Bahas MoU, Pengusaha Jepang Soroti Transparansi di Indonesia: Arah Proyek Kadang Berubah
Pengusaha Jepang, Yutaka Tokunaga, menyoroti isu transparansi proyek di Indonesia, dalam tulisannya yang membahas MoU.
Terutama, kata dia, dalam proyek-proyek publik dan berskala besar.
"Ada satu faktor lagi yang jarang dibicarakan secara terbuka, tetapi tidak dapat diabaikan. Yaitu masalah transparansi dan tata kelola," ungkap Tokunaga.
"Di Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir, reformasi dan digitalisasi telah meningkat."
"Namun, terutama dalam proyek-proyek publik dan bersjala besar, terkadang proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan anggaran tidak sepenuhnya transparan," tuturnya.
Hal itu dikatakan Tokunaga berdampak pada sejumlah hal, salah satunya adalah pengambilan keputusan bisa menjadi lebih lambat dari yang diharapkan.
"Akibatnya, penyesuaian di luar proses formal mungkin diperlukan. Permintaan pembayaran secara tidak resmi mungkin terjadi."
"(Juga) pengambilan keputusan menjadi lebih lambat dari yang diharapkan. Arah proyek (juga) dapat berubah di tengah jalan," jelas Tokunaga.
MoU di Indonesia Terus Meningkat
Meski sering berakhir tanpa realisasi proyek, penandatanganan MoU di Indonesia diakui Tokunaga terus meningkat.
Alasannya, menurut Tokunaga adalah untuk kepentingan politik dan simbolis.
"(Karena) nilai politik dan simbolis, MoU mudah ditunjukkan sebagai hasil yang nyata," katanya.
Lebih lanjut, Tokunaga juga menilai, meningkatnya penandatanganan MoU di Indonesia bisa menjadi sinyal untuk menarik investor.
"(MoU di Indonesia biasanya untuk) daya tarik kerja sama internasional, sinyal menarik investasi, dan memperkuat hubungan diplomatik," ujar dia.
Meski demikian, Tokunaga menyarankan agar para investor memandang dari sudut pandang berbeda jika ingin bekerja sama dengan pemerintah Indonesia.
Kendati tidak mudah, kata dia, Indonesia punya potensi besar dalam hal populasi dan ruang berkembang.
Dua hal itu yang dianggap Tokunaga menjadi poin plus bagi Indonesia, sehingga banyak perusahaan mencoba peruntungan di tanah air.
"Sejujurnya, itu (bekerja sama dengan Indonesia) tidak mudah. Tapi, jika Anda mengubah sudut pandang, akan terlihat berbeda," katanya.
"Indonesia punya potensi besar dalam hal populasi dan ruang untuk berkembang. Itulah mengapa banyak perusahaan mencoba dan juga berjuang," pungkas Tokunaga.
(Tribunnews.com/Pravitri Retno W)