Rabu, 3 Juni 2026

Kunjungan Presiden Ke Luar Negeri

Soal Kunjungan Prabowo ke Prancis, Anggota DPR: RI Punya Peran Kunci di Indo-Pasifik

Anggota DPR  Azis Subekti sebut kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Prancis bukan sekadar lawatan bilateral biasa.

Tayang:
Tribunnews.com/YouTube Sekretariat Presiden
KUNJUNGAN KE PRANCIS - Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Élysée, Paris, pada Kamis, (28/5/2026). Anggota DPR Azis Subekti sebut kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Prancis bukan sekadar lawatan bilateral biasa melainkan langkah strategis menempatkan Indonesia sebagai perancang tatanan ekonomi dan keamanan Indo-Pasifik abad ke-21. 
Ringkasan Berita:
  • Anggota DPR  Azis Subekti sebut kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Prancis bukan sekadar lawatan bilateral biasa.
  • Melainkan langkah strategis menempatkan Indonesia sebagai perancang tatanan ekonomi dan keamanan Indo-Pasifik abad ke-21.
  • Menurut Azis, dunia saat ini berada pada titik belok terpenting sejak berakhirnya Perang Dingin, di mana pusat gravitasi ekonomi dan persaingan geopolitik bergeser ke Asia.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, menyatakan bahwa kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis pada akhir Mei lalu bukan sekadar lawatan bilateral biasa,.

Melainkan langkah strategis menempatkan Indonesia sebagai perancang tatanan ekonomi dan keamanan Indo-Pasifik abad ke-21.

Menurut Azis, dunia saat ini berada pada titik belok terpenting sejak berakhirnya Perang Dingin, di mana pusat gravitasi ekonomi dan persaingan geopolitik bergeser ke Asia.

"Di tengah perubahan itu, Indonesia tidak lagi berdiri di pinggiran peta. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, posisi geografis yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik, serta cadangan mineral strategis yang menjadi bahan baku industri masa depan, Indonesia semakin dipandang sebagai salah satu negara kunci dalam percaturan Indo-Pasifik," kata Azis kepada wartawan, Rabu (3/6/2026).

"Kesadaran itulah yang tampaknya menjadi landasan dari diplomasi yang dijalankan Presiden Prabowo," ujarnya menambahkan. 

Azis menilai, pola diplomasi yang dijalankan pemerintah saat ini sangat menarik karena Indonesia tidak mengekor pada satu kutub kekuatan dunia. 

Baca juga: Feri Amsari Penasaran Alasan Prabowo Sering ke Prancis: Agak Janggal di Mata Publik

Di saat dunia terbelah, Indonesia justru memperluas lingkaran kemitraan.

Menurut dia, bangsa yang ingin menjadi aktor strategis tidak boleh terjebak menjadi negara satelit bagi pihak mana pun.

Lebih lanjut, Azis menyoroti pentingnya peran Perancis di mata Indonesia. 

Prancis bukan hanya kekuatan ekonomi Eropa, tetapi juga anggota tetap Dewan Keamanan PBB, pemimpin teknologi pertahanan, dan satu-satunya negara besar Uni Eropa yang memiliki kehadiran militer langsung di Indo-Pasifik.

Oleh karena itu, pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyebut Indonesia sebagai mitra strategis utama di Indo-Pasifik bukanlah sekadar basa-basi diplomatik.

"Pernyataan itu mencerminkan cara pandang baru terhadap posisi Indonesia dalam konfigurasi kekuatan global yang sedang berubah. Indonesia tidak lagi dilihat semata sebagai pasar yang besar. Indonesia semakin dipandang sebagai salah satu penentu keseimbangan kawasan," ucapnya. 

Baca juga: Prabowo Kembali dari Prancis, Bawa Kesepakatan Investasi Senilai USD 3,5 Miliar

Azis mengungkapkan, pandangan ini diwujudkan secara konkret melalui kesepakatan kedua negara untuk meningkatkan hubungan menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif. 

Cakupan kerja samanya pun sangat luas, mulai dari pertahanan, keamanan maritim,energi bersih, mineral kritis, hingga riset dan inovasi.

Azis mengingatkan publik untuk melihat gambaran besar dari lawatan kenegaraan ini. Selama ini, diplomasi kerap hanya dinilai dari seberapa banyak nota kesepahaman (MoU) yang diteken atau besaran nilai investasi yang masuk.

Padahal, berkaca dari sejarah negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura, diplomasi adalah instrumen transformasi, bukan sekadar transaksi.

Azis menyebut, cadangan nikel, tembaga, dan bauksit yang dimiliki Indonesia baru akan menjadi kekuatan riil jika terhubung dengan transfer teknologi dan industrialisasi.

Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa makna paling penting dari kunjungan tersebut bukan terletak pada angka miliaran dolar yang diumumkan kepada publik.

"Nilai sesungguhnya terletak pada kemungkinan lahirnya transfer teknologi, penguatan kapasitas industri nasional, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta terbukanya jalan bagi Indonesia untuk naik dari pemasok bahan mentah menjadi pemain penting dalam rantai nilai global," tegas Azis.

Baca juga: Sosok Dino Patti Djalal, Dulu Kritik Menlu Sugiono kini Kritik Kunjungan Luar Negeri Prabowo

Selain ekonomi, Azis juga menekankan dimensi keamanan pertahanan. Di era modern, ancaman tidak hanya berupa konflik militer konvensional, tetapi juga gangguan rantai pasok, perang siber, dan krisis energi.

Ia menambahkan, keamanan nasional tidak lagi dapat dipisahkan dari kekuatan ekonomi. Kerja sama pertahanan dengan Prancis, kata Azis, adalah upaya membangun kapasitas nasional di tengah dunia yang tak pasti.

"(Lawatan Prabowo ke Prancis) akan dibaca sebagai salah satu momen ketika Indonesia mulai melangkah dari ruang penonton menuju ruang perancang; dari sekadar mengikuti arus perubahan dunia menjadi salah satu bangsa yang ikut menentukan arahnya," imbuhnya. 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved