Kamis, 21 Mei 2026

Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

Masinis Argo Bromo Anggrek Diperintahkan Rem Dikit-dikit, 1,3 Km Sebelum Tabrak KRL di Bekasi Timur

Komite Nasional Keselamatan Transportasi menyatakan masinis KA Argo Bromo Anggrek telah mulai mengerem 1,3 kilometer sebelum tabrakan.

Tayang:
Penulis: Fersianus Waku
Editor: Wahyu Aji
TRIBUNNEWS/HERUDIN
EVAKUASI KORBAN - Konidisi kereta yang bertabrakan antara KRL Commuterline dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). TRIBUNNEWS/HERUDIN 
Ringkasan Berita:
  • KNKT menyatakan masinis KA Argo Bromo Anggrek telah mulai mengerem 1,3 kilometer sebelum tabrakan dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur.
  • Masinis tidak melakukan pengereman maksimum karena mendapat instruksi dari Pusat Kendali Timur untuk mengurangi kecepatan bertahap sambil membunyikan klakson akibat adanya insiden sebelumnya di jalur.
  • Kecelakaan pada 27 April 2026 itu menewaskan 16 orang dan melukai ratusan penumpang setelah KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL yang sedang berhenti.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan bahwa masinis KA Argo Bromo Anggrek sebenarnya sudah mulai melakukan pengereman sekitar 1,3 kilometer sebelum lokasi tabrakan dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur.

"Masinis itu sudah mulai ngerem di 1,3 kilometer sebelum lokasi tabrakan," kata Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026). 

Soerjanto mengatakan, masinis mengetahui adanya kendala di jalur tersebut setelah diinformasikan oleh Pusat Pengendali (PK) Timur.

"Dia taunya karena diinformasikan oleh PK Timur, pengendali jalur antara Manggarai sampai Cikampek," ujarnya. 

Meskipun pengereman sudah dilakukan dari jarak 1,3 kilometer, tabrakan tetap tidak terhindarkan. 

"Berdasarkan hasil wawancara, KA Argo Bromo Anggrek, taktis pengereman dilakukan secara mempertimbangkan keselamatan terhadap rangkaian kereta yang dioperasikannya," tuturnya. 

Soerjanto menjelaskan, secara teknis, sebuah kereta api jarak jauh membutuhkan jarak kurang dari satu kilometer untuk berhenti total jika dilakukan pengereman maksimal.

"Kalau dia melakukan pengereman secara maksimal, itu kira-kira kurang lebih antara 900 sampai 1.000 meter," jelasnya. 

Ia mengungkapkan, berdasarkan komunikasi yang diterima masinis dari pusat kendali, masinis hanya diinstruksikan untuk mengurangi kecepatan secara bertahap karena adanya insiden kendaraan yang tertabrak kereta (temperan) di JPL 85.

"Tapi karena dia taunya dikomunikasi di dari pusat kendali, ada temperan di JPL 85, kamu berjalan direm dikit-dikit dan banyak-banyak semboyan 35, artinya banyak-banyak klakson," ucapnya. 

"Jadi masinis tidak melakukan pengereman maksimum karena informasi yang diterima dari PK Timur rem dikit-dikit dan sambil bunyikan klakson," sambung Soerjanto.

Adapun, insiden pada 27 April 2026 tersebut bermula saat KRL Commuter Line dari arah Jakarta menuju Cikarang sedang berhenti di Stasiun Bekasi Timur

Pemberhentian ini terjadi lantaran Commuter Line dari arah Cikarang menuju Bekasi mengalami insiden menabrak mobil taksi di jalur yang sama.

Ketika KRL Commuter Line Jakarta-Cikarang berhenti, Kereta Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek melintas dari arah belakang dan langsung menghantamnya.

Baca juga: BREAKING NEWS Kecelakaan Taksi Listrik Vs KRL di Bekasi, Sopir Green SM Ditetapkan jadi Tersangka

Sebanyak 16 orang meninggal dalam kecelakaan tersebut dan ratusan lainnya mengalami luka-luka. 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved