogan

Siswi bernama Josepha Alexandra yang mengajukan keberatan kepada dewan juri atas hal tersebut. Kala itu, Josepha menjawab pertanyaan soal mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), tetapi dianggap salah sehingga nilainya dikurangi lima poin. 

Sementara itu, saat Grup B dari SMAN 1 Sambas menjawab dengan jawaban yang sama persis, mereka dinyatakan benar dan mendapatkan tambahan 10 poin.

Meski Grup C telah melayangkan proses terhadap hal ini, dewan juri tidak mendengarkannya dan menjelaskan bahwa keputusan mutlak berada di tangan mereka. Begitu pun dengan pembawa acaranya yang menegaskan keputusan tetap berada di tangan dewan juri.

Lomba pun tetap dilanjutkan dan SMAN 1 Sambas keluar sebagai juara pertama untuk mewakili Kalimantan Barat ke tingkat nasional.

Ketua MPR Sebut Juri Tak Perlu Minta Maaf

Sebelumnya, Ketua MPR RI Ahmad Muzani mengatakan juri LCC itu tidak perlu lagi menyampaikan permohonan maaf secara pribadi kepada publik, terkait polemik penilaian final lomba tersebut. 

Sebab, kata Muzani, permohonan maaf yang sebelumnya telah disampaikan pimpinan dan Sekretariat Jenderal MPR sudah mewakili seluruh unsur penyelenggara, termasuk para juri. 

“Di lembaga MPR kan sudah disampaikan oleh Sekjen, salah satu pimpinan kita juga sudah menyampaikan permohonan maaf. Jadi itu sudah mewakili keseluruhan termasuk juri, karena ini adalah kegiatan lembaga, bukan kegiatan orang perorang,” kata Muzani saat konferensi pers di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Begitu pun dengan Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah, dia juga menegaskan bahwa para juri adalah bagian dari kesekretariatan MPR, sehingga permohonan maaf dari mereka sudah terwakilkan secara kelembagaan.

“Juri ini adalah perwakilan dari kesekretariatan. Jadi seperti rilis mungkin yang sudah disampaikan beberapa hari yang lalu, itu permohonan maaf dari kesekretariatan yang dalam arti kata saya menyampaikan permohonan maaf untuk kegiatan tersebut,” ujar Siti Fauziah.

Siti pun menjelaskan bahwa permohonan maaf atas polemik LCC di Kalbar tidak lagi bersifat personal, melainkan mewakili seluruh penyelenggara kegiatan. 

“Jadi sudah tadi disampaikan itu sudah mewakili dari satu kegiatan. Artinya bukan personal lagi, tapi itu adalah kelembagaan kesekretariatan yang langsung meminta maaf,” kata dia.

MPR RI kemudian memutuskan final LCC Empat Pilar tingkat Kalbar itu akan diulang setelah polemik penilaian pada babak final menuai protes peserta dan sorotan publik.

Terkait dengan waktunya, keputusan itu akan diambil setelah pimpinan MPR mendengarkan penjelasan dari Sekretaris Jenderal MPR terkait polemik yang terjadi dalam final LCC Empat Pilar di Kalbar.

Pimpinan MPR nantinya juga akan mengawasi langsung jalannya perlombaan ulang dari awal hingga akhir.

(Tribunnews.com/Rifqah)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved