Prabowo Sebut Aneh soal Dirinya ke Luar Negeri Jadi Sorotan: Jokowi Jarang Pergi Disalahkan
Prabowo Subianto menanggapi soal dirinya menjadi sorotan karena sering bepergian ke luar negeri.
Sejak menjabat sebagai Presiden per 20 Oktober 2024 sampai 30 Mei 2026 atau 587 hari, Prabowo tercatat telah melakukan kunjungan ke luar negeri sebanyak 49 kali.
Dari 49 kali kunjungan ini, ada 28 negara yang didatangi Prabowo lebih dari sekali, sehingga total durasi kunjungan ke luar negeri tersebut mencapai akumulasi sekitar 95 hari.
Melalui statistik tersebut, tercatat 1 dari 6 hari yang dilalui Prabowo sebagai Presiden RI dihabiskan untuk kunjungan ke luar negeri.
Demi efisiensi uang negara, Dino Patti Djalal pun memberikan lima saran kepada Prabowo agar diplomasi Indonesia tetap kuat tanpa harus boros anggaran.
Pertama, berkomunikasi lewat video call.
"Suatu kunjungan bilateral biasanya hanya berpusat pada pembicaraan inti selama satu atau dua jam. Selebihnya basa-basi, jamuan, dan seremonial yang biasanya tidak perlu."
"Dengan satu video call yang bernilai nol rupiah, negara praktis menghemat ratusan miliar," ungkap Dino melalui akun media sosial resminya pada Sabtu (30/5/2026).
Saran kedua adalah memanfaatkan momen forum internasional.
Dino mengusulkan Formula 1+8 yang memiliki arti agar dalam satu kunjungan acara internasional menghasilkan delapan pertemuan bilateral dengan pemimpin negara lainnya yang hadir di lokasi yang sama.
Cara ini dinilai jauh lebih efisien daripada menyambangi tiap negara para pemimpin yang dimaksud.
Ketiga, Prabowo diminta agar transparan dan terbuka kepada rakyat Indonesia mengenai agendanya ke luar negeri.
Keempat, Dino menyarankan supaya Prabowo lebih banyak mengundang dan menjamu tamu negara di tanah air.
Dino mencontohkan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang sangat aktif menerima kunjungan pemimpin dunia di Beijing.
Cara ini ampuh menghemat anggaran sekaligus menunjukkan wibawa Indonesia sebagai tuan rumah.
Saran terakhir adalah, Prabowo sebaiknya mendelegasikan tugas tersebut kepada Menteri Luar Negeri Sugiono.
Dengan begitu, beban jadwal Presiden berkurang, anggaran lebih hemat, dan diplomasi Indonesia di tingkat global tetap berjalan lancar.
(Tribunnews.com/Pravitri Retno W/Bobby Wiratama)