Rabu, 20 Mei 2026

Jet Tempur Rafale Terus Berdatangan, TNI AU Targetkan Cetak 12 Pilot hingga Akhir 2026

Di balik datangnya enam unit jet tempur Rafale terdapat tantangan besar yang harus segera diselesaikan oleh TNI AU, yakni ketersediaan pilot.

Tayang:
Tribunnews.com/Alfarizy Ajie Fadhillah
ALUTSISTA BARU - Penampakan pesawat tempur Rafale dan Radar GCI GM403 di Apron Pandawa, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026). Alutsista strategis ini diserahkan kepada TNI AU guna memperkuat kedaulatan dan modernisasi pertahanan udara Indonesia 
Ringkasan Berita:
  • Di balik penerimaan enam unit jet tempur Rafale oleh Indonesia, TNI AU menghadapi tantangan besar terkait ketersediaan pilot
  • Komandan Skadron Udara 12, Letkol Pnb Binggi “Rayden” Nobel, menegaskan bahwa penyiapan SDM jauh lebih krusial dibandingkan mendatangkan pesawat itu sendiri.
  • Saat ini, jumlah penerbang yang siap mengawaki jet tempur buatan Prancis tersebut masih sangat terbatas. 
  • TNI AU baru memiliki delapan penerbang, dengan empat di antaranya sedang menjalani program konversi.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di balik datangnya enam unit jet tempur Rafale yang baru saja diterima Pemerintah Indonesia, terdapat tantangan besar yang harus segera diselesaikan oleh TNI Angkatan Udara (AU), yakni ketersediaan pilot.

Komandan Skadron Udara (Danskadron) 12, Letkol Pnb Binggi “Rayden” Nobel, mengakui penyiapan sumber daya manusia (SDM) menjadi persoalan yang jauh lebih krusial dibandingkan mendatangkan pesawat itu sendiri.

"Memang benar sekali dalam penyiapan alpalhankam kami yang baru ini, salah satu tantangan yang paling krusial yaitu sumber daya manusia," ujar Binggi saat ditemui di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026).

Saat ini, jumlah penerbang yang siap mengawaki jet tempur buatan Prancis tersebut masih sangat terbatas. Binggi membeberkan saat ini TNI AU baru memiliki delapan orang penerbang.

"Saat ini kami dari yang sudah ada adalah memiliki delapan penerbang, yang di mana delapan ini, empat di antaranya sedang melaksanakan program konversi," jelasnya.

Kondisi ini membuat TNI AU harus berpacu dengan waktu.

Mengingat total pesawat yang dipesan mencapai 42 unit, kebutuhan akan pilot menjadi sangat mendesak agar pesawat-pesawat canggih tersebut tidak hanya menjadi pajangan, tetapi siap digunakan untuk operasi tempur.

Binggi menambahkan, program pencetakan pilot akan terus berjalan secara berkesinambungan.

Ia mengungkapkan pada akhir bulan ini atau bulan depan, grup pilot berikutnya akan segera datang untuk menjalani pelatihan.

"Penyiapan sumber daya manusia itu krusial, karena pesawat akan semakin berdatangan dan kita akan dituntut untuk siap melaksanakan operasi, sehingga pengawakan ini harus segera siap," tegasnya.

TNI AU sendiri mematok target ambisius untuk mengejar ketertinggalan jumlah pengawak pesawat tempur generasi 4.5 ini dalam waktu dekat.

"Diharapkan akhir 2026 ini kita memiliki 12 pilot," jelas Binggi Nobel.

Prabowo Serahkan 6 Jet Rafale 

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memimpin langsung prosesi penyerahan alat utama sistem persenjataan (alutsista) strategis terbaru untuk TNI Angkatan Udara. 

Acara yang berlangsung khidmat ini digelar di Apron Pandawa, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026).

Dalam rangkaian acara tersebut, Presiden Prabowo didampingi Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal M. Tonny Harjono, melakukan serangkaian prosesi simbolis.

Salah satu momen penting dalam penyerahan ini adalah pelepasan tirai logo Skadron Udara 12 sebagai tanda resmi operasional unit pesawat tempur tersebut.

Tak hanya itu, sebagai bentuk syukur dan tradisi di lingkungan TNI AU, Presiden Prabowo juga melakukan prosesi penyiraman air kembang pada bagian pesawat tempur Rafale.

Setelah prosesi adat selesai, Presiden menyerahkan kunci pesawat secara simbolis kepada Panglima TNI, yang kemudian diteruskan kepada Kasau sebagai tanda beralihnya tanggung jawab operasional alutsista tersebut.

Jet tempur Rafale menjadi bintang utama dalam jajaran alutsista yang diserahkan.

Pesawat tempur multirand buatan Prancis ini dilengkapi dengan senjata mematikan berupa Rudal Meteor untuk pertempuran udara jarak jauh serta munisi presisi Smart Weapon Hammer yang sangat efektif menghancurkan sasaran di darat dengan tingkat akurasi tinggi.

Selain jet tempur, Presiden Prabowo juga menyerahkan empat unit pesawat Falcon 8X yang dirancang untuk mendukung misi komando dan pengawasan dengan fleksibilitas tinggi.

Ada pula satu unit pesawat angkut berat A400M MRTT yang memiliki kemampuan istimewa berupa air-to-air refuelling atau pengisian bahan bakar di udara, sehingga jet tempur TNI AU dapat terbang lebih jauh dan lebih lama tanpa perlu mendarat.

Lini pertahanan udara ini semakin lengkap dengan diserahkannya Radar GCI GM403.

Radar mutakhir ini berfungsi sebagai "mata" yang mampu mendeteksi dini setiap ancaman di langit Nusantara dan bertugas mengarahkan pesawat tempur TNI untuk melakukan penindakan terhadap pesawat asing yang melanggar kedaulatan wilayah Indonesia.

Usai prosesi penyerahan kunci, Presiden Prabowo menyempatkan diri melakukan peninjauan langsung ke dalam kokpit pesawat Rafale serta mengecek kecanggihan sistem Radar GCI.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved