Minggu, 17 Mei 2026

Prabowo Klaim Banyak Negara Asing Minta Pupuk Indonesia, Benarkah?

Presiden Prabowo Subianto mengklaim ada banyak negara asing yang meminta pupuk dari Indonesia di tengah kekacauan geopolitik global.

Tayang:
HO/IST/dok. Petrokimia Gresik
STOK PUPUK SUBSIDI - Tumpukan stok pupuk subsidi di gudang PT Petrokimia Gresik. Presiden Prabowo Subianto mengklaim ada banyak negara asing yang meminta pupuk dari Indonesia di tengah kekacauan geopolitik global. 
Ringkasan Berita:

 

TRIBUNNEWS.COM – Presiden Prabowo Subianto mengklaim ada banyak negara asing yang meminta pupuk dari Indonesia di tengah kekacauan geopolitik global.

Kekacauan itu dipicu oleh perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS)-Israel yang menyebabkan Selat Hormuz, jalur vital pelayaran minyak dunia, ditutup. Menurut Prabowo, persediaan pupuk dunia ikut terdampak lantaran banyak pupuk yang berasal dari minyak dan gas.

“Pupuk dari urea ya. Urea sangat dibutuhkan. Sekarang saya dapat laporan dari Menteri Pertanian [Amran Sulaiman]. Banyak negara minta pupuk dari Indonesia,” kata Prabowo ketika meresmikan Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu, (16/5/2026).

“Kita tidak euforia. Kita tidak sombong, tapi kita sekarang berada di pihak yang bisa memberi bantuan.”

Prabowo menyebut negara-negara yang menginginkan pupuk Indonesia antara lain Australia, Filipina, Bangladesh, India, dan Brasil.

“Australia minta tolong kita jual [pupuk], 500 ribu ton urea ke Australia,” ujarnya.

Benarkah pupuk Indonesia diminati asing?

Sejumlah negara diklaim Prabowo menginginkan pupuk Indonesia. Laporan yang ditulis oleh media-media asing mendukung klaim Prabowo itu.

Di Australia, pupuk Indonesia memang diminati. Hal itu dikonfirmasi oleh Menteri Pertanian Australia Julie Collins.

Collins menyebut ada tambahan 250.000 ton pupuk impor yang akan masuk ke Australia. Saat ini banyak petani Australia yang kekurangan pupuk karena pasokannya terhambat oleh tertutupnya Selat Hormuz.

“Tambahan pasokan ini berasal dari Indonesia. Sekali lagi saya ingin berterima kasih kepada pemerintah Indonesia atas kerja samanya dan tentu saja Instatec Pivot dan PT Pupuk di Indonesia atas hal ini,” ujar Collins dikutip dari laporan ABC News pada bulan April lalu.

“Indonesia sudah menjadi pemasok yang sangat terpercaya dan rekan Australia dalam hal pupuk, tetapi ini adalah pasokan tambahan yang berhasil kita dapatkan.”

Baca juga: Selain Australia, Sejumlah Negara Juga Berminat pada Pupuk Indonesia

Seperti Australia, India juga meminati pupuk Indonesia. Saat ini India adalah konsumen pupuk terbesar di dunia setelah Tiongkok.

India berusaha memenuhi kebutuhan pupuk dengan mencari pupuk dari beberapa negara, termasuk Indonesia, di tengah gejolak geopolitik dunia.

“Langkah-langkah proaktif sedang diambil untuk mendiversifikasi sumber impor selain negara-negara Teluk, misalnya Rusia, Maroko, Australia, Indonesia, Malaysia, Yordania, Kanada, Aljazair, Mesir, dan Togo,” kata Aparna Sharma, seorang pejabat tinggi India dalam bidang perpupukan, dikutip dari Nikkei Asia.

Brasil juga menjadi salah satu negara yang meminati pupuk Indonesia. Pada bulan April kemarin, kantor berita ANBA di Brasil melaporkan bahwa negara itu sedang berunding dengan Indonesia perihal pengiriman pupuk.

“Dalam beberapa bulan ke depan, Brasil diperkirakan akan menjadi salah satu tujuan ekspor satu juta ton urea yang dikirimkan Indonesia ke pasar internasional,” kata ANBA.

“Urea adalah salah satu jenis pupuk yang digunakan dalam pertanian. Brasil mengandalkan impor agar bisa memenuhi permintaan pupuk.”

Beberapa waktu lalu Menteri Pertanian Amran Sulaiman turut mengatakan sejumlah negara meminati pupuk Indonesia.

“Selain itu, Dubes India sudah menghubungi saya langsung meminta 500.000 ton dan beberapa negara lain juga berminat yaitu Filipina, Brazil, Bangladesh dan ada beberapa negara lagi. Tadi kami menerima laporan negara yang berminat pupuk urea dari Indonesia. Ini yang kita syukuri dan banggakan,” kata Amran dikutip dari Bakom RI, Kamis, (14/5/2026).

Adapun, kata Amran, ekspor perdana pupuk ke Australia yang telah dilepas berjumlah 47.250 ton atau senilai sekitar Rp600 miliar.

Ekspor tersebut merupakan tahap awal dari komitmen kerja sama sebesar 250.000 ton dan akan terus ditingkatkan hingga mencapai 500.000 ton dengan total nilai sekitar Rp7 triliun.

“Rencana kita akan ekspor 250.000 ton ke Australia dan kemudian ditingkatkan hingga 500.000 ton,” ujarnya.

(Tribunnews/Febri)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved