Bitcoin Diprediski Beralih Aset Risk-Off di Tengah Bullishnya Pasar Kripto

Bitcoin dan sejumlah altcoin tengah mengalami penguatan harga, namun kondisi tersebut tak lantas mengamankan posisi pasar kripto dari risiko risk off.

Shutterstock
Ilustrasi Bitcoin. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON - Perdagangan pasar kripto dalam satu pekan terakhir terpantau bullish atau melonjak, dipimpin Bitcoin yang melesat naik dan bertengger di kisaran 23.261 dolar AS dalam 24 jam terakhir.

Kenaikan serupa juga dialami oleh beberapa altcoin dalam perdagangan CoinMarketCap, Selasa (9/8/2022). Harga Ethereum melambung 7,58 persen dalam sepekan hingga melesat menjadi 1.704 dolar AS.

Sementara Solana naik lebih tinggi sekitar 1.28 persen menjadi 40.98 dolar AS.

Menyusul yang lainnya aksi bullish juga dialami uang kripto berbasis meme yaitu Dogecoin yang mencatatkan kenaikan sebanyak 5.49 persen menuju 0.07018 dolar AS dan dan Shiba Inu yang merangkak 3,82 persen ke level 0.00001218 dolar AS.

Baca juga: Jangan Terkecoh Bullish Bitcoin, Ternyata Seperti Ini Prediksi Pasar Cryptocurrency Pada 2027

Meskipun pergerakan Bitcoin dan sejumlah altcoin tengah mengalami penguatan harga, namun kondisi tersebut tak lantas mengamankan posisi pasar kripto dari risiko risk off.

Menurut ahli strategi komoditas senior di Bloomberg Mike McGlone, Bitcoin dan mata uang kripto lainnya kemungkinan besar akan bertransisi dari aset risk-on ke risk-off pada paruh kedua 2022.

“Saya melihatnya bertransisi menjadi lebih dari aset berisiko seperti obligasi dan emas, kemudian lebih sedikit dari aset berisiko seperti pasar saham,” jelas McGlone dikutip dari Cointelegraph.

Sebagai informasi Risk off adalah situasi di mana para investor dan trader lebih dominan mengambil langkah untuk menghindari risiko dengan cara menarik semua aset kripto dari pasar cryptocurrency kemudian menjualnya.

Menurut McGlone, munculnya risiko risk off pada pasar kripto dapat terjadi karena imbas lonjakan inflasi.

Meningkatnya angka inflasi di sejumlah negara, memaksa bank sentral untuk memperketat kebijakan moneternya dengan menaikan suku bunga acuannya untuk mengendalikan percepatan laju inflasi.

Seperti bank sentral Amerika, The Fed yang baru – baru ini menaikan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin usai pemerintah AS mengumumkan pembengkakan laju inflasi hingga tembus 9,1 persen.

Tak hanya itu bank sentral Inggris juga telah mengerek naik suku bunga sebanyak 50 basis poin menjadi 1,75 persen.

Meski cara ini dapat mengerem percepatan laju inflasi, namun sayangnya langkah ekstrem tersebut dapat membuat keberadaan aset berisiko seperti obligasi, emas dan cryptocurrency terancam.

Mengutip dari Cointelegraph, situasi seperti ini bisa terjadi lantaran kenaikan suku bunga dapat mendorong penguatan mata uang fiat.

Hal tersebut yang kemudian memicu para investor untuk melakukan aksi jual pada aset kriptonya dan berpaling ke sejumlah aset safe haven seperti dolar, euro, atau pound.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved