Jumat, 29 Agustus 2025

Pekan Depan Bakal Ada 9 Aset Kripto yang Gelar ICO, Mau Ikutan? Berikut Tipsnya

Dunia bisnis aset kripto sekarang semakin semarak, saat ini sudah banyak jenis koin yang beredar.

Editor: Hendra Gunawan
IST
Ilustrasi aset kripto. 

Ia mengisahkan, terakhir kali ikut dalam proses ICO salah satu proyek NFT marketplace, dirinya berhasil untung besar.

Bermodalkan US$ 1.252 pada proses ICO tersebut, ketika launching dua bulan kemudian, dananya mengalami menjadi hampir US$ 200.000.

“Sebagai investor awal dalam proyek tersebut, kita akan mendapatkan harga yang jauh lebih murah daripada harga saat keluar (launching).

Tetapi ikut ICO bukan tanpa risiko, karena tidak semua proyek yang ingin launching aset kriptonya itu legit,” jelas Afid kepada Kontan.co.id, Sabtu (15/1).

Ia menjelaskan, tidak jarang proses ICO sebenarnya hanya proyek yang memang dibuat untuk melakukan scam.

Oleh karena itu, ia menyarankan para investor yang ingin mencoba untuk melakukan beberapa analisa pada proyek tersebut.

Pertama, melakukan analisa kontrak. Harus dipastikan kontrak yang terdapat pada proyek tersebut sudah diaudit oleh perusahaan audit seperti CertiK, Hacken, dsb.

Selain itu, kontrak juga harus terverifikasi di mana bisa dilihat dari blockchain explorer proyek tersebut serta bukan hasil menduplikat dari kontrak sejenis.

Tak hanya itu, token juga harus honeypot karena jika tidak, maka user hanya bisa membeli tapi tidak bisa menjualnya.

Kedua, lakukan analisa hodler atau siapa saja yang ikut menanam dana di proyek tersebut. Afid merekomendasikan, wallet developer sebaiknya berisi kurang dari 5%.

Hal ini mengindikasikan distribusi token sehat dan mengurangi risiko terjadinya dump sewaktu-waktu karena sebagian besar token di pegang oleh developer.

Ketiga, investor melakukan analisa likuiditas. Menurut Afid, idealnya sebanyak 65% token terkunci untuk likuiditas karena jika likuiditas tidak cukup, memungkinkan proyek rug-pull alias proyek terbengkalai dan dana dibawa kabur developer.

Untuk mengetahuinya, bisa melakukan pengecekan pada platform poocoin.com (BSC),pinksale (BSC) dxtools.io (ethereum).

Keempat, analisa website dan media sosial token tersebut. Sebuah proyek umumnya memiliki komunitas online, umumnya berada di telegram.

Afid bilang, investor harus rajin memeriksa apakah grup tersebut aktif berkomunikasi dan berdiskusi atau hanya diisi bot. Jika komunitas pasif dan tidak kuat, sebaiknya berhati-hati.

Halaman
123
Sumber: Kontan
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan