Rabu, 27 Mei 2026

Sumatera Blackout

Imbas Blackout Sumatera, DPR Minta PLN Ganti Kerugian Para Pelaku UMKM

Nasim Khan mendesak PLN segera menyusun formula kompensasi yang transparan dan adil bagi pelanggan imbas blackout Sumatera.

Tayang:
Penulis: Reza Deni
Editor: Dewi Agustina
Tribunnews.com/Dok Tribunnews
LISTRIK PADAM - Pemadaman listrik massal atau blackout melanda sejumlah wilayah di Sumatera sejak Jumat (22/5/2026) malam hingga Sabtu (23/5/2026). Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PKB, Nasim Khan, mendesak pemerintah dan PT PLN (Persero) segera melakukan evaluasi total pasca pemadaman listrik massal (blackout) di Pulau Sumatera yang terjadi sejak Jumat (22/5/2026) malam. 

“PLN juga harus merombak total sistem pengawasan infrastruktur melalui pemeriksaan berkala pada kabel transmisi di seluruh wilayah Indonesia, sehingga kejadian ini tidak terulang kembali,” pungkasnya.

Tak Ada Unsur Kesengajaan

Terpisah, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, membantah adanya unsur kesengajaan dalam peristiwa pemadaman listrik massal atau blackout yang terjadi di wilayah Sumatera.

Menurut Yuliot, gangguan sistem kelistrikan tersebut murni dipicu faktor alam, yakni sambaran petir pada jaringan transmisi di wilayah Marangin yang berdampak pada kestabilan sistem kelistrikan Sumatera bagian utara.

“Enggak, itu ya tidak ada kesengajaan. Itu ya murni karena masalah kondisi alam,” kata Yuliot, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Yuliot menjelaskan, gangguan bermula ketika jaringan transmisi terkena sambaran petir sehingga memengaruhi stabilitas pasokan listrik di sistem Sumatera bagian utara yang selama ini banyak disuplai dari wilayah selatan.

“Dari kementerian ESDM terkait dengan kejadian listrik di Sumatera, ini kan ada persoalan yg jaringan transmisi, itu kan ada pesawat petir, di Marangin,” ujarnya.

“Dengan ada sambar petir tersebut berdampak terhadap kestabilan sistem. Jadi kalau kita lihat dari kejadiannya sendiri, ini secara teknis juga untuk daya yang ada di Sumatera bagian utara ini kan relatif itu lebih banyak juga dialirkan dari selatan. Pada saat itu ada kejadian jadi sehingga seluruh sistem itu ada ini terjadi blackout,” imbuhnya.

Yuliot mengatakan, proses pemulihan dilakukan secara bertahap dengan menghidupkan kembali pembangkit listrik satu per satu. Tahap awal pemulihan dimulai dari pembangkit yang dapat beroperasi lebih cepat seperti PLTA, geothermal, PLTD, hingga pembangkit berbahan bakar gas.

“Yang kedua upaya pemulihan yang kita lakukan, jadi pada saat itu sistemnya mati, ini kan harus dihidupkan satu per satu. Jadi yang kita lakukan ini proses penghidupan kembali yang pertama itu adalah dari PLTA, kemudian Geothermal, itu ada PLTD dan juga ada gas. Secara teknis PLTU memerlukan waktu sekitar 12 jam,” ujarnya.

Yuliot menambahkan, Kementerian ESDM juga menurunkan tim ke lapangan untuk memastikan proses pemulihan berjalan optimal hingga akhirnya pasokan listrik kembali pulih sepenuhnya.

“Dan itu kita lakukan kami dari Kementerian ESDM menurunkan tim ke lapangan untuk mengecek itu alhamdulillah dalam jangka waktu yang ini sesuai dengan apa yang kita koordinasikan dengan PLN itu bisa pulih 100 persen,” katanya.

Selain itu, pemerintah juga meminta PLN melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem kelistrikan guna mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.

“Jadi untuk arahan ke PLN, kita juga itu sampaikan ini untuk perbaikan sistem, ini dikaji secara teknis, itu yang pertama,” ucapnya.

Ia menyebut evaluasi mencakup pemasangan sistem arde di wilayah rawan serta pemerataan suplai pembangkit listrik di tiap daerah agar tidak terlalu bergantung pada pasokan dari wilayah yang jauh.

“Yang kedua untuk sistemnya itu juga ada perbaikan yang termasuk itu adanya pemasangan Arde untuk setiap daerah-daerah yang rawan,” katanya.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved