Program Makan Bergizi Gratis
Surat Terbuka IDAI untuk Dadan dan Jajaran BGN soal Susu Formula
IDAI soroti distribusi susu formula di Program MBG 2026, minta pemerintah prioritaskan ASI dan pangan lokal.
IDAI juga mendorong pemerintah memprioritaskan penguatan program MPASI berbasis pangan lokal padat protein hewani dibanding alokasi anggaran untuk pengadaan susu formula komersial.
Selain itu, IDAI meminta penyediaan susu formula dibatasi hanya untuk anak dengan kondisi medis tertentu, seperti kelainan metabolik bawaan atau indikasi medis absolut lainnya, dan pendistribusiannya dilakukan secara tertutup melalui fasilitas pelayanan kesehatan.
Meski mengkritisi skema distribusi susu formula dalam MBG, IDAI menegaskan tetap mendukung penuh upaya pemerintah dalam memperbaiki status gizi nasional dan menurunkan angka stunting menuju target Indonesia Emas 2045.
4 Rekomendasi IDAI:
- Harmonisasi Kebijakan Publik Badan Gizi Nasional dan Kementerian Kesehatan
- Mengembalikan Peruntukan Susu Formula Sesuai Rekomendasi Dokter dan Indikasi Medis
- Memprioritaskan Kemandirian Pangan Lokal
- Melakukan Telaah ulang dan Sinkronisasi Petunjuk Teknis Intervensi Gizi Nasional BGN agar sesuai dengan: Undang-Undang No.17 Tahun 2023, Peraturan pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan, Pedoman Standar Gizi Kemenkes RI, dan Kode Internasional WHO tentang Pemasaran Produk Pengganti ASI.
Dampak Pemberian Susu Formula
Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr. Lovely Daisy, MKM, mengingatkan tentang dampak pemberian susu formula pada bayi dibanding Air Susu Ibu (ASI).
“Ketika bayi diberikan lebih banyak susu formula dibandingkan ASI, maka bayi akan kenyang dengan susu formula sehingga lebih jarang menyusu. Hal ini berujung dapat menyebabkan produksi ASI berkurang,” kata Daisy dilansir dari website resmi Kemenkes, Senin (19/8/2024).
Daisy melanjutkan, dampak lain yang dapat terjadi adalah meningkatnya risiko kesakitan pada bayi.
Hal ini dikarenakan bayi kurang mendapatkan zat-zat kekebalan yang hanya terdapat di dalam ASI.
"Berkurangnya intensitas menyusui langsung juga dapat memengaruhi kedekatan antara ibu dan bayi (bonding) yang terjalin pada saat proses menyusui," imbuhnya.
Karena itu, menyusui bayi sesering dan selama bayi menginginkan harus tetap diupayakan.
“Produksi ASI dipengaruhi oleh isapan bayi pada saat menyusu. Semakin sering bayi menyusu dengan cara yang benar, maka semakin banyak ASI diproduksi,” tegas Daisy.
Pemberian ASI juga memiliki manfaat besar bagi bayi. Seperti yang tercantum dalam Pasal 25 PP Nomor 28 Tahun 2024.
ASI eksklusif yang diberikan pada anak sangat penting untuk memenuhi kebutuhan bayi dengan zat gizi terbaik demi tumbuh kembang yang optimal.
Serta, meningkatkan daya tahan tubuh bayi sehingga dapat mencegah penyakit dan kematian.
Dan juga dapat mencegah penyakit tidak menular di usia dewasa.
(Tribunnews.com/ Chrysnha, Aisyah Nursyamsi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Surat-terbuka-IDAI-untuk-Dadan-dan-jajaran-BGN-soal-susu-formula.jpg)